Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAPPY READING GUYYSSS!!!!
Pukul 07.00 Clarissa sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Clarissa berjalan santai seraya melihat pemandangan hijau yang menyapa penglihatannya. Clarissa merasakan getar pada bagian sakunya. Tanpa dilihat pun Clarissa sudah tau pelaku dibalik getar ponselnya itu. Ia menarik napas dalam saat getar ponselnya tidak kunjung berhenti.
"Suruh siapa buat aku kesel." Clarissa mengambil benda pipih miliknya lalu menekan tombol off yang terletak pada bagian samping. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan akibat dari tindakannya tersebut.
Ya. Altair menjemputnya secara paksa walaupun Clarissa sudah menolak ajakanya. Clarissa tau sekeras apapun penolakan yang ia lakukan tidak memiliki arti di mata Altair si pemaksa itu.
Clarissa benci saat dirinya disepelekan oleh Altair. Clarissa benci saat Altair bertindak semaunya kepada dirinya, tetapi Clarissa bisa apa jika sudah berhadapan dengan manusia arogan dan angkuh itu. Clarissa seperti tidak ada harga dirinya di depan Altair.
Sampai di kelas Clarissa melemparkan tas punggungnya lalu meletakkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Clarissa mulai memejamkan matanya mencoba untuk tidur walaupun hanya sebentar. Altair membuat hari-harinya kian buruk. Clarissa butuh istirahat dari dunianya yang suram ini.
"Cla lo baik-baik aja?"
Clarissa yang mengenali suara milik Dara hanya menganggukkan kepala saja. Ia sudah tidak ada tenaga untuk berbicara walaupun hanya sepatah kata.
"Perkara Altair sok jago itu?"
"Dara jaga bicara kamu. Aku gak mau kamu kena masalah gara-gara mulutmu yang gak bisa dijaga itu." Clarissa berbicara dengan mata yang tetap tertutup. Ia semakin menyamankan posisi tidurnya.
"Mulut tuh cowok aja bisa bikin masalah apalagi mulut gue," timpal Dara tidak terima.
"Hmmm ..."
Clarissa hanya berdehem saja tanpa berniat membalas kalimat Dara yang hanya memperkeruh keadaan. Clarissa justru takut jika kalimat sampai ke telinga Altair. Cowok itu pasti akan mengamuk seperti orang kesetanan. Altair paling tidak suka jika namanya dibicarakan buruk oleh orang lain. Jiwa psikopatnya langsung muncul.
"Cla gue gak terima lo diginiin terus. Lo harus lawan, Cla!" seru Dara heboh.
Clarissa tidak menanggapi ia semakin menyamankan posisi tidurnya. Menutup telinga dari ocehan beruntun Dara yang tidak berhenti. Dara yang melihat itu menjadi gusar sendiri. Ia mencubit lengan Clarissa dengan gemas.
"Auuu sakit, Dar!" Clarissa mengaduh kesakitan. Memberikan elusan pada lengannya yang terkena serangan maut dari Dara.
"Lo dengerin gue gak sih?!"
Clarissa memutar bola matanya malas. "Dengerin, nih telinga aku ada di sini." ucap Clarissa menunjuk kedua telinganya.
"Lo harus lawan dia Cla, Altair udah keterlaluan sama lo!"