Sembilan Belas

3.2K 193 9
                                        

Rega tertawa kecil, menahan perutnya yang semakin berat saat ia duduk nyaman di sofa. Di sekelilingnya, tiga sahabatnya—Biru, Kastara, dan Sena—sibuk membahas nama bayi dan kemungkinan jenis kelamin si kecil yang masih menjadi misteri.

Rega sudah tahu sih, jenis kelamin si kecil apa. Tapi dia biarkan saja teman-temannya berspekulasi.

Seru juga melihatnya, apalagi Biru yang notabene pengantin baru. Dia terus-terusan excited dan berharap suaminya bisa hamil juga kaya Rega.

"Gue tetap yakin, bayi ini perempuan, Bunda bilang kalo perutnya monyong gitu ya perempuan, kalau melebar ke samping laki-laki," ujar Kastara sambil menatap perut Rega penuh keyakinan.

Ya jelas dia dihadiahi geplakan dari Biru. Hei, hello, tahun berapa ini? Mengapa masih percaya mitos?

"Kalau laki-laki bagaimana?" Biru menimpali dengan nada menantang.

"Kalau laki-laki, dia pasti tampan seperti Bara," sahut Sena.

Rega ikut tersenyum, tapi sebelum ia sempat membalas, ketukan di pintu membuat mereka semua terdiam sejenak. Rega melirik ketiga sahabatnya sebelum akhirnya berusaha bangkit.

"Gue bukain," katanya, berjalan perlahan menuju pintu. "Mungkin Om Bara, tumben banget pake ketuk pintu segala."

Begitu pintu terbuka, sosok Jules, tetangga yang selama ini selalu menemaninya, berdiri di sana tersenyum. Perempuan itu pasti langsung menyadari Rega tidak sendiri.

"Bara pulang ya?" tanya Jules dalam bahasa Inggris.

"Ya, dia sedang keluar ada sesuatu yang harus diurus. Masuk dulu, Jules, saya kenalin kamu sama sahabat-sahabat saya."

Jules diam, terlihat sedikit canggung.

"Jules? Ada apa?" tanya Rega heran.

Jules menarik napas panjang, seolah mencari kata-kata yang tepat. Matanya menatap Rega dengan sedikit ragu, tetapo akhirnya ia berkata pelan, "Aku tadi makan malam di luar sama James... dan aku bertemu Bara, dan aku melihat ini, maaf udah langgar privasi suamimu."

Jules menyerahkan ponselnya, Bara sedang candle light dinner dengan seseorang. Orang yang membuat Rega melarikan diri sampai sejauh ini.

"Aku rasa aku tahu siapa," ucap Rega dengan suara pelan, nyaris berbisik.

Jules menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata, "I'am Sorry baby, bahkan aku kira itu kamu."

Ruangan tiba-tiba terasa sunyi. Jantung Rega berdebar tak menentu.

"Bisa kasih tahu dia di restoran mana?" tanya Rega.

Jules mengangguk pelan. "Iya… aku tidak sengaja melihatnya di sebuah restoran dekat Piccadilly."

Rega menelan ludah, mencoba mencerna informasi itu. Hatinya sempat melambung—Bara sudah pulang membawa kejutan, membawa hal-hal yang Rega mau.

Ah goblog banget Rega, ternyata itu hanyalah sebuah alibi biar dia bebas berselingkuh sama si Anjing Niko.

Seketika, kehangatan yang tadi memenuhi dada Rega menguap, digantikan dengan sensasi dingin yang menjalari seluruh tubuhnya.

Biru, Kastara, dan Sena yang sedari tadi diam langsung saling pandang dengan cemas.

"Sorry Rega, aku tidak ingin membuatmu berpikir yang tidak-tidak," Jules buru-buru menambahkan. "Tapi aku merasa kau harus tahu."

Rega tetap berdiri kaku di ambang pintu. Pikirannya penuh dengan pertanyaan.

Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang membesar. Ada perasaan asing yang mulai menyelinap ke dalam hatinya.

Rega menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya.

Sena segera bangkit dari sofa dan mendekatinya, menaruh tangan di pundaknya.

"Terima kasih atas perhatiannya, Miss. Tapi saya rasa Rega butuh waktu. Silakan pulang!" tegas Sena. Dia memang gitu sih, jarang berbasa-basi, gak peduli sama perasaan orang lain.

"Oke, sorry sudah ganggu waktu kalian."

Jules pergi.

