HAPPY READING
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.
Udara malam ini terasa dingin. Bau tanah basah samar-samar ikut terbawa angin. Sisa hujan masih menetes dari atap, bikin suara kecil yang nyampur sama dengung mesin oksigen di sudut ruangan.
Risku mengerjap pelan, pandangannya buram sesaat sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar. Tubuhnya lemas bukan main.
Mata indah itu bergerak perlahan, mencari keberadaan orang lain di kamarnya.
Meskipun nihil, ruangan ini hanya berisi dirinya sendiri. Dan entah kenapa itu membuat hatinya sakit.
Dulu, waktu mamanya masih di sini, setiap kali Risku sakit, mama tidak pernah meninggalkannya. Tidak sekali pun membiarkannya merasa sendiri.
Sekarang dia cuma punya Sarel. Risku tau, dia ga boleh egois. Sarel pasti sibuk... kakaknya itu juga pasti lelah.
Tak lama, suara pintu terbuka pelan mengusiknya dari lamunan. Sarel masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut menimbulkan suara.
"Loh, udah bangun ternyata," ujarnya, setelah melihat sang adik yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia berjalan mendekat, lalu menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang.
Tangannya terulur, menggenggam tangan adiknya, lalu mengelusnya pelan.
"Abang..." panggil Risku lirih, suaranya nyaris seperti bisikan.
Sarel terdiam sejenak. Paling ga bisa dia tuh kalau Risku udah manggil begitu. Rasanya pengen ngasih dunia buat adeknya itu.
"Hmm?"sahutnya lembut.
Risku menatapnya dalam, lalu air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya jatuh satu per satu, membasahi bantal di bawah pipinya.
"Kangen mama..." ucapnya pelan di balik masker oksigen.
Ia rindu. Rindu mamanya, rindu rumahnya yang dulu utuh. Setiap kali napasnya tersengal, yang dia panggil dalam hati pasti sama: Mama… Papa…
Tapi ia tahu, tidak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan untuk membuat mamanya kembali.
Sarel termangu sejenak.
Perlahan tangannya menggenggam tangan Risku erat.
"Iya... nanti ya, kita ketemu Mama."
"Capek, Rel… capek ngerepotin orang-orang terus," ucap Risku lirih. "Sakitnya gak pergi-pergi."
Sarel terdiam, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengusap kepala adiknya pelan. Berusaha tetap tersenyum padahal matanya sendiri mulai memanas.
"Ngomong apa sih... Gaada yang ngerasa direpotin." Suaranya lembut, tapi bergetar.
Risku menarik napas pendek, suaranya pecah, "Tapi pasti lo capek, kan?"
"Semua orang juga pasti capek, Dit. Gue juga." Sarel menunduk sedikit, suaranya rendah.
"Tapi gue bakal jauh lebih capek kalau lo nggak ada di hidup gue."
Risku menelan ludah, napasnya tersendat karena menangis. "Maafin gue ya."
"Husss... udah, berhenti nangisnya. Nanti sesek. Sekarang istirahat lagi, ya. Jangan mikirin apa-apa dulu." Sarel terus mengelus kepala adiknya hingga anak itu mulai tenang.
Risku yang merasa dirinya merepotkan—merasa dirinya beban—sisi Risku yang ini, Sarel paling tidak suka. Risku itu adiknya, kesayangannya. Apa pun itu, Sarel rela kalau itu tentang Risku.
🖇🖇🖇🖇
Waktu berjalan cepat. Risku tidak tidur, hanya melamun seraya menikmati elusan lembut dari kakaknya. Ia sudah tidak menangis, matanya lelah. Masker oksigennya pun sudah diganti dengan nasal kanul.
KAMU SEDANG MEMBACA
my freaky brother
Teen Fiction"Kenapa ngerokok? katanya sakit."-Dinda "Biar cepet mati."-Risku Risku Aditya Bima, lelaki tampan dengan segala luka, kesedihan dan keabsurdannya. Tak ada yang paham isi otaknya, tak ada yang mengerti dengan isi hatinya, kecuali dia yang mengutarak...
