Author pov:
Siang di rumah Shani itu tenang. Althea baru saja tidur di kamar atas setelah bermain cukup lama bersama Celine. Shani sendiri duduk di ruang tamu, membaca dokumen dari kantornya yang mulai menumpuk. Ia sedang dalam masa penyesuaian kerja setelah cuti, dan meski lelah, ada kedamaian di wajahnya. Sampai bel rumah berbunyi.
“Chika?” gumam Shani sambil bangkit.
Begitu pintu dibuka, tampak Chika berdiri dengan senyum yang agak gugup. Di sampingnya berdiri Ara, dengan wajah lebih serius dari biasanya.
Shani mengerutkan kening, tak langsung tersenyum.
“Ara?” tanyanya, sedikit heran. “Masuk, ayo.”
Di dalam, suasana agak hening. Chika menarik napas panjang, lalu memegang tangan Ara sejenak. Gestur itu membuat Shani langsung sadar ada yang ingin mereka sampaikan. Hatinya sudah berdesir sejak tadi.
“Kak,” kata Chika, memulai, “aku dan Ara ke sini bukan cuma mau main. Kita mau bicara serius!.”
Shani duduk kembali di sofa, menyilangkan tangan di pangkuan. “Oke. Kakak dengerin.”
Ara menatap Shani, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tampak ragu. Tapi kemudian ia maju sedikit.
“Kak, aku tahu ini nggak mudah buat didenger. Tapi aku dan Chika... sudah cukup lama dekat. Awalnya hanya teman sekolah. Tapi sekarang, kami berdua sama-sama tahu bahwa ini lebih dari itu.”
Shani tetap diam. Ekspresinya tenang, tapi jelas matanya menyimpan banyak hal. Ia memandangi wajah Ara cukup lama sebelum bicara.
“Kalian pacaran?” tanyanya pelan.
Chika mengangguk. “Iya, Kak.”
Shani menunduk sejenak, menarik napas panjang.
“Aku bisa terima kalian datang dan bicara baik-baik. Tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak punya sejarah sama masa lalu ku dulu.”
Ara langsung menunduk dalam. Chika memegang tangannya lebih erat.
“Kak, aku tahu siapa ibunya Ara. Aku tahu apa yang pernah terjadi sama Kak Shani. Tapi... Ara bukan dia. Ara adalah orang yang hadir sekarang, yang aku kenal baik, dan yang selalu ada buat aku bahkan dalam masa-masa sulit ku.”
Shani menatap adik bungsunya itu dengan penuh emosi. “Aku tahu, Chik. Dan aku tahu, kamu bukan anak kecil lagi. Tapi aku juga seorang kakak. Dan aku... aku dulu pernah menyayangi ibunya. Lalu ditinggal tanpa penjelasan. Dikhianati.”
Ara mendongak. “Aku tahu semuanya, Kak. Aku bahkan nggak mau bawa-bawa ibu ke dalam hidup ku sekarang. Dia udah pergi dan mungkin nggak akan pernah balik lagi. Tapi Kak Shani... justru orang yang tetap ada buat aku. Bahkan sebelum aku deket sama Chika.”
Shani mengatupkan bibir. Hatinya gundah.
“Aku nggak pernah anggap Kak Shani orang asing. Aku bahkan menganggap Kak Shani... bagian dari yang nyelamatin aku untuk hidup didunia ini,” kata Ara pelan.
“Makanya aku ke sini. Bukan cuma cuma bilang kalo aku serius sama Chika, tapi juga untuk minta izin. Aku tahu aku nggak punya hak buat minta banyak. Tapi aku mau Kak Shani tahu kalo aku nggak akan pernah sakitin dia.”
Beberapa menit hening.
Shani berdiri, berjalan ke dapur tanpa berkata-kata. Chika hendak bangkit, tapi Ara menahannya.
Tak lama kemudian, Shani kembali membawa tiga gelas teh.
“Minum dulu,” katanya, tanpa senyum tapi juga tanpa nada keras. “Bukan karena aku langsung setuju. Tapi karena... aku juga sudah cukup belajar berdamai.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jika Aku Dipelukmu (End)
FanfictionCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Diriku seutuhnya, milikilah"_Gracia_ "Dirimu seutuhnya, Kucintai"_Shani_ Cast utama: 1.Shania Gracia Harlan 2.Shani Indira Natio #Greshan #Jkt48
