HAPPY READING
.
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.
.
Game yang ia mainkan tak lagi terasa menyenangkan ketika organ sebesar kepalan tangan di dadanya mulai berdetak tak beraturan.
"Uhhuk.."
Risku mengusap dadanya pelan. Sakitnya tak terlalu tajam, tapi cukup membuat napasnya terasa berat dan tak nyaman.
Stik PS di tangannya ia letakkan sembarangan di sofa. Ia sedang duduk sendirian di ruang tengah rumahnya yang terlalu besar untuk satu orang. Menunggu kakak semata wayangnya yang katanya akan pulang sebelum jam sepuluh.
Om Juned belum kembali dari mengantar Dinda pulang.
Risku terdiam, menatap layar televisi di depannya tanpa benar-benar melihat apa pun. Kepalanya berisik. Terlalu banyak hal datang bersamaan, tanpa aba-aba.
Tentang Gara yang tiba-tiba muncul kembali.
Dan tentang mamanya yang-kata Sarel-akan pulang.
Kalau mama benar-benar kembali, Risku tak tahu harus merasa lega atau bersiap hancur.
Karena kalau mama pulang, rahasia yang selama ini berusaha dikubur rapat-rapat bisa saja ikut bangkit.
Mungkin akhirnya Risku akan mendapatkan apa yang ia rindukan... sekaligus kehilangan apa yang selama ini ia pertahankan.
Sarel masuk dari pintu utama, Juned berjalan di sampingnya. Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius. Suaranya tidak terlalu pelan, tapi tetap tak cukup jelas untuk ditangkap Risku.
Saat melewati ruang tengah, langkah mereka terhenti.
Sarel sedikit terkejut melihat Risku masih duduk di sana. Ia kira adiknya itu sudah tertidur.
"Nungguin gue?" tanya Sarel, seraya berjalan mendekat.
Risku menoleh pelan. Senyum tipis terukir di wajahnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya sayu, tubuhnya jelas kelelahan.
Akhir-akhir ini jantungnya sering tak mau diajak kompromi. Dan pikiran yang terlalu berat hanya membuatnya semakin sulit bernapas.
"Lama banget..." gumam Risku lemah.
Sarel langsung menyadari napas adiknya pendek-pendek, ia sudah terlalu hafal tanda-tanda itu.
"Gak kuat naik sendiri?" tanyanya pelan, lalu berjongkok di depan Risku.
Juned yang mengerti situasi segera membantu, mengangkat tubuh Risku ke punggung Sarel.
Risku bersandar tanpa banyak suara. Lengannya mengait di leher sang kakak tanpa banyak tenaga.
Sarel berjalan pelan menaiki tangga. Juned mengikuti di belakang, satu tangan bersiaga di punggung Risku.
Setelah sampai di depan kamar Risku, Sarel berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang.
"Pulang aja, Saya di rumah malam ini," ucapnya tenang.
Juned mengangguk patuh, "Baik, Mas. Kalau begitu saya pamit. Selamat malam, Mas Sarel, Mas Risku."
Pria itu kemudian melangkah pergi.
"Hati-hati om." kata Risku lirih.
Memang begitu aturannya. Kalau Sarel pulang ke rumah, tugas Juned telah selesai dan dia boleh pulang. Tapi kalau Sarel tidak bisa pulang, Juned akan menginap untuk menemani Risku.
🖇🖇🖇🖇🖇
Sarel membaringkan tubuh adiknya dengan hati-hati di atas kasur. Tak lupa menarik selimut yang lebih muda sampai ke dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
my freaky brother
Teenfikce"Kenapa ngerokok? katanya sakit."-Dinda "Biar cepet mati."-Risku Risku Aditya Bima, lelaki tampan dengan segala luka, kesedihan dan keabsurdannya. Tak ada yang paham isi otaknya, tak ada yang mengerti dengan isi hatinya, kecuali dia yang mengutarak...
