Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aroma bunga mengisi hidung, wanginya manis dan lembut. Namun dibalik sedapnya aroma tersebut, ada wangi tak sedap ikut bercampur didalamnya.
Bau darah busuk.
Tepat setelah Dan Heng bersama Stelle berhasil mencapai ruangan yang sudah dicari keduanya sedari tadi, mereka akhirnya menemukan tubuh gadis kecil yang (name) suruh temukan.
"Bagaimana cara kita membawanya..."
Stella menelan ludah, merasa agak tegang saat melihat genangan darah di lantai.
Dan Heng disisi lain nampak tenang, meski begitu, tangannya basah oleh keringat.
Mereka berdua tak yakin bagaimana cara menangani hal ini. Apalagi karena anggota tubuh si gadis kecil tersebut terpisah-pisah, membuat mereka jadi merasa tak enak.
Bagaimana kalau gadis ini adalah orang yang dimaksud dengan cucu dari (name)? Kalau salah sedikit saja apakah (name) marah?
"B-bagaimana kalau pakai baskom!?" Celetuk Stelle tiba-tiba dengan ide nya.
"Kau pikir ini daging kurban?"
"Ya kan aku cuman menyarakan..."
Dan Heng menghela nafas panjang. Dia harus mencari cara untuk membawa potongan tubuh anak ini tanpa membuat sedikit kesalahan apapun itu.
Disaat mereka masih berpikir, tengkorak yang sebelumnya muncul dan menuntun keduanya untuk menemukan ruangan ini kembali lagi. Namun suara tawanya itu sudah seperti toa sekolah yang mengumumkan jam istirahat, hingga membuat sang trailblazer terlonjak kaget.
"Kalian berdua kelamaan!"
"Berhenti muncul seperti itu! Seram tau!" Ujar Stelle kesal, bahkan sudah menggenggam erat tongkat baseball nya.
Da, tengkorak melayang itu mengabaikan ocehan Stelle, memilih mendekati mayat yang tergeletak di lantai.
"Bangunan ini akan roboh, jadi keluarlah cepat."
"Hah?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sebagai manusia biasa yang coba-coba untuk menjadi ras sarkaz, kau bodoh juga."