Setelah sesi interogasi dengan Andrew, Alberu kini berada di Aula Pertemuan.
"Kalau begitu, inilah tim yang akan kita kirim pertama kali ke kuil."
"Aku juga akan pergi." Suara lembut memecah keheningan di Aula Pertemuan.
Semua orang menoleh kepada orang yang berani menentang keputusan putra mahkota. Di sana berdiri tunangan putra mahkota dengan segala kemegahannya.
Daren masih berlumuran darah. Dia tau Alberu tidak akan membiarkannya pergi jika dia tidak datang sekarang.
"Daren!" Alberu langsung menghampiri daren, mengambil daren dari pelukan Hilsman. Dia bahkan melotot ke arah Hilsman sebelum menutup pintu tepat di depan wajahnya. Daren masuk ke ruangan sambil dibantu Hilsman.
Dia masih berlumuran darah, tetapi wajahnya sudah bersih. Dia terlihat sepucat salju. Bahkan bibirnya membiru. Badan nya gemetar dan kulitnya sedingin es. "Kenapa kamu datang ke sini dalam kondisi seperti ini?"
Alberu membantu daren duduk. Daren menggelengkan kepalanya. "Karena aku tau kamu pasti sudah membuat keputusan sekarang."
Alberu mengerutkan kening. "Sama sekali tidak. Bagaimana kamu akan pergi dalam kondisi seperti ini? Kamu tampak seperti akan pingsan karena hembusan angin."
Daren hanya tersenyum. "Alberu, aku harus pergi." Alberu mengerutkan kening dan menatap daren. Dia tau tatapan ini.
Wajah daren menunjukkan dia tidak akan berubah pikiran. "Bisakah kamu setidaknya memberi tau aku alasan kenapa kamu harus pergi?"
daren tersenyum misterius. "DIA tidak bisa melihat cincin itu." Alberu mengerutkan alisnya. "Cincin apa?"
Daren memegang tangan Alberu dan tersenyum padanya. Menunjukkan bahwa hanya itu yang bisa dia katakan. Pikiran Alberu kacau. Kemudian dia mendekatkan diri ke telinga Alberu.
"Dan akan lebih baik jika tunangan putra mahkota pergi berperang secara langsung." Bisik daren.
Alberu mengerutkan kening hendak protes. Dia tidak bisa membiarkan kekasihnya pergi ke tempat berbahaya seperti itu.
"Tapi dare-" Dia hendak protes namun membeku saat Daren memberinya ciuman singkat di pipinya saat dia mencondongkan tubuhnya dari telinganya.
Pipi Alberu memerah saat Daren mulai menatapnya dengan mata berbinar.
"Sialan. Kamu benar-benar tau bagaimana cara mendapatkan apa yang kamu inginkan. Benar kan?" gerutu Alberu sementara Daren hanya tersenyum.
"Baiklah." Alberu mendesah. "Tapi 5 menit. Itu saja yang bisa kuberikan padamu. Setelah 5 menit kau harus kembali dan tidak boleh masuk lagi." Mereka saling berbisik. Daren mengangguk, puas. Karena dia tau lebih dari siapa pun, pintu itu tidak akan terbuka lagi setelah mereka masuk.
Hal yang sama terjadi di kehidupan mereka sebelumnya. Mereka mengira itu hanya 5 menit, tapi keadaan malah memburuk.
Saat itu daren tidak terluka sehingga Alberu tidak banyak melawan. Ditambah lagi daren mungkin lemah tapi dia adalah salah satu orang dengan mentalitas terkuat.
Kemudian Alberu menghela napas dan mengubah daftar sebelumnya, membaca daftar itu dengan suara keras lagi. Daren sedang duduk di kursinya sementara dia berdiri.
Semua orang menatap mereka dengan tatapan menggoda. Namun Daren tidak bisa memprotes Alberu. Dia harus masuk ke dalam kuil.
"Tidakkah menurutmu jumlah orang ini tidak cukup?" Ratu Litana tidak dapat menahan rasa cemas setelah melihat daftar nama ini. Namun, Alberu menjawab dengan tenang, tanpa ragu-ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
In another life
Fantasy"Daren!" 'kenapa?' "Bunuh pengkhianat itu!" 'Yang kulakukan hanyalah mencintaimu dengan kemampuan terbaikku, jadi mengapa?' "Kamu sebaiknya mati saja!" 'Aku berharap-' "Sungguh tidak enak dipandang." Awan berwarna abu-abu dan hujan turun deras, kare...
