Notes We Leave Unfinished

8 0 0
                                        

Seoul pada awal musim gugur seperti lagu balada yang tak pernah selesai. Angin membawa wangi tanah kering bercampur daun jatuh, dan langit berwarna biru tua dengan bias emas lembut. Di tengah semua keheningan yang rapih itu, Hwang Minhyun berdiri di depan studio tua yang pernah jadi rumah bagi suara-suara mereka dulu—suara yang pernah menyatu, lalu hilang satu per satu.

Ia tidak menyangka langkahnya akan membawanya ke sini lagi. Tidak dengan sengaja. Atau mungkin, terlalu sengaja.

“Hyung?”

Suaranya kecil, tapi cukup tajam untuk memecah udara. Minhyun menoleh. Di sana, di ujung koridor studio, berdiri sosok yang tak asing. Lebih tinggi dari terakhir kali ia ingat, tapi mata itu tetap sama—mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah diucapkan.

Bae Jinyoung.

“Aku pikir kamu di Jepang,” ujar Minhyun akhirnya.

Jinyoung berjalan pelan, jaket krem-nya melayang sedikit ditiup angin dari jendela terbuka. “Harusnya, iya. Tapi flight-nya diundur. Aku... jadi ke sini dulu.”

“Aneh banget kamu bisa di sini.” Minhyun tertawa pelan. “Tempat ini sudah mau direnovasi. Mereka mau ganti jadi studio digital sekarang.”

“Kamu ingat kita latihan semalaman buat konser final di sini?”

“Tentu. Kamu sempat tertidur di ruang ganti dan ngigau tentang bubble tea.”

Mereka tertawa. Sekilas saja. Tapi rasanya seperti memutar kembali pita kaset usang yang dulu pernah mereka putar bersama. Ruang ini, suara itu, tawa itu.

Jinyoung bersandar ke dinding, menatap lantai kayu yang sudah penuh goresan sepatu dansa. “Dulu aku pikir kita bakal punya lebih banyak waktu.”

Minhyun tidak menjawab. Ia tahu maksudnya. Waktu setelah project itu bubar, setelah semua kembali ke agensi masing-masing, setelah fans berhenti mengirim truk kopi dan suara sorak mulai menghilang dari panggung.

“Aku nyanyi lagu solomu minggu lalu,” ujar Jinyoung. “Yang ‘Hidden Side’ itu.”

“Oh ya?” Minhyun sedikit terkejut.

“Liriknya... kayak kamu nulis buat seseorang yang nggak sempat kamu bilang ‘tunggu’. Dan dia akhirnya pergi.”

Minhyun tersenyum kecil, pahit. “Mungkin memang begitu.”

Ada keheningan di antara mereka, tapi bukan yang canggung. Lebih seperti jeda dalam lagu, tempat di mana musik berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi napas.

“Kamu pernah marah ke aku?” tanya Jinyoung pelan.

Minhyun mengangkat alis. “Marah kenapa?”

“Karena waktu terakhir kita ngobrol—setelah farewell concert—aku... nggak tahu harus bilang apa. Aku cuma bilang, ‘Kita bakal ketemu lagi’, lalu pergi begitu saja. Aku tahu kamu kecewa.”

Minhyun mendongak ke langit-langit. “Jinyoung, semua dari kita bingung saat itu. Kita terlalu cepat naik, dan terlalu cepat berpisah.”

Jinyoung menatapnya. “Tapi kamu tetap bertahan.”

“Bertahan bukan berarti nggak hancur.” Suara Minhyun terdengar berat. “Aku juga punya malam-malam di mana aku pengen telepon kamu. Tapi aku pikir, kamu sibuk. Kamu harus tumbuh.”

Jinyoung tertawa pelan. “Aku tumbuh, tapi arahnya beda dari yang kupikir.”

Lalu mereka duduk berdampingan di lantai studio. Diam. Satu-satunya suara adalah langkah kaki dari lantai atas, entah trainee atau staff yang lewat.

“Kadang aku nonton ulang fancam kita,” ujar Jinyoung. “Yang waktu kamu duduk di belakang aku dan nyanyi lagu ballad bareng.”

