42

875 61 3
                                        

Author pov:

Pagi itu matahari menyelinap perlahan lewat tirai tipis di kamar mereka. Burung-burung di taman bersiul ringan, seolah ikut menyambut hari baru bagi keluarga kecil itu. Shani terbangun lebih dulu, meski semalam ia tidur paling larut karena membereskan sisa-sisa dekorasi acara.

Ia menoleh ke samping Gracia masih terlelap, rambutnya sedikit berantakan, namun wajahnya terlihat damai. Di sebelah Gracia, Althea meringkuk kecil dalam bed-nya, tangannya mengepal, sesekali bergumam lirih dalam tidur bayi yang dalam.

Shani tersenyum, lalu perlahan turun dari ranjang dan menuju dapur. Ia membuat teh untuk Gracia, seperti kebiasaannya sejak masa-masa kehamilan dulu. Tapi kali ini, ia juga menyiapkan bubur oatmeal kecil karena ia tahu, jadi ibu baru artinya harus punya tenaga ekstra.

Satu suara kecil dari kamar menghentikannya.

“Shan…” suara serak Gracia memanggil, nyaris tak terdengar.

Shani langsung menghampiri. “Iya, sayang. Kamu butuh apa?”

Gracia menguap kecil. “Aku mau peluk kamu… sama Althea. Tapi aku nggak bisa gerak.” Matanya masih setengah tertutup, tapi ada senyum di sudut bibirnya.

Shani terkekeh pelan, lalu duduk di tepi ranjang. “Pelukannya nyusul ya. Nih, aku ambilin teh dulu.”

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berdampingan, saling bersandar sambil menatap Althea yang masih terlelap.

“Aku masih ngerasa kayak mimpi,” ucap Gracia. “Kayak… baru kemarin kita nonton drama Korea sambil ngeluh, ‘kayanya nggak bakal bisa punya hidup yang kayak gini’.”

“Terus sekarang kita malah lebih dari drama itu,” timpal Shani, mengelus rambut Gracia. “Real life-nya ternyata jauh lebih indah... dan lebih menantang.”

“Ngomong-ngomong tantangan, kamu jadi masuk kantor minggu ini?” Gracia menatapnya dengan ragu.

Shani mengangguk pelan. “Iya, paling dua hari seminggu dulu. Celine bisa bantu jaga Althea juga sementara.”

Gracia menggigit bibir bawahnya. “Aku takut sendirian…”

Shani langsung menggenggam tangan Gracia. “Kamu nggak akan pernah sendirian. Aku tahu kamu kuat, tapi aku juga tahu kamu nggak harus selalu jadi kuat sendiri. Kita jalanin ini bareng-bareng, oke?”

Gracia mengangguk pelan, lalu mencium tangan Shani yang hangat.

Siangnya, rumah mereka kembali ramai. Kali ini bukan tamu undangan, tapi keluarga dekat yang datang membantu dan menyambut peran baru mereka.

Celine dan Chika datang dengan membawa mainan bayi dan sepiring besar lasagna. “Supaya Mama Gracia nggak stress masak, kita takeover hari ini!” kata Chika sambil menjentikkan jari dramatis.

Sementara itu, Shanju datang sambil membawa album foto masa kecil Gracia. “Aku mau Althea lihat ibunya pas umur setahun. Biar dia tahu dia menurun lucunya dari siapa.”

Tak lama kemudian, Anin, Sisca, Cindy, Desy, Okta, dan Jinan juga muncul, membawa boneka dan baju bayi lucu.

“Ini bukan arisan kan?” canda Anin.

“Lebih tepatnya… reuni kecil sambil cuci mata lihat CEO yang sekarang jadi bucin,” balas Desy sambil tertawa lebar.

Gracia hanya bisa menutupi wajahnya dengan bantal sementara Shani berdiri di baliknya sambil menahan malu.

Suasana menjadi begitu hidup obrolan mengalir, tawa berhamburan, dan Althea menjadi pusat perhatian. Semua bergantian menggendong dan menyanyi pelan untuknya. Meski baru beberapa hari, bayi kecil itu seolah tahu ia dikelilingi oleh lautan cinta.

Jika Aku Dipelukmu (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang