Author POV:
Sore itu udara terasa lebih hangat dari biasanya. Langit Jakarta menggantungkan warna jingga pucat, seolah menahan waktu agar berjalan sedikit lebih lambat. Di dalam rumah, suara detak jam berpadu dengan dengusan napas kecil Althea yang tertidur pulas di ayunan kain dekat jendela.
Gracia duduk di lantai, melipat baju bayi dengan rapi. Shani berdiri tak jauh darinya, bersandar di meja dapur sambil memperhatikan ponsel bukan email kantor, melainkan pesan singkat dari Chika.
Chika:
Kak, aku sama Ara mau ke rumah. Santai aja ya.
Shani menghela napas pelan, lalu mengetik balasan singkat.
Datang saja. Rumah terbuka.
Ia meletakkan ponsel, lalu menoleh ke Gracia. “Mereka mau ke sini.”
Gracia tersenyum lembut. “Aku sudah duga. Chika kelihatannya lagi pengen dekat-dekat keluarga.”
Shani mengangguk. Ada sesuatu di dadanya yang terasa lebih tenang dibanding kunjungan sebelumnya. Mungkin karena ia tahu kali ini tidak ada pengakuan besar, tidak ada ketegangan. Hanya ingin hadir, dan diterima apa adanya.
Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi.
Chika masuk lebih dulu, kali ini tanpa wajah tegang. Ia mengenakan hoodie sekolah, rambutnya diikat setengah. Di belakangnya, Ara melangkah sambil membawa dua kantong belanja kecil.
“Kita bawa cemilan,” kata Ara cepat, seolah takut ditolak. “Yang ini bebas gula… katanya aman buat ibu menyusui.”
Shani terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Kamu perhatiannya detail juga.”
Ara menggaruk tengkuknya, malu. “Kebiasaan.”
Gracia menyambut mereka dengan ramah. “Masuk, taruh saja di meja. Kalian datang pas Althea baru tidur.”
Chika langsung mendekat ke ayunan kain, menunduk dengan mata berbinar. “Dia makin keliatan kaya Kak Shani.”
“Jangan-jangan nanti sifatnya juga,” balas Shani santai.
“Kalau sifat Kak Shani, aku sih takut,” canda Chika.
Tawa kecil mengisi ruangan, mencairkan suasana. Ara ikut tersenyum, tapi matanya lebih sering memperhatikan Shani bukan dengan rasa takut, melainkan hormat yang tumbuh pelan-pelan.
Mereka duduk di ruang tengah. Gracia menyeduh teh, sementara Shani duduk berseberangan dengan Chika dan Ara. Ada jeda hening, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti ruang bernapas.
“Ara,” kata Shani akhirnya, suaranya datar tapi tidak dingin, “sekolah gimana?”
Ara tampak terkejut karena ditanya lebih dulu, tapi ia menjawab jujur. “Baik, Kak. Nilai aman. Aku lagi nyiapin lomba debat antar sekolah.”
Chika menyikutnya. “Dia nggak cerita dia kepilih jadi wakil sekolah.”
Shani mengangguk kecil. “Bagus. Itu berarti kamu bertanggung jawab sama waktumu.”
“Iya, Kak. Aku nggak mau ngecewain.”
Kalimat itu membuat Shani teringat sesuatu dirinya di usia Ara. Terlalu cepat dewasa karena keadaan. Terlalu cepat belajar menahan diri.
Ia berdiri, mengambil bantal kecil, lalu duduk lebih dekat. “Aku mau jelas dari awal,” katanya tenang. “Aku nggak akan mengontrol hubungan kalian dengan cara berlebihan. Tapi aku akan tetap jadi kakak Chika.”
Chika mengangguk. “Aku ngerti.”
Shani menoleh ke Ara. “Dan aku akan tetap jadi orang dewasa yang mengawasi. Bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku peduli.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jika Aku Dipelukmu (End)
FanfictionCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Diriku seutuhnya, milikilah"_Gracia_ "Dirimu seutuhnya, Kucintai"_Shani_ Cast utama: 1.Shania Gracia Harlan 2.Shani Indira Natio #Greshan #Jkt48