Minhyun menoleh. “Kamu masih punya itu?”

“Masih. File-nya aku simpan di folder khusus.”

Minhyun tertawa, geli. “Kamu ternyata sentimental juga.”

“Aku cuma... merasa lagu itu belum selesai.”

Minhyun terdiam. Matanya menatap jendela studio yang berdebu. Cahaya senja menyusup masuk, menyinari rambut mereka seperti lukisan.

“Kalau aku main piano, kamu nyanyi bareng aku lagi?” tanya Minhyun.

Jinyoung mengangguk pelan.

Mereka beranjak, masuk ke ruangan kecil di pojok studio. Piano tua masih ada di sana, meski beberapa tuts sudah terdengar sumbang. Minhyun mengusapnya pelan, lalu mulai memainkan nada pembuka lagu yang dulu sering mereka latih. Lagu itu tak pernah mereka bawakan di konser mana pun. Hanya latihan. Hanya untuk mereka berdua.

Jinyoung mulai menyanyi.

Suaranya lebih dalam dari dulu. Lebih dewasa. Tapi tetap membawa rasa yang sama: kerinduan, luka, dan harapan yang samar.

Ketika lagu selesai, tak ada tepuk tangan. Tak ada kamera. Hanya mereka berdua, dan gema suara yang masih tinggal di dinding.

“Itu tadi... penutupan yang bagus,” ujar Jinyoung pelan.

Minhyun menggeleng. “Bukan penutupan. Hanya... bagian baru dari lagu yang sama.”

Jinyoung menatapnya.

“Aku nggak akan pergi jauh lagi,” katanya.

“Dan aku nggak akan diam lagi,” balas Minhyun.

Mereka berdiri, berhadapan di tengah cahaya yang memudar.

Dua pria yang pernah berjalan bersama, sempat hilang arah, tapi kini kembali saling menemukan—di antara nada-nada yang pernah mereka tinggalkan. Tak ada janji, tak ada kontrak, tak ada lampu sorot.

Hanya musik, dan mereka.

Catatan yang akhirnya menemukan akhir—atau mungkin, awal yang baru.

---

Beberapa menit setelah piano itu bisu kembali, mereka hanya duduk. Tak ada urgensi untuk pergi. Heningnya sore menjelma jadi kenyamanan yang langka—seperti jeda panjang dalam lagu klasik yang membuat pendengarnya menahan napas.

“Hyung,” Jinyoung memanggil pelan, nada suaranya seperti bisikan yang takut mengganggu gema kenangan di ruangan itu. “Kalau kita nggak jadi idol waktu itu... kamu pikir kita tetap akan kenal?”

Minhyun menoleh, mata cokelatnya tenang, namun penuh arti. “Aku rasa... kita tetap akan bertemu. Mungkin bukan di panggung. Mungkin di halte bis. Atau toko musik kecil. Tapi suara kamu, Jinyoung, akan tetap menuntunku.”

Jinyoung tersenyum, senyum tipis yang hanya muncul saat seseorang benar-benar mengerti dirinya.

“Apa menurutmu lagu kita—yang tadi—akan terdengar beda kalau kita nyanyikan di panggung sekarang?” tanyanya.

“Tidak beda,” jawab Minhyun. “Tapi kali ini, kita tahu artinya.”

Jinyoung mengangguk pelan. “Kalau begitu... mari kita nyanyikan lagi suatu hari. Di tempat yang lebih besar. Di hadapan orang-orang yang juga menunggu akhir dari catatan itu.”

Minhyun tidak menjawab, tapi ia mengulurkan tangan.

Jinyoung meraihnya.

Tak ada tepuk tangan. Tak ada suara fans. Tak ada MC yang menyebut nama mereka seperti dulu.

Tapi genggaman itu cukup untuk menandai: lagu mereka belum selesai. Dan kali ini, mereka akan menyusunnya bersama—not for the charts, not for the fame—but for themselves.

Untuk semua catatan yang pernah mereka tinggalkan. Dan semua yang akhirnya akan mereka selesaikan.

---

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CandyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang