15. Back and Worries

107 8 0
                                        

"Dia sudah mengetahui semuanya"

Dua orang dewasa berada dalam satu ruang yang penuh dengan tumpukan buku dan rak tanpa tertata rapi. Satu lelaki dewasa menatap dokumen yang terletak diatas meja kerjanya dimana berisi tentang informasi seseorang dari hal terkecil hingga lokasinya berada saat ini.

Ia tersenyum penuh kerinduan namun terbungkus rapi dengan aura mencekam yang dirinya keluarkan. Foto seseorang yang tersenyum manis melihat kamera berhasil membuat dirinya terperangkap dalam tulusnya senyum itu.

"Dia mirip dengan sang ratu"

Entah kenapa dirinya melihat sosok ratu berada dalam satu tubuh dengan sosok difoto dalam artian ada sesuatu yang memang disembunyikan tanpa ia tahu selain dari segi fisiknya. Namun jika dia mirip dengan ratu berarti dia sosok yang kuat kan?

"Tumbuh dengan baik, bagaimana kamu melupakan ku?" Kendati ia seperti orang gila yang hanya tersenyum dan berbicara dengan foto sampai melupakan sosok lain berdiri tegap menghela nafas tanpa henti menatap tuannya. 

"Namun tidak lagi karena aku sudah menemukan mu" tuannya berdiri menuju sebuah foto berbingkai besar disisi kanan ruangan dengan senyum dan foto yang tetap di genggam. Foto itu adalah wanita cantik dengan mahkota kristal bewarna pastel bersanding apik diatas kepala berambut gelombang dipadukan gaun panjang bewarna putih dan sekitarnya terpancar kilau cahaya yang belum padam hingga saat ini.

"Kamu sudah menerima pesanku, apakah setelah ini aku bisa melihatmu?" Ia diam sejenak lalu menghilangkan senyumnya. Mata tajam penuh amarah itu masih menatap foto bingkai tanpa ingin berpaling karena beberapa memori masalalu muncul dan berputar di kepalanya.

"Aku tidak akan membiarkan kamu seperti bundamu-" jeda yang membuat suasana menjadi hening dan lebih mencekam sedikit menekan sosok lain yang masih berada di ruangan itu. "-Karena kalian milikku, keluarga kecilku harus bersatu bukan mati untuk orang bodoh bahkan dunia bodoh ini."

Dia akhirnya melihat sosok yang dilupakannya dengan tegas berjalan sembari mengambil sebuah kotak di mejanya dan menyerahkan kepada asistennya.

"Pergi temui sang penyusup dan beritahu dia untuk memberikan ini kepada anakku" sosok itu menunduk sembari menerima kotak dari tuannya. Ia menatap sang tuan untuk bertanya sesuatu yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. "Tuan, apakah pihak sana tahu tentang sang penyusup?"

Sang tuan tersenyum kemudian berjalan kearah jendela, melihat pemandangan hutan asri dan beberapa bukit disekitar rumah besarnya yang tidak lama lagi mungkin akan menjadi medan perang?

"Sang penyusup adalah pihak netral. Ia tidak berat sebelah meski menjadi bagian dari keluarga, karena sejatinya ia hanya menyampaikan pesan dan sudah seharusnya kamu tahu siapa dia?" Jawaban tersebut cukup untuk menjawab pertanyaan utamanya namun belum memuaskan karena diakhiri oleh pertanyaan membingungkan. 'Ini maksudnya fisik? Nama? Atau apa?'

"Kamu cukup buruk mengetahuinya" sang tuan membalikkan tubuh dan menatap datar asistennya. "Bukan ras namun makhluk yang hanya satu di dua dunia ini" masih belum memahami namun segera ia menunduk dan pamit pergi dari ruangan setelah sang tuan menajamkan pandangannya dan memberi isyarat untuk segera pergi.

Sang tuan yang kini sendiri di dalam ruangannya kemudian melanjutkan kegiatan memandangi hutan luas di depannya. "Bagaimana kamu akan mengatasi para demon ketika mereka mengetahui letak kalung itu berada?" Ia terkekeh pelan dengan sorot mata sedikit redup.

