40

808 98 19
                                        

Setelah jam makan siang, mereka semua kembali ke ruang inap Chaeyoung. Mereka berusaha mengontrol perasaaan dan juga ekspresi wajah mereka.

Chaeyoung yang merasa suasananya aneh, mengerutkan keningnya. "Ada apa kalian aneh.."

"Tidak... memangnya ada apa?" ucap Jennie sembari terkekeh, dan itu aneh menurut Chaeyoung lebih baik Jennie bersikap seperti biasanya.

"Seulgi Eonnie.."  panggil Chaeyoung  menatap Seulgi dan melihat wajah kikuk dari Seulgi.

"huh, aku sudah menduga ada yang aneh.. dengan kepribadian Seulgi Eonnie yang tegas, tidak mungkin dia bersikap kikuk bahkan wajahnya terlihat kaku.." lanjut Chaeyoung.

"Yeri.." panggil lagi Chaeyoung pada si bungsu Park yang sedang melihat sekeliling ruangan.
Mendengar namanya dipanggil Yeri segera menatap Chaeyoung dengan ekspresi tanda tanya. "Katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Chaeyoung.

Yeri menatap para Eonnie dengan cemas, apa yang harus dirinya katakan dia bingung sekarang. Mengetahui adiknya bingung Lisa mengambil alih untuk menjawab pertanyaan dari Chaeyoung. "Kami sudah mengetahui, masalah psikologi-mu." ucap Lisa singkat.

Chaeyoung menghela nafasnya lega dia kira ada hubungannya dengan Jae Wook atau pamannya Hee Jin. "Aku tidak apa-apa tenang saja." ucap Chaeyoung yang membuat Jisoo jengah. "Kau selalu menyembunyikannya sendirian Chaeng.."

Chaeyoung tersenyum membalas Jisoo. "Jaehyun, bagaimana dengan kelanjutan kasusnya?"

Jaehyun menghembuskan nafasnya kasar. "Appa dan Haein Samchon berhasil membantu dan Jaewook sudah ditangkap dengan kasus pembunuhan berencana." Chaeyoung menganggukan kepalanya mengerti, untuk kasus pembunuhan berencana di korea selatan tidak akan jauh-jauh dari hukuman mati, bukan dieksekusi tapi pelaku akan menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat (Pasal 250 ayat (2)) menurut pasal ciriminal act korea selatan .

"Semua bukti kuat, dan pastinya Prosecution Service Seoul juga akan bersikap adil, apalagi Jaewook merencanakan dengan rinci dan sadar, salah satunya gedung yang kebakaran kemarin merupakan salah satu bukti yang kuat." lanjut Jaehyun memberikan informasi agar Chaeyoung juga dapat tenang dan tidak memikirkan kasus ini lagi.

"Terimakasih sudah membantu,  Jae.." Chaeyoung tersenyum tulus dan menularkan senyum tersebut kepada semua orang  yang berada diruangan,

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian semua dan masuk dokter Suzy yang akan memeriksa dan menginfokan kapan terapi dapat dilaksanakan.

"Permisi.. Boleh saya masuk?" tanya Suzy tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk.

"Silakan, dok.." jawab Wendy memberikan tempatnya kepada Suzy.

"Kami semua baru saja berdiskusi,  Mereka peduli dan sudah menyetujui jadwal terapi intensif untukmu. Dimulai minggu depan." ucap Suzy setelah memeriksa keadaan Chaeyoung.

Chaeyoung terdiam sesaat. "Terapi? untuk memisahkan?"  

Suzy menggelengkan kepalanya. "Bukan untuk memisahkan, Tapi untuk memahami, supaya kamu bisa merasa lebih stabil dan kami bisa membantu kamu berdamai dengan bagian lain dari dirimu."

Chaeyoung menganggukan kepalanya paham. "Tidak perlu dok, aku sudah berdamai."

"Apa maksudmu?" tanya Suzy menatap dalam Chaeyoung.

"Aku sudah berbicara dengannya. Berkali-kali kami sudah membuat kesepakatan, kami saling percaya, saling tahu kapan harus mundur, kapan harus bertahan." ucap Chaeyoung menatap semua orang yang berada diruangan-nya.

BlackVelvet || That's Me ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang