sebelum itu..
parti dimana oline mengalami kecelakaan dan bundir itu hanya mimpi oline saja ya manteman.
lanjut
Oline sudah berada di kamarnya dan perlahan mendudukkan dirinya di sofa kamarnya. ia menatap semua lukanya di cermin, cukup parah pikirnya.
"Gini amat ya" Ucapnya, dirinya mengambil kotak p3k dengan sangat hati-hati karena lengan kanan nya terasa amat sakit. sesudahnya, ia mengobati dirinya sendiri dengan sedikit kesusahan.
dari arah balik pintu kamarnya, kakak perempuannya Ashelia menatap nya dengan sendu, gengsinya sangat tinggi bahwa ia ingin membantu adiknya itu. apalagi Oline itu kesayangan nya
"Masuk gak ya" ujarnya memegang knop pintu oline
"Masuk aja deh" Ashelia berusaha menurunkan gengsinya demi sang adik, dia masuk begitu saja tanpa permisi dan melihat Oline yang kesusahan mengobati bagian punggung nya
"Ngapain disini?" Tanya Oline tanpa mengalihkan pandangannya ke Ashelia
"Mau di bantuin?" Ucap Ashelia
"Gak usah, keluar sana!" Ashelia menatap mata Oline yang ternyata sudah memerah akibat menahan sakit, menangis, dan emosi
"Oke" Tanpa berucap apalagi Ashelia meninggalkannya sendirian lagi, dan Ia melanjutkan apa yang dilakukannya tadi.
S
K
I
P
Matahari menyinari setiap sudut ruangan dirumah itu, tetapi tidak dengan satu ruangan yang tertutup rapat saking rapatnya orang tidak bisa mengintip atau menerangi ruangan itu. -Kamar Oline.
"Kalian semua sudah bangun?" Tanya indah menuruni setiap anak tangga bersama dengan Ribka sambil menggandeng erat tangannya.
"Iya mom" Ujar semuanya yang sudah berada di meja makan
Ribka hanya diam saja, ia melihat sekeliling nya mengamati Raut wajah sang ayah dan kakak-kakaknya, ada satu kursi yang belum di tempati oleh siapapun itu dan ia tahu itu siapa
"Mommy kapan Abang oline ikut gabung?" Tanya Ribka penuh harap
"Mommy gatau coba tanya Papa ya sayang" Ucap Indah membantu para anak gadisnya menyiapkan sarapan
"Papaaa" Ribka dengan girang menghampiri Daniel.
"Aduh bungsunya Papa makin berat aja nih, kenapa sayang?" Tanya Daniel memangku Ribka mengecup pipi gembul nya beberapa kali
"Abang Oline bisa gabung ga buat sarapan hari ini aja boleh yaa?" Mohon Ribka sambil menyatukan tangannya membuat wajah yang sangat gemas agar Daniel mengizinkannya
"Gak boleh!" Jawab tegas Daniel
"Yahh" Perlahan Ribka merosot turun dari pangkuan Sang papa dan mengambil tempat di sebelah Adel
"Adik gembul satu ini kenapa kok cemberut gitu?" Tanya Adel berusaha menghibur Ribka
"Papa tadi bentak Ribby karena bahas Abang kembar hiks" Ucap Ribka yang sudah menumpahkan tangisnya karena kaget akan suara tegas Daniel tadi
"Loh kok nangis sih, sini sini" Adel menggeser tubuh Ribka mendudukkan nya di pangkuan nya dan berkata
"Cerita coba sama kakak" Ujar Adel mengusap setiap surai Ribka dengan lembut
"Hiks tadi malam pas bobo, Ribby mimpi bermain bersama dengan Abang kembar di suatu tempat yang sangat indah banyak bunga nya hiks, disitu Abang Oline bilang kalau besok dedek udah Gabisa liat bang Oline lagi karena Abang Lion sama Kakek udah jemput Abang Oline hiks hiks" Tangisan Ribka semakin kencang membuat suara yang begitu nyaring diruang makan keluarga itu, Adek mendengar kan nya sambil menahan rasa sesak didadanya, bagaimana kalau itu mungkin terjadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR OLINE
Fiksi Remaja"Rasa nya bahagia itu seperti apa?tolong cerita kan pada ku,aku tidak pernah bahagia dan rasa nya di sayang sama keluarga?" "Apakah aku tidak pantas bahagia?" "Katakan seperti apa itu bahagia?" "Tolong aku!!"
