Dua Puluh Satu

3.2K 195 4
                                        

Tangis pertama bayi perempuan memecah keheningan ruang bersalin, disambut oleh senyuman lega dari tim medis yang membantu proses persalinan. Bara menangis tanpa suara di sudut ruangan, air matanya tumpah deras saat dokter mengangkat bayi mungil itu dan mengucap, "Selamat, Pak. Putri Anda lahir dengan sehat dan selamat."

Rega yang terbaring lemah di ranjang, tersenyum lemah tapi penuh rasa syukur saat bayi itu diletakkan di atas dadanya.

"Hai, Nak... Terima kasih sudah berjuang," bisiknya.

"Dia sempurna," Bara menghampiri, menatap bayi itu . "Terima kasih Sayang, terima kasih sudah bertahan."

Malam itu, seluruh lorong rumah sakit terasa berbeda. Ada rasa hangat yang merambat dalam udara dingin kota Manchester. Kabar kelahiran segera diterima Biru yang sejak tadi menunggu cemas di ruang tunggu.

Biru langsung berdiri dan menghampiri perawat yang membawa kabar baik.

"Syukurlah!" serunya, nyaris meneteskan air mata. "Boleh saya lihat?"

"Oke. Berhati-hatilah, Ibu dan bayi masih dalam pemulihan," jawab perawat dengan lembut.

Biru mengangguk. "Saya mengerti."

Sesaat kemudian, Biru masuk ke ruang rawat. Ia melihat Rega memeluk bayinya yang telah dibersihkan, dibalut selimut putih dengan topi mungil di kepala. Bara duduk di samping ranjang, wajahnya masih penuh emosi.

"Congratulation..." Biru mendekat pelan. "Cantik banget, Ga. Mirip lo."

Rega tertawa pelan. "Gue berhasil, Ru. Makasih banget udah ngasih support."

"Bang ehm aduh gue pengen nangis." Biru hampir mengumpat, tetapi dia ingat ada bayi. Bara tersenyum menepuk bahu Biru.

Bara menatap Rega. Mereka saling tersenyum. Rega malah lupa kejadian sebelum pecah ketuban.

"Om Biru, kenalin, nama saya Aruna Sachi Wijaya," ujar Bara, matanya berbinar.

Biru tersenyum haru. "Aruna... Nama yang indah."

"Panggil dia Sachi." Rega berkata.

Rega dan Bara memang sudah merencanakan nama itu sejak mereka tahu kalau anak yang Rega kandung Perempuan.

"Hai Sachi."

Biru masih betah, tetapi perawat secara tidak langsung mengusirnya. Rega harus segera dibersihkan ruangan harus steril. Sementara itu Sachi dibawa ke ruangan bayi.

Namun seiring dengan larutnya kebahagiaan karena lahirnya Sachi, diam-diam Biru cemas. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu berlalu tanpa terasa. Tapi Kastara dan Sena yang sejak beberapa jam lalu dikirim kembali ke flat Rega untuk mengambil koper dan perlengkapan bayi belum juga kembali.

Biru sempat melihat ponselnya. Tidak ada pesan masuk.

"Ini aneh, mereka pergi sejak tadi. Harusnya satu jam juga udah balik."

Bara pun ikut gelisah. "Saya telepon dulu deh."

Beberapa kali panggilan Bara tidak diangkat. Lalu ia mencoba menelepon Sena. Sama saja. Nomornya aktif tapi tidak dijawab.

Rega ikut merasa tidak tenang. Dia menatap Bara dengan cemas.

"Om, coba keluar sebentar, cari kabar mereka, tanya Jules, apa Kas sama Sena masih di sana?"

Bara mengangguk dan keluar dari ruang rawat. Di lorong, Dia menelepon lagi sambil berjalan ke arah lobi. Namun hasilnya sama, tidak ada jawaban.

Setelah beberapa saat, Biru menyusul keluar.

Chasing Happiness (MPREG) [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang