48|Cemburu

1.8K 10 0
                                        

'tok...tok...tok...kriettt' pintu terbuka dan terlihat seseorang yang berhenti di ambang sana.

Flashback POV Cellyne

Sudah lewat tengah malam.

Cellyne duduk di ujung ranjang, masih mengenakan daster tipis berwarna biru pucat yang seharusnya jadi penenang tidur. Tapi malam ini, ranjang terasa terlalu luas, terlalu dingin. Arven belum juga pulang. Sejak pagi ia berangkat ke kantor untuk pertama kalinya setelah koma, Cellyne yakin suaminya akan kembali lebih awal, mengingat dokter menyarankan untuk tidak terlalu lelah.

Namun waktu terus berjalan. Jarum jam bergerak perlahan tapi menyayat. Lampu kamar tetap menyala, dan mata Cellyne menolak terpejam.

Ponsel di tangannya sudah puluhan kali ia tatap. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Hanya layar yang terus menampilkan angka waktu yang semakin larut.

"Kenapa Tuan belum pulang juga ya?" batinnya. Ia mencoba untuk tidak berprasangka, mencoba untuk percaya bahwa suaminya hanya terlalu sibuk.

Pagi pun datang tanpa tidur. Langit mulai berganti warna saat Cellyne turun ke dapur. Matanya sembab, tubuhnya lelah, tapi tangannya tetap bekerja. Ia menggoreng telur, memotong buah, dan menuangkan kopi ke dalam termos kecil kesukaan Arven. Ia bahkan memilihkan kemeja putih favorit suaminya, yang baru saja disetrika kemarin.

Ia memasukkan semuanya ke dalam tas kecil—sarapan hangat, pakaian ganti, dan... secercah harapan bahwa Arven akan menyambutnya dengan senyum.

Pagi itu, Cellyne menyetir sendiri ke kantor suaminya. Ia tak pernah datang ke sana tanpa kabar sebelumnya, tapi pagi ini... ia hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Atau mungkin, ia hanya ingin merasa dibutuhkan, meski sedikit.

Sesampainya di gedung tinggi tempat Arven bekerja, para staf yang mengenalnya tampak sedikit terkejut.

"Bu Cellyne... selamat pagi," sapa salah satu resepsionis, gugup.

Cellyne tersenyum sopan. "Pak Arven masih di atas?"

"Eh... sepertinya iya, Bu. Beliau belum turun sejak semalam."

Jawaban itu menghentak jantung Cellyne sesaat. Ia mengangguk pelan, kemudian berjalan ke lift tanpa berkata-kata.

Sepanjang perjalanan menuju lantai paling atas, hatinya berdetak kencang. Mungkin hanya khawatir berlebihan... mungkin Arven hanya tertidur di ruangannya. Tapi entah kenapa... firasatnya tak bisa diredam.

Dan saat pintu lift terbuka, langkahnya terasa berat. Tangannya gemetar saat hendak membuka pintu ruang kerja Arven.

Ia tak tahu apa yang akan ditemuinya di balik pintu itu. Tapi pagi ini, ia siap menghadapi kenyataan—seberapa pun pahitnya.

Langkah kaki Cellyne terdengar nyaris tak bersuara di lorong kantor yang sunyi. Pagi masih terlalu muda untuk hiruk pikuk kantor, tapi bagi hatinya... semuanya sudah terlalu bising.

Tangan kirinya menggenggam tas berisi sarapan dan pakaian ganti, sementara tangan kanannya menyentuh gagang pintu ruang kerja Arven dengan ragu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantung yang tak terkendali.

'tok...tok...tok...' ia sudah mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam.

Perlahan, ia dorong pintu itu.

Cahaya remang dari lampu gantung ruangan menyambutnya. Dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya... membuat langkahnya membeku.

Di meja panjang tempat Arven biasa menandatangani kontrak dan membaca laporan, duduklah dua orang.
Arven, suaminya—dengan kemeja yang tampak tidak begitu rapi, rambut sedikit acak, wajahnya tampak lelah.
Dan di seberangnya... Camellia.

Dengan senyum kecil, Camellia menyuapkan sesendoknasi dengan lauk sayuran ke mulutnya sendiri, sesekali mengobrol sambil menyeruput kopi dari cangkir yang sama seperti yang biasa digunakan Arven. Di meja itu, ada dua piring, dua sendok, dua cangkir, dan... aroma sarapan yang baru dimasak—entah kapan, oleh siapa.

Arven menoleh saat mendengar pintu terbuka. Matanya melebar.

"Cellyne...?"

Camellia juga refleks menoleh, wajahnya sedikit kaget tapi cepat tersenyum—senyum sopan yang terlalu manis untuk pagi seperti ini.

Cellyne berdiri diam, matanya menatap keduanya tanpa kata. Tangannya yang memegang tas mulai gemetar.

"Aku... aku bawakan sarapan dan baju ganti untukmu," ucap Cellyne, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar. Ia mengangkat tas kecil di tangannya, lalu meletakkannya pelan di meja dekat pintu.

Tak ada air mata yang jatuh, tidak juga teriakan. Tapi tatapannya cukup untuk menyampaikan luka yang mulai menganga.

"Aku pikir... kamu kelelahan... aku pikir kamu tidur di kantor karena terlalu sibuk..."
Matanya beralih ke Camellia, kemudian kembali ke Arven. "Ternyata... kamu hanya tidak ingin pulang."

Camellia membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.

Arven berdiri, tampak ingin mendekat. "Cellyne, tunggu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

Cellyne tersenyum kecil—senyum yang getir dan mengandung terlalu banyak rasa sakit.

"Aku tidak mau berpikir apa-apa, Arven. Karena kalau aku mulai berpikir... aku takut akan membencimu."

Lalu ia membalikkan badan, meninggalkan ruangan itu dengan langkah perlahan tapi pasti. Sarapan buatannya tetap di meja dekat pintu—tak tersentuh, seperti cintanya yang pelan-pelan juga mulai tak dianggap.






























-TBC-

AYAH KEKASIHKUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang