"Kok lama ya? si Kas sama Sena gak mau nengok ponakannya apa?" kesal Rega.
Biru belum kasih tahu kalau flatnya kena rampok. Takut jantungan si Rega.
"Ini juga aki-aki ngapain sih ditelpon gak nyambung-nyambung. Mereka gak kecelakaan, kan?" sambungnya.
Biru yang sejak tadi memandangi Sachi noleh dikit.
"Jaga ucapan Lo," ucapnya.
"Ya habisnya. Lo tahu sesuatu kan makanya mereka gak nongol-nongol?"
"Iya tahu."
"Ya ngapa gak ngasih tau gue?"
"Takut Lo kena serangan jantung."
"Kalau gini malah guenya kena baby blues gak sih? Buruan kasih tau, mereka kemana?"
Box bayinya Biru tutup lagi dengan kain transparan. Sachi tidur sambil ngulet-ngulet sampe mukanya jadi merah.
Dia lalu jalan dan duduk di sisi Rega.
"Gak ada apa-apa sih, maksudnya gak ada sesuatu yang membahayakan mereka. Semalam laki Lo ditelpon polisi, katanya Sena dan Kas dibawa ke sana karena flat Lo kemalingan."
"Hah anjir kirain di Inggris gak ada maling," ucap Rega santai.
Tau gitu Biru ngomong aja dari tadi.
"Ya katanya sih barang kita juga abis kena jarah. Gue sih gak bawa apa-apa, dompet sama hp kan gue bawa. Si Sena tuh dia bawa kamera, tab sama laptop. Kayaknya diambil juga."
"Trus barang gue?" tanya Rega.
"Mana gue tau, laki Lo belum balik. Tunggu aja kabar selanjutnya dari doi."
Akhirnya mereka cuma ngobrol aja sambil sesekali menenangkan Sachi yang nangis pengen nyusu.
Jiwa keibuan Rega muncul gitu aja pas Sachi lahir. Dia terlihat luwes saat ganti popok sama nyusuin itu bocah.
Saat lagi memandangi si cantik dalam buaian, Rega dikagetkan dengan kedatangan seseorang. Orang yang sama sekali gak mau Rega lihat. Orang narsis nyebelin yang mau rebut Bara dari dia.
"Ngapain Lo ke sini?" Sinis Rega. Biru yang tahu siapa yang datang langsung waspada juga. Takut banget si Rega ngereog.
"Sini Sachi gue bawa dulu," pinta Biru. Ngeri banget kelempar pas emaknya ngamuk karena mantan suaminya datang.
"Tenang dulu, Kak. Sebelumnya saya mau minta maaf atas kejadian kemarin dan yang sudah-sudah. Maaf banget, awalnya aku gak tau kalau Bara udah nikah, sejak Kakak migrasi ke sini dan Bara merasa kehilangan kami udah bicara heart to heart. Kalau Bara ngomong sejak awal, aku gak bakalan ngajak dia balikan."
Rega tetap tidak percaya. Dia diam sambil natap sinis.
Rasa cemburunya bercampur dengan insecure karena dari dekat begini Niko memang secantik itu.
Sedangkan Rega kini gemuk, apalagi bagian pipi keliatan chubby banget.
"Sebelumnya aku ucapkan selamat atas kelahiran si kecil ya, Kak. Maaf aku gak bawa apa-apa karena dilarang pihak rumah sakit membawa bingkisan ke dalam ruangan rawat inap. Kadonya nanti aku kirim ke flat aja ya."
Rega tetap tidak merespon. Biru yang sedang menimang Sachi diam-diam melirik.
"Trus ngapain kemarin ketemuan sama laki gue?" tanya Rega pada akhirnya.
Niko malah senyum, anjir manis banget. Rega lagi-lagi insecure, emang bisa si Om Bara berpaling begitu cepat dari lelaki secakep Niko?
"Bara yang minta ketemu, rencananya hari ini kami akan bertemu kamu agar semua ganjalan antara kita semua gak ada lagi. Bara secinta itu sama kamu dan dia gak mungkin mengkhianati kamu. Tapi kamu keburu nyusul kemarin, aku bahkan gak sempat ngomong apa-apa sampai kamu pecah ketuban."
Tak lama, pintu kamar diketuk. Pria bule yang tampan masuk, lalu memeluk Niko dari samping dan mereka berciuman sekilas.
Biru misuh dalam hati, ngenes banget. Kan jadi ingat Sagara.
