Pelukan Bi Asih benar-benar menenangkan. Sesaat, Cellyne merasa ada bahu tempat ia bisa bersandar tanpa harus menjelaskan apa-apa. Tapi setelah tangisnya reda sedikit, hening menyusup masuk ke kamar. Hening yang bukan sekadar sunyi… melainkan kosong.
Cellyne melepaskan diri perlahan, menyeka wajahnya dengan sapu tangan yang tadi dibawa Bi Asih.
"Maaf, Bi… aku malah menyusahkan."
Bi Asih menggeleng, menatapnya lembut. "Nduk, njenengan itu bukan nyusahin. Wong njenengan masih muda, hatinya gampang rapuh. Wajar kalau jatuh. Yang penting, jangan simpan semua sendirian."
Kata-kata itu membuat dada Cellyne semakin sesak. Ia ingin bercerita, ingin mengeluarkan semuanya—tentang pagi tadi, tentang Camellia, tentang rasa hancur yang tak bisa ia kendalikan. Namun bibirnya kelu. Bagaimana ia bisa menceritakan aib rumah tangganya sendiri?
Ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar. Layar menyala, menampilkan nama Arven.
Cellyne terpaku. Dadanya berdegup keras. Jari-jarinya bergetar, tapi ia tak kunjung mengangkatnya. Bi Asih yang melihat hanya bisa menghela napas pelan.
"Apa pun yang terjadi, Nduk… jangan sampai njenengan hilang harga diri karena laki-laki," ucap Bi Asih dengan nada tegas namun penuh kasih.
Getaran ponsel berhenti. Layar kembali gelap. Dan dalam kegelapan itu, air mata Cellyne kembali jatuh—tanpa suara, hanya meleleh di pipinya.
𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆🌷͙⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ
Di sisi lain, di kantor tempat ia berada, Arven masih duduk terpaku di kursi. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, matanya kosong. Camellia sudah pergi, meninggalkan aroma parfum wangi bunga lavender samar yang justru membuatnya semakin muak pada dirinya sendiri.
Teleponnya tak diangkat. Pesannya tak dibalas. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arven benar-benar merasa takut kehilangan sesuatu yang paling berharga.
Ia berdiri, mengambil kunci mobil dengan tangan gemetar. Tapi sebelum keluar, langkahnya terhenti.
Di meja, masih ada cangkir kopi milik Camellia. Pandangannya tertuju ke sana, lalu ia meraih cangkir itu dan melemparkannya ke dinding. Pecahannya berserakan di lantai, seakan memantulkan amarah dan penyesalannya sendiri.
"Astaga… Cellyne…" suaranya parau, hampir seperti rintihan.
"Aku sudah menghancurkanmu… dan mungkin aku tak bisa lagi memperbaiki apa pun."
𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆🌷͙⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ
Sore harinya, Cellyne masih berdiam diri di kamar. Bi Asih bolak-balik membawa makanan, tapi hanya disentuh sedikit. Bayinya sudah tertidur pulas di kamar sebelah.
Di meja rias, cermin memperlihatkan wajah Cellyne yang sembab. Tapi di balik kelelahan itu, ada satu hal yang mulai tumbuh pelan-pelan: kesadaran.
Bahwa jika ia bertahan dalam luka ini… ia mungkin akan hancur lebih dalam lagi.
Tangannya meraih sebuah buku catatan kecil—tempat ia biasa menuliskan pikiran dan doa-doanya. Ia membuka halaman baru, menuliskan dengan tangan bergetar:
"Jika cinta berarti mengorbankan diri hingga hilang, apakah itu masih layak disebut cinta?"
Air matanya jatuh lagi, membasahi kertas. Tapi kali ini, bukan hanya tangis… melainkan titik awal dari sebuah keputusan yang perlahan mulai terbentuk di hatinya.
𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆🌷͙⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ
Senja turun perlahan, langit di luar jendela kamar Cellyne memerah keemasan. Ia masih duduk di tepi ranjang dengan buku catatan kecil di tangan. Pikirannya kusut, hatinya penuh luka.
KAMU SEDANG MEMBACA
AYAH KEKASIHKU
Cinta‼️🔞🔞❌ Cellyne Adellina, seorang gadis berusia 19 tahun, hidup dengan beban yang terlalu berat untuk usianya. Kedua orang tuanya menghilang tanpa kabar sejak ia masih bayi, meninggalkannya dalam asuhan nenek yang kini sakit-sakitan dan bibinya yang...
