49 | keibuan

1.7K 18 2
                                        

Pintu tertutup dengan bunyi yang pelan… namun dentumannya menggema keras di kepala Arven. Suasana ruangan mendadak terasa sesak. Napasnya tercekat. Tatapan Cellyne tadi… bening, namun tajam. Sunyi, namun penuh luka. Bukan marah yang ia tunjukkan—melainkan kecewa, dan itu jauh lebih menyakitkan.

Arven menatap pintu yang kini tertutup, seolah berharap Cellyne akan kembali masuk. Tapi ia tahu… itu tak akan terjadi.

"Aku... nggak nyangka dia bakal datang pagi ini," ucap Camellia pelan, suaranya mengandung nada pura-pura bersalah, namun tidak terdengar benar-benar menyesal.

Arven membalikkan badan perlahan, menatap Camellia yang masih duduk dengan santainya di kursi. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya masih menyisakan bekas kopi, dan sisa sarapan mereka masih ada di meja—jejak dari sesuatu yang seharusnya tak pernah terjadi.

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Arven, suaranya berat.

Camellia mengangkat bahu pelan. "Kupikir Bapak butuh teman. Setelah semalam... setelah semua tekanan..."

"Tapi bukan ini caranya!" Arven membentak, nadanya naik untuk pertama kalinya sejak pagi. "Kamu tahu aku sedang kacau... dan kamu—kamu manfaatkan itu!"

Camellia berdiri, wajahnya berubah. Senyum manisnya hilang. Diganti tatapan tajam penuh tantangan.

"Aku tidak memaksa apa pun, Arven. Kamu yang menyebutku 'Cellyne'. Kamu yang menarikku masuk ke kamar itu. Dan sekarang kamu menyalahkanku?"

Arven terdiam. Kepalanya tertunduk, wajahnya dikepalkan di kedua tangan. Gambar wajah Cellyne terus terlintas di benaknya—tatapan kosong yang penuh luka, tangan kecil yang membawa sarapan, cinta tulus yang ia hancurkan hanya dalam satu malam.

"Aku sudah menyakitinya..." bisiknya lirih.

"Dan kamu akan menyakitinya lagi kalau tetap berpura-pura mencintainya," jawab Camellia tajam. "Kau dan dia tidak sejalan, Arven. Cellyne terlalu lembut untuk dunia sepertimu."

"Diam." Arven mendesis. "Kamu bukan siapa-siapa yang berhak bicara tentang dia."

Camellia tertawa kecil, sinis. "Kalau aku bukan siapa-siapa, kenapa kamu memelukku semalam seperti kamu butuh aku lebih dari siapa pun?"

Arven menatap Camellia dengan mata yang sekarang mulai menunjukkan kemarahan yang nyata. “Karena aku sedang bodoh. Karena aku sedang kehilangan arah. Tapi sekarang aku sadar. Kamu bukan Cellyne. Dan kamu tidak akan pernah bisa jadi dia.”

Camellia terdiam sejenak, lalu menyeringai kecil. "Tapi aku masih di sini. Dan dia baru saja pergi."

Arven mengepalkan tangan. Ia ingin mengusir Camellia saat itu juga. Tapi rasa bersalah telah lebih dulu melumpuhkan langkahnya.

Dan di balik itu semua... ada satu kesadaran yang menghantam keras:
Cellyne mungkin akan memaafkannya. Tapi tak akan pernah benar-benar kembali dengan utuh.

Langit masih pagi. Matahari bahkan belum naik sempurna. Tapi langkah Cellyne terasa berat, seolah malam masih menggantung di pundaknya.

Mobilnya berhenti di halaman rumah besar itu. Rumah yang biasanya menyambutnya hangat, kini terasa asing. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil. Tatapannya kosong, bibirnya kaku. Sepanjang perjalanan, ia tak menangis—bukan karena tidak ingin, tapi karena hatinya sudah terlalu sesak untuk mengeluarkan air mata.

Pintu rumah terbuka perlahan.

"Nyonya?"
Salah satu pembantu rumah, Mbak Wati, langsung menyambutnya dari dalam dengan wajah bingung. "Kok nyonya sudah pulang? Dari mana? tuan belum pulang juga..."

Cellyne tidak menjawab. Ia hanya berjalan perlahan masuk, melewati ruang tamu, lalu melepas sepatunya tanpa suara.

"Nyonya kenapa?" tanya pengasuh bayi kecilnya, Bi Asih, yang sedang menggendong bayi laki-laki kesayanganya—Arkanza.

Cellyne menghentikan langkah. Matanya menatap bayi itu sejenak—anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang luka yang sedang mengoyak ibunya. Senyumnya... polos, hangat... seperti Arven.

Dan saat itulah, akhirnya air mata Cellyne jatuh. Tanpa isak, tanpa suara. Hanya tetes-tetes yang jatuh satu per satu, seolah mengalir langsung dari hati yang retak.

Bi Asih mendekat dengan panik. "Nyonya kenapa? Ada apa? Tuan kenapa?"

Cellyne menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum—senyum yang bahkan dirinya sendiri tahu palsu.

"Nggak apa-apa... aku cuma... lelah..." ucapnya serak.

Kemudian ia melangkah ke arah tangga.

Sesampainya di kamar, Cellyne menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Tangannya masih menggenggam ponsel—layar hitam tanpa pesan masuk dari suaminya. Ia memeluk bantal, membenamkan wajah di sana, dan akhirnya... tangis itu pecah juga. Tertahan, teredam, tapi nyata.

Di luar kamar, para pembantu hanya bisa saling pandang, bingung dan cemas.

Rumah itu mungkin masih berdiri megah. Tapi pagi ini, hatinya yang dulu menjadi pondasinya... sedang runtuh perlahan.

Tangis Cellyne masih teredam di dalam kamar. Ranjang besar itu tak mampu memeluk hatinya yang runtuh. Ia memeluk bantal, tapi rasanya kosong. Matanya sembab, napasnya berat, dan hatinya masih dipenuhi bayang-bayang pagi tadi.

Pintu kamar perlahan diketuk.

Tok... tok...

"Nyonya?"
Suara itu lembut, hangat... milik seseorang yang selama ini diam-diam menjadi tempat berlabuh kecil di rumah itu.
"Ini Bi Asih, Nya..."

Cellyne tak menjawab.

Namun Bi Asih tetap masuk perlahan. Wanita paruh baya itu membawa segelas air putih dan sapu tangan kecil. Saat melihat Cellyne tergolek di ranjang, wajahnya langsung berubah khawatir.

Tanpa banyak tanya, Bi Asih duduk di pinggir ranjang. Tangannya yang keriput menyentuh lembut punggung Cellyne, seperti seorang ibu yang menenangkan anak gadisnya sendiri.

"Air matanya jangan disimpan sendirian, Nduk..." bisiknya pelan. "Kadang... yang bikin luka makin perih itu bukan kejadian, tapi karena kita gak tahu harus ngadu ke siapa..."

Cellyne menggigit bibirnya. Air matanya kembali mengalir pelan. Ia membalik tubuhnya perlahan, memandang Bi Asih dengan tatapan retak.

"Bi... aku capek..." bisiknya nyaris tak terdengar.
"Rasanya... sakit banget..."

Bi Asih tak banyak bicara. Ia langsung membuka tangannya, mengajak Cellyne mendekat. Dan di detik itu, Cellyne bersandar di pelukan Bi Asih—pelukan yang tak menuntut penjelasan apa pun, hanya memberi ruang untuk menangis.

"Buang aja air matanya di sini, Nduk..." ucap Bi Asih lembut sambil mengelus rambut Cellyne. "Biar hati njenengan gak sesak lagi..."

Tangis Cellyne pecah di pelukan itu. Tangis yang selama ini ia tahan karena ingin terlihat kuat, karena tak ingin menyusahkan siapa pun. Tapi pagi itu, ia hanya seorang perempuan yang hatinya patah... dan Bi Asih ada di sana sebagai satu-satunya pelukan yang terasa seperti rumah.

















Malem ini sampai sini dulu yaa readers.
Masih kepo sama kelanjutannya? sabar nunggunya yaa, ku bikin draft dulu yang banyak hehehe :)

-TBC-

AYAH KEKASIHKUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang