Rega masih terlihat sedikit pucat pasca melahirkan, tapi senyumnya tak pernah lepas sejak ia meninggalkan rumah sakit. Di pelukannya, bayi Sachi terlelap dengan damai, dibalut selimut lembut bermotif awan.
Kok bisa sih gue punya bayi segemes ini?
Jika dilihat mundur ke belakang, Rega adalah cowok urakan yang ceroboh. Merasa ngenes saat dua sahabatnya pada pamer pacar. Lalu dia kemakan sumpah karena suka mendoakan Biru jadi Boty. Nyatanya dia sendiri yang Boty, melahirkan pula.
Bara membuka pintu mobil dan membantu Rega turun dengan hati-hatian, seolah suaminya terbuat dari porselen.
Rumah baru yang ia sewa terletak di kawasan Didsbury—lingkungan yang tenang, aman, dan jauh dari hiruk-pikuk serta bayangan hal-hal buruk beberapa hari terakhir. Bara gak mau kecolongan dua kali, apalagi sekarang bukan hanya Rega yang harus dia lindungi. Ada Sachi, jangan sampai Sachi mengalami peristiwa yang mengerikan.
“Selamat datang di rumah baru kita, Sayang,” ucap Bara sambil tersenyum.
Rega menatap halaman kecil dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Tangannya menggenggam erat jari-jari Bara.
“Terima kasih, Kak. Kamu selalu tahu caranya bikin aku merasa bahagia.”
"Dunia dan seisinya akan aku beli untukmu, kalau bisa."
"Hmmm gombalannya mahal banget suamiku ini, kalau boleh aku mau pulang ke Indonesia saja."
"Iya, nunggu Sachi gedean dikit ya. Kalau kata orang tua nunggu empat puluh hari dulu. Mama sama papa dan keluarga kamu lagi flight menuju sini."
Rega senyum, entah kebaikan apa yang dia beri pada semesta sampai diberikan kebahagiaan sebesar ini.
Di dalam rumah, semua sudah siap. Ranjang empuk dengan seprai baru, boks bayi di sudut kamar, peralatan menyusui lengkap, bahkan dapur yang rapi dan bersih.
Semua detail diperhatikan Bara, dari suhu ruangan, posisi jendela yang menghadap matahari pagi, sampai bantal menyusui yang sudah disiapkan di sofa.
"Kapan kamu siapkan ini, Kak?" tanya Rega.
"Selama kamu di rumah sakit. Maaf gak bisa diskusi, ini kan rumah sementara, nanti di Indonesia kamu boleh pilih rumahmu sendiri beserta isinya sesuai dengan apa yang kamu mau."
"Memangnya gak tinggal di apartemen lagi?"
"No, gak baik buat Sachi. Sebaiknya dia tinggal di rumah yang lebih besar dan sehat."
Rega senyum, dia mendekat dan mencuri ciuman di pipi suaminya.
“Sachi, lihat, rumah pertamamu,” gumam Rega sambil menciumi kening putrinya.
Tak lama kemudian, Kastara, Sena, dan Biru datang membawa beberapa tas dan makanan. Mereka langsung membantu menata dan membereskan keperluan bayi.
“Gila sih... Kak Bara ini definisi suami idaman,” bisik Kastara pada Sena saat melihat Bara sedang membuatkan teh hangat dan memeriksa suhu ruangan untuk memastikan Rega tak kedinginan.
“Emang aku gak idaman?" tanya Sena.
"Iya gak gitu maksudnya, kamu idaman buat aku dengan caramu sendiri. Tapi liat deh, bagaimana Kak Bara memperlakukan Rega."
Sena menoleh. Iya sih, Sena mengakui itu.
"Iya, bener. Kak Bara tuh gak hanya romantis, tapi totalitas banget. Aku jadi insecure sendiri,” balas Sena sambil menyikut pelan lengan kekasihnya.
"Yee, jangan gitu. Iya deh, kamu juga idaman. Idaman akuuu."
Biru yang duduk di kursi dekat jendela memperhatikan semuanya dengan mata berbinar. Lelaki itu tersenyum kecil, lalu menatap ponselnya, foto Sagara terpampang di layar utama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Happiness (MPREG) [End]
RomanceRega Januar, harus mengubur cita-cita dan mengejar kebahagiaan dengan pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya. Mungkin ini karma karena selalu meledek Pasangan Kastara Bimasena dan Sagara Biru. Side Story Sagara Biru Disclaimer: Cerita ini 100% h...
![Chasing Happiness (MPREG) [End]](https://img.wattpad.com/cover/374391924-64-k720757.jpg)