"Ini Charles, calon suamiku. Bulan depan kami nikah, kamu datang ya sama Bara," ucap Niko.
Merasa aman dari bahaya, Rega akhirnya bernapas lega. Dia mengendurkan ketegangan dan tersenyum.
"Maafin aku juga, Kak. Maaf gak langsung cross check. Malah marah-marah gak jelas."
"Wajar sih, suaminya seganteng Bara," ucap Niko sambil senyum sab mengedipkan sebelah mata.
Rega tahu dia bercanda. Dia hanya terkekeh.
Niko lantas melepas rangkulan suaminya dan dia mendekat ke arah Rega tanpa diduga Niko memberi pelukan pada Rega.
"Bara adalah seorang yang setia. Dia takkan pernah bermain dengan hati saat dirinya terikat hubungan dengan seseorang. Tolong percaya itu."
Niko berbisik, Rega hanya mengangguk.
"Boleh liat si kecil?" tanya Niko.
Rega mengangguk, "Ru, bawa sini. Oh iya Kak, ini Biru temen aku dari Indonesia."
"Hai Biru, Nice to meet you."
"Hai, Nice to meet you, Kak."
Biru menyerahkan Sachi pada Rega, lalu Niko mendekat tanpa berani menyentuh.
"Kalian sangat beruntung. Keluarga kalian lengkap dan sempurna. Semoga selalu diberi keberuntungan ya."
"Aamiin."
"Aku gak bisa lama-lama, mau langsung flight ke Indonesia siang ini."
"Oh, kirain mau di sini aja sampe nikah nanti," ucap Rega.
"Aku masih kerja di Indonesia, cutiku hampir habis. yuk Kak, semoga sehat ya. Mari Biru,"
Biru mengangguk lalu mengantar sampai depan pintu.
"Anjir cakep ya, gue sampe lupa ngedip." Biru senyum-senyum.
"Gue aduin pak guru tahu rasa loh."
"Ya jangan dong entar gue ditalak kan gak lucu. Itu Sachi mau dibaringkan lagi di box?"
"Boleh," Rega menyerahkan bayinya ke Biru lalu disimpan di box.
Satu jam kemudian Kastara dan Sena baru tiba, disusul Bara.
"Lama amat sih," dumel Rega.
"Mayan juga prosesnya, itu cewek langsung aja gak berkutik saat dibekuk."
"Hah? Cewek siapa?" tanya Rega.
Bara mendekat dan mengecup kening Rega lama.
"Jules bobol flat kita. Dia sama cowoknya kehabisan uang buat beli narkoba."
Rega hanya diam. Bahkan orang yang paling dia percaya di Manchester ini pun berkhianat.
"Ngerinya, mereka rencana mau sekap kamu atau culik kamu. Tapi pas datang di flat ada kalian. Jadinya ganti modus, kebetulan resto tempat saya janjian sama Niko tuh tempat kerja Jules. Gak tau gimana jadinya kalau saat itu dia beneran culik kamu."
Bara mengeratkan pelukan, merasa beruntung datang di saat yang tepat bersama teman-teman suaminya.
"Jules kok tega," bisik Rega.
"Namanya pengaruh obat," sambung Sena.
"Iya ngeri pas liat pas liat rekaman penggerebekan si cowok masih ada jarumnya di tangan."
"Jules juga ternyata hamil 14 Minggu," ungkap Bara.
Makin kasihan.
Tidak lama, perawat datang izin mau bawa si kecil buat diperiksa di ruangan bayi. Rega mencium pipi si bayi sebelum dibawa.
Sena, Kastara dan Biru turun untuk cari makan siang.
"Oh iya Om, tadi ada Niko ke sini."
"Oh iya tahu, kok. Tadi sempat chatting, kan dia tahu kamu di ruangan ini juga dari saya."
"Ih, males ah masih chat sama mantan!"
Rega melepas pelukan Bara lalu berbalik memunggungi suaminya.
Bara malah makin mendekat lalu membisikkan sesuatu yang membuat pipi Rega merona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Happiness (MPREG) [End]
RomanceRega Januar, harus mengubur cita-cita dan mengejar kebahagiaan dengan pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya. Mungkin ini karma karena selalu meledek Pasangan Kastara Bimasena dan Sagara Biru. Side Story Sagara Biru Disclaimer: Cerita ini 100% h...
![Chasing Happiness (MPREG) [End]](https://img.wattpad.com/cover/374391924-64-k720757.jpg)