"Anakku malang"

Dalam cuaca dingin seperti ini memang biasa terjadi apalagi mereka berada didaerah pegunungan dan hutan yang mengelilingi dengan rimbun saat ini. Cukup sunyi dan nyaman untuk seseorang yang membutuhkan ketenangan seperti yang Yuno lakukan saat ini. Gion memperhatikan setelah selesai urusan dengan Hayden tadi dan kini berada di halaman belakang dekat sedikit dengan air terjun dimana yuno sedang berkonsentrasi penuh.

Saat ini Yuno sedang mencoba untuk menenangkan diri karena sang penjaga kunci menjadi kuat ketika ia mendapat ketenangan itulah mengapa saat ini meditasi Yuno lakukan. Menghilangkan beberapa emosi yang diterima dari kejadian lalu membuat dia sedikit goyah dan hampir menyerah. Namun itu tidak ia lakukan karena kakaknya.

Kakak angkat yang dipercayai mama.

Mata lelah menghadapi dunia namun harus tetap kuat untuk bertahan. Kadang ia bisa melihat dari mata kakaknya yang terkadang terasa kosong tapi tidak diizinkan menyerah dan itu karena keadaan. Jika dunia immortal tidak membuka portal disini apakah kakak kesayangannya itu akan bahagia tanpa tekanan seberat ini? Apakah kakaknya bisa hidup normal selayaknya manusia disana? Apakah dia akan bertemu kakaknya?

Banyak pertanyaan gundah yang membuat fokusnya hilang sampai bahu kirinya dipegang oleh seseorang. Ia membuka mata melihat Gion yang tersenyum didepannya kemudian ikut duduk dan kini mereka saling berhadapan.

"Fokus mu hilang sehingga energi rubah mu tidak menyebar dengan baik, ada apa?" Sedikit ragu untuk mengatakan apa yng membuatnya gundah saat ini karena pikirannya hanya tertuju pada kakaknya.

"Aku khawatir.."

"Khawatir dengan perang atau dunia?"

"Dengan kakakku" paham kenapa Yuno terlihat gundah saat ini. Memang ini yang ia inginkan dari Yuno yang berani bercerita tentang rasa tidak nyaman dibenaknya yang mana selalu ia pendam dan mencoba fokus saat latihan. Dan sekarang ia mengungkapkan rasa yang dipendamnya, bukankah ia sudah nyaman dengan Gion?

"Kakakmu baik-baik saja ada kak Hayden yang menjadi ksatria nya"

"Meski begitu, aku tetap tidak bisa percayakan kakakku dengannya" sedikit bingung dengan jawaban Yuno yang seperti meragukan Hayden?

"Ada maksud lain yang tidak kita ketahui dan aku sedikit tidak suka dengan auranya, kamu paham kan bagaimana aku bisa mendeteksi seseorang?"

Ada hal yang perlu dijelaskan seperti yang diucapkan Yuno dimana ia bisa mendeteksi seseorang berarti bahwa ia bisa melakukan analisa dari perilaku, ucapan, bahkan aura seseorang dan mengkategorikan dalam kotak tertentu seperti Hayden contohnya.

Aura mencekam yang masih sedikit terkesan lembut namun berubah ketika ia bersama Zhao, tatapan tajam seakan membunuh orang menjadi lebih dari biasanya dan tangan yang selalu menggenggam tangan Zhao tanpa ingin dilepas. Obsesif dan posesif.

"Jujur saja aku juga sedang menyelidiki sesuatu namun saat ini kamu harus memperkuat dirimu, lakukan konsentrasi penuh setelah kamu kuat aku akan memberitahu hasil penyelidikan ku"

Sedikit tidak paham namun ia mencoba untuk menurut kali ini, memfokuskan pada diri dan menghilangkan rasa khawatir serta gundah untuk sementara waktu. Dalam sesi ini ia tidak sendiri, ada Gion yang menemani dan memberi energinya dari genggaman kedua telapak tangannya hingga perasaan nyaman dan hangat mulai ia rasakan.

'sungguh menenangkan'

TBC.

Wow tidak kusangka ada yang menunggu cerita lumut ini.

Maaf untuk semua yang telah menunggu bagaimana akhir cerita ini karena jujur aku sedang sibuk hehehe.

Tapi aku usahakan meskipun setahun berapa kali ini update wkwkwk.

By the way, dukung apapun keputusan mem zb1 yak apapun itu yang terbaik dan selalu sayangi mereka (jangan lupa diri sendiri juga).

Udah segitu dulu maaf dikit dulu biar penasaran bubay.

Any question?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Dangerous RedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang