Author POV:
Pagi datang dengan cara yang paling sederhana dengan cahaya matahari menyusup pelan melalui sela tirai, menyentuh lantai rumah Shani dan Gracia dengan hangat yang tidak berisik. Tidak ada drama, tidak ada kebisingan kota yang menekan. Hanya napas pelan, dan denyut kehidupan yang berjalan apa adanya.
Althea terbangun lebih dulu.
Bayi itu menggeliat kecil di antara Shani dan Gracia, matanya yang bulat menatap langit-langit seolah sedang memikirkan hal besar padahal mungkin ia hanya lapar atau mencari kehangatan. Tangannya meraba sembarang, lalu menemukan rambut Shani.
“Ma…sha…” gumamnya pelan.
Shani membuka mata, senyum langsung terbentuk tanpa perlu berpikir. Ia mendekatkan wajahnya ke dahi Althea, mengecupnya pelan.
“Iya, mama Shani di sini sayang” bisiknya, meski tahu Althea belum mengerti kata-kata.
Gracia bergerak menyusul, meraih tangan kecil itu dan menempelkannya ke pipinya sendiri. “Dan Mama Gracia juga di sini,” katanya lembut.
Tiga jiwa itu saling bersentuhan dalam keheningan yang utuh. Tidak sempurna. Tidak selalu mudah. Tapi nyata.
Hari ini bukan hari istimewa dalam kalender. Tidak ada ulang tahun, tidak ada perayaan resmi. Tapi bagi Shani, hari ini terasa seperti penutup dari perjalanan panjang yang akhirnya sampai di tempat aman. Ia tahu, babak ini adalah bab terakhir.
Di rumah lain, aroma teh hangat dan kue sederhana memenuhi ruang makan. Naomi menata piring dengan gerakan tenang, sementara Faris membaca koran pagi, kacamata bertengger di ujung hidungnya.
Chika duduk di kursi dekat jendela, menatap halaman depan rumah dengan ekspresi yang jarang tenang, tapi penuh isi. Ara berdiri di dekat rak buku, membaca judul-judul lama yang sebagian besar milik Shani dulu.
“Kak Shani kecil suka buku ini,” kata Ara sambil menunjuk satu buku tua.
Naomi tersenyum kecil. “Iya. Dia keras kepala sejak dulu. Kalau sudah yakin sama sesuatu, susah dibelokin.”
Ara menutup bukunya perlahan. “Makanya… aku pengen jadi orang yang nggak bikin Kak Shani nyesel.”
Kalimat itu tidak dramatis. Tapi Faris menurunkan korannya.
“Kamu nggak perlu menebus apa pun,” kata Faris tegas tapi hangat. “Kamu bukan masa lalu yang menyakiti. Kamu masa depan yang sedang belajar.”
Chika menggenggam tangan Ara di bawah meja. Tidak sembunyi-sembunyi. Tidak ragu.
Naomi memperhatikan mereka, lalu berkata pelan, “Celine pasti senang lihat kalian begini.”
Nama itu membuat ruangan sedikit sunyi bukan karena sedih, tapi karena rindu yang sudah berdamai.
“Dia kirim pesan semalam,” lanjut Naomi. “Proyeknya di luar negeri diperpanjang. Katanya capek… tapi bahagia.”
Chika tersenyum. “Kak Celine hebat banget deh.”
“Aku bangga sama dia,” Faris menambahkan. “Dan aku bangga sama kalian semua.”
Ara menunduk sopan. “Terima kasih, Om… Tante.”
Naomi menggeleng pelan. “Ara.. Mama kan sudah bilang, panggil kita berdua dengan sebutan mama dan papa ya sayang.”
Dan di detik itu, Ara merasa untuk ke sekian kalinya ia benar-benar punya rumah.
Gedung tinggi itu masih sama. Rapi, dingin, penuh tanggung jawab. Shani berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang kota yang bergerak tanpa menunggunya. Ia tidak lagi gelisah seperti dulu. Keputusan itu sudah ia buat. Bukan keputusan yang mudah, tapi keputusan yang jujur.
Ponselnya bergetar, nama Gracia muncul yakni istrinya itu mengirimkan pesan padanya.
Wife🤍🤍
Sayang, Althea baru tidur. Kamu jangan lupa makan siang yaa.
Shani tersenyum kecil.
Ia memanggil asistennya, menyelesaikan beberapa hal terakhir, lalu menandatangani satu dokumen penting. Bukan hal yang cukup rumit. Bukan juga untuk pelarian.
Shani memilih tetap berdiri tapi dengan cara yang tidak mengorbankan rumahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus membuktikan apa pun pada siapa pun.
Sore itu, rumah Kinal dan Veranda ramai dengan tawa. Shanju duduk di tengah ruang tamu, bahunya sedikit tegang sesuatu yang jarang terlihat.
Di sampingnya, seorang laki-laki tampan duduk dengan senyum tenang. Matanya jujur, caranya berbicara sederhana. Ia bernama Andreas kekasih dari Shanju.
“Kita belum mau terburu-buru,” kata Shanju. “Tapi hubungan kita berdua itu serius.”
Veranda menepuk tangan Shanju pelan. “Akhirnya, yang penting kalian berdua selalu bahagia..” katanya lega.
Kinal tersenyum lebar. “Benar, semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkah kamu dan Andreas yaa.”
Shanju menoleh pada Andreas, lalu berkata pelan, “Aku belajar dari Gracia. Tentang mencintai tanpa menunda.”
Dan di rumah itu, masa depan sedang dibangun tanpa perlu disembunyikan.
Malam pun turun perlahan, membawa semua orang ke suatu tempat. Yaitu Rumah Shani dan Gracia.
Faris dan Naomi datang lebih dulu sedangkan Chika dan Ara menyusul. Begitupun Kinal, Veranda, Shanju dan kekasihnya mereka juga ikut hadir. Bahkan panggilan video singkat dari Celine ikut meramaikan.
Althea berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain, tertawa kecil, seolah tahu bahwa dunia ini aman.
Ara berdiri di dekat Shani.
“Kak,” katanya pelan. “Makasih… karena nggak pernah menjauh dariku.”
Shani mengusap kepala Ara. “Kamu bukan beban. Kamu bagian dari hidup aku.”
Gracia memperhatikan itu dari jauh, hatinya ikut lega.
Saat malam semakin larut, semua duduk melingkar. Tidak ada pidato besar. Tidak ada pengakuan dramatis.
Hanya kehadiran. Shani menatap semua wajah yang pernah menjadi luka, pelajaran, cinta, dan rumah.
“Terima kasih,” katanya akhirnya. “Karena sudah bertahan, sudah jujur, dan sudah pulang.”
Gracia menggenggam tangannya. Althea tertidur di bahu mereka. Dan di detik itu, Shani tahu bahwa ia tidak lagi mengejar kebahagiaan karena itu semua sedang dijalani olehnya.
Tidak semua cerita berakhir dengan sorak sorai. Beberapa berakhir dengan napas yang akhirnya lega.
Dan bagi mereka, rumah bukan tempat tanpa luka, tapi tempat di mana luka tidak lagi harus disembunyikan.
~End~
Haii readers kesayangan author hehe, finally sampe juga akhirnya di part terakhir cerita ini. Hmm, sebelumnya author minta maaf sama kalian semua. Karena sudah menggantung cerita ini dengan waktu yang cukup lama. Tapi, author juga bersyukur sama kalian yang selalu setia dan excited buat baca kelanjutan cerita ini.. Terimakasih yaaa❤️❤️.
Seneng banget cerita ini bisa diterima dengan baik sama kalian, author minta maaf kalo misalnya dari awal sampai ending nya tidak sesuai ekspektasi kalian. Dan tulisan nya masih acak-acakan hehe, pokoknya masih banyak kekurangan nya.
Terimakasih pokoknya untuk semuanya, ditunggu ya untuk cerita Greshan selanjutnya wkwk. Love you guys🤍.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jika Aku Dipelukmu (End)
Fiksi PenggemarCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Diriku seutuhnya, milikilah"_Gracia_ "Dirimu seutuhnya, Kucintai"_Shani_ Cast utama: 1.Shania Gracia Harlan 2.Shani Indira Natio #Greshan #Jkt48
