Author POV:
Sore itu langit sedang cantik. Jingga menetes di antara awan-awan tipis, seolah dunia sedang bersiap memasuki senja yang hangat. Di rumah Faris dan Naomi, aroma masakan rebus jahe tercium lembut dari dapur. Suara sendok beradu pelan dengan panci, sementara TV di ruang tengah hanya menjadi latar tanpa benar-benar ditonton.
Kini, rumah itu tak hanya menjadi tempat beristirahat pasangan tua itu tetapi juga tempat tinggal dua remaja yang sedang belajar menata hidup yaitu Chika dan Ara.
Chika duduk di ruang tamu, menulis tugas sekolah dengan headphone menggantung di leher. Ara, di sisi lain, sedang mengepel lantai dapur. Gerakannya tidak tergesa ada ketelitian di sana, seakan ia ingin memastikan dirinya tak memberi alasan sedikit pun untuk dianggap beban.
Naomi mengamati dari pintu dapur. “Ara, istirahat dulu. Kakimu pasti pegal.”
Ara berhenti, berkedip canggung. “Saya nggak apa-apa, Tante. Lagian saya yang bikin berantakan tadi.”
Naomi tersenyum. “Kamu memang anak yang sopan. Tapi kamu juga harus tahu kapan menerima bantuan.”
Ara menunduk. “Baik, Tante.”
Chika mengangkat wajahnya. “Ma, nanti Ara juga ikut makan malam ya. Dia nggak bisa nolak.”
Ara langsung memprotes. “Aku bisa nolak—”
Chika menunjuk wajahnya dengan tatapan mengintimidasi manis. “Coba aja tolak. Aku kubur buku catatan kamu di taman.”
Ara menghela napas pasrah. “Oke. Aku ikut.”
Naomi terkekeh kecil. “Begitu lebih baik.”
Di sudut rumah, Faris membaca koran sambil pura-pura tidak memperhatikan. Padahal telinganya menangkap setiap suara. Ada rasa bangga, ada rasa takut. Bukan takut pada Ara atau hubungan Chika tapi takut jika dunia luar akan mencuri kebahagiaan sederhana ini suatu hari nanti.
Sementara itu, di rumah lain yang lebih modern, Shani baru pulang dari kantor. Jasnya dilepas dan digantung rapi, kemeja masih menyimpan wangi parfum yang lemah. Ia berjalan menuju ruang tengah, di mana Gracia sedang menimang Althea yang mulai menggosok mata.
“Sudah pulang?” tanya Gracia lembut.
Shani membungkuk, mengecup kening Gracia. “Sudah. Lembur berhenti dulu malam ini.”
Gracia mengusap pipinya. “Capek?”
“Capek… tapi senang pulang.”
Shani memandang putrinya. Althea tersenyum kecil, seolah mengenali aroma rumah. Shani mendekap mereka berdua dalam pelukan yang hangat rumah dalam bentuk manusia.
“Chika kabarnya gimana?” tanya Gracia setelah suasana mencair.
Shani duduk, merapikan rambut yang jatuh ke dahi. “Aku tadi video call sebentar. Kebetulan mereka lagi pada ngumpul sama Mama dan Papa. Ara juga bantu-bantu. Aku… lega.”
Gracia tersenyum bangga. “Itu artinya kamu belajar mempercayai dunia lagi.”
Shani menarik napas panjang. “Aku masih takut, Ge. Tapi kali ini aku nggak mau takut sendirian. Aku juga udah bilang ke orang tua aku buat nerima Ara sepenuhnya dan biarin dia untuk bareng Chika terus.”
Gracia meraih jemarinya. “Kamu nggak sendirian. Untuk apapun, aku di sini. Apapun keputusan kamu, aku selalu dukung selagi itu baik.”
Malam itu, rumah tidak sekadar tempat kembali melainkan tempat meletakkan beban tanpa takut dihakimi.
Makan malam dimulai dengan sederhana dengan sup ayam hangat, tahu goreng renyah, dan sambal kesukaan Chika yang dibuat Naomi. Mereka duduk berempat di meja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jika Aku Dipelukmu (End)
FanfictionCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Diriku seutuhnya, milikilah"_Gracia_ "Dirimu seutuhnya, Kucintai"_Shani_ Cast utama: 1.Shania Gracia Harlan 2.Shani Indira Natio #Greshan #Jkt48