"Setan, bule Cepu!" umpat Biru.

Rega menoleh pada sahabatnya, tidak terima karena Biru terkesan seperti membela Bara yang jelas-jelas salah.

"Jangan marah dulu sama Biru," ucap Sena. "Yuk duduk dulu, harusnya dia mikir ulang buat ngaduin Om Bara sama Lo. Kondisi lagi hamil gede gini gak usah banyak pikiran."

Tapi Rega hanya diam. Ada sesuatu di dalam dirinya yang tiba-tiba terasa kosong. Dia ingat lagi bagaimana Niko terang-terangan bilang kalau dia bakalan segera balikan sama Bara.

Di dalam keheningan itu, bayi dalam perutnya menendang pelan, seolah ingin mengingatkannya bahwa ia masih ada. Bahwa ia tidak benar-benar sendiri.

Rega merasa dunia yang selama ini ia bangun bersama Bara kembali retak.

"Hei, stop overthinking. Om Bara mungkin ada bisnisan, Lo liat gimana effort dia buat bawa kami ke sini?" hibur Kastara.

Tiga orang itu kesal sama si tetangga rumah yang gak bisa jaga mulut.

"Gue mau susul," rengek Rega.

"Ga, telpon dulu, deh. Yah, telpon dulu ya, mana ponselnya biar gue telponin." Biru meraih pundak Rega lalu membawanya duduk di sofa.

Rega tidak menjawab, dia mengarahkan pandangan sekitar ruang tengah. Ponselnya ada di sana, dekat televisi. Biru yang melihat arah pandang Rega langsung menyambarnya.

Ponsel Rega baru, Biru lihat hanya ada lima nomor yang disimpan di sana. Roomchat Bara di Pinned, jadi Biru bisa langsung menghubungi suami Rega.

Satu nada panggil.

Dua nada panggil.

Sampai berkali-kali telponnya tidak ditanggapi. Rega makin gelisah. Dia tidak menunggu bahkan mengabaikan panggilan tiga orang sahabatnya yang jauh-jauh datang ke negara ini.

Resto dekat Piccadilly yang dimaksud Jules sudah pasti adalah restoran favorit Rega dan Bara. Ah shitt! Dia bahkan membawanya ke sana.

Biru buru-buru pakai sepatu, Kastara bahkan tidak peduli dengan itu. Dia ikuti Rega yang menuruni undakan rumahnya dengan tergesa. Ngilu sekali melihat bapak hamil yang berjalan tergesa menuju garasi.

"Anjing!"

Rega menggebrak kap mobil sampai tangannya memerah.

"Ga, sabar Ga, astaga lo gak sayang sama anak Lo?" Kastara berusaha merangkul bahu si pemarah.

"Daripada Lo bacot mendingan bawain kunci mobil, Anjing!"

"Di mana Ga?" tanya Biru yang masih di ambang pintu.

"Dekat gantungan situ, di belakang lo. Kuncinya yang pake gantungan domba."

Ketemu!

Biru buru-buru menutup pintu lalu melempar kunci mobilnya pada Sena.

"Siniin babik!" Omel Rega.

"Heh setan, kami gak bakalan biarin. Ponakan kami kenapa-kenapa, udah diem aja, Sena bisa nyetir, dia punya lisensi juga buat bawa kendaraan di sini." Kali ini Kastara yang murka.

"Tapi dia gak tahu jalannya, kan?"

"Heh pakmil! Ada yang namanya google maps. Udah diem aja."

Rega akhirnya nurut aja, dia duduk di jok belakang sama Biru sama Kastara.  Sena duduk di depan sendirian berasa jadi sopir beneran.

Sesampainya di restoran itu, darah Rega rasanya mendidih saat melihat mobil Bara ada di sana.

Dia turun dan sedikit berlari. Biru yang jadi korban, dia ikutan lari sambil meringis karena ngilu. Khawatir Rega jatuh, gimana dengan perutnya kalau itu bocah jatuh?

Pemandangan lain yang membuat Rega murka adalah Bara dengan santainya makan malam sambil ngobrol sama si Niko-niko itu.

Kedatangan empat lelaki dengan tergesa jelas-jelas menarik perhatian semua orang tidak terkecuali Bara.

Melihat suaminya berdiri dengan Murka, Bara ikut berdiri, dia hendak menjelaskan tetapi sesuatu yang tidak terduga terjadi begitu saja ....

Chasing Happiness (MPREG) [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang