"Anjing Rega, lo ngompol!" pekik Biru melihat air membasahi celana Rega.
Rega tidak peduli. Dia terlanjur emosi dengan kenyataan yang ada.
Rega berdiri kaku di tengah restoran bergaya modern-industrial itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya menatap lurus pada dua sosok yang duduk di sudut ruangan, Bara dan Niko lelaki penyebab prahara rumah tangga mereka.
“Sayang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan—” Bara buru-buru berdiri, mencoba meraih tangan Rega.
"Itu adalah kalimat paling basi dalam kasus perselingkuhan." Rega berucap sinis.
Perutnya mulai ngilu.
"Ga udah ga, Lo pecah ketuban kayaknya," Sena langsung meraih tangan Rega.
“Jangan mendekat, om,” tegas Rega.
Lelaki di belakang Bara tampak terkejut, mencoba berdiri juga, namun Rega menatapnya dingin.
Cresssh.
Suara seperti air tumpah memecah suasana. Air ketuban itu makin banyak sampai membasahi lantai.
Semua orang membalikkan kepala.
Rega melihat ke bawah, darahnya seperti berhenti mengalir. Celananya basah. Hangat.
“Biru…” suara Rega bergetar, matanya mendadak kehilangan fokus. “Tolong gue Ru…”
Bara terdiam sejenak, wajahnya pucat seperti mayat.
“A-Apa?! Sekarang?” Tanya Biru, salahnya Rega minta tolong sama orang panikan macam Biru. Dia bergerak tak tentu arah sampai petugas restoran memberikan fasilitas untuk menghubungi ambulance.
Kastara menghalau orang-orang yang mulai berkerumun penasaran. Untung ini di Inggris, mereka tertib dan memberikan jalan pada Rega untuk dibawa ke Rumah sakit.
Restoran yang tadinya hanya jadi latar drama cinta segitiga kini berubah menjadi panggung kepanikan.
Bara memeluk Rega yang mulai menggigil, wajahnya pucat. Rega masih kesal karena si Niko-niko itu malah mengikuti Rega dan Bara ke ambulan.
"Maaf, jangan ikut masuk ke sini," cegah Kastara.
"Tapi ..."
"Lo yang bikin temen gue kek gitu. Jangan ngeyel deh," hardik Biru.
Niko mengangguk, dia mundur dan merangkul pria bule berwajah tampan.
“Sayang, tahan ya… sebentar lagi sampai rumah sakit,” katanya sambil menggenggam tangan Rega yang dingin.
Di mobil lain, Biru menyetir secepat mungkin, melanggar batas kecepatan, mengabaikan klakson dan sumpah serapah pengendara lain.
“Om… sakit,” rintih Rega, tubuhnya menegang saat kontraksi pertama menghantam seperti gelombang laut yang menggila.
“Astaga… tahan sayang," Bara panik, mencoba menenangkan Rega dengan membelai rambutnya. “Kuat ya, kuat, bentar lagi sampai!”
Rega mencengkeram tangan Bara erat-erat, seakan nyawanya tergantung di situ. Matanya sudah mulai berair.
“Kenapa… harus sekarang…” gumamnya dengan suara lemah.
Mobil melesat di jalanan Manchester yang ramai. Klakson meraung, lampu merah diterobos, dan Rega nyaris meneriakkan doa setiap detik.
Dalam waktu yang terasa sangat lama, akhirnya lampu darurat rumah sakit mulai terlihat.
“Kita sampai, Sayang, sebentar lagi, tahan sedikit lagi!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Happiness (MPREG) [End]
RomantikRega Januar, harus mengubur cita-cita dan mengejar kebahagiaan dengan pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya. Mungkin ini karma karena selalu meledek Pasangan Kastara Bimasena dan Sagara Biru. Side Story Sagara Biru Disclaimer: Cerita ini 100% h...
![Chasing Happiness (MPREG) [End]](https://img.wattpad.com/cover/374391924-64-k720757.jpg)