~18~

270 12 0
                                        

HAPPY READING
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.

Ruang kerja Sarel kini terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar. Sarel duduk di sofa, wajahnya penuh kekhawatiran. Dari tempatnya duduk, ia memandang tantenya yang saat ini membelakanginya, menghadap jendela dengan tatapan kosong.

Sabina sudah menghela napas entah untuk yang ke berapa kali. Sejak mendapat kabar dari salah satu anak buahnya semalam, kegelisahan terus mengusik hatinya.

"Tante mau ngomong apa?" tanya Sarel akhirnya, suaranya terdengar pelan, tapi jelas. Firasatnya sudah tidak enak sejak tadi.

Sabina menoleh pelan, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di kursi di hadapan Sarel, menatap keponakannya lama—seolah sedang mencari cara paling tepat untuk bicara.

"Mamamu ingin pulang, Sarel," ucapnya lirih.

Sarel sontak menatap Sabina. Matanya membesar sedikit. Ada jeda beberapa detik sebelum ia bisa merespon.

"Maksud tante apa?"

"Dokter bilang kondisinya lebih stabil, dan mamamu ingin pulang. Dia ingin kembali ke rumah ini."

Sarel mengusap wajahnya kasar, napasnya terdengar berat. "Tante, Sarel bukannya nggak sayang sama Mama. Sarel sayang... banget malah. Tapi gimana dengan Risku?"

Ia menunduk, bahunya merosot.

"Risku bahkan belum tau apa-apa tentang ini semua. Selama ini kita yang berusaha jaga dia, mastiin dia nggak terbebani sama masalah orang dewasa. Kalau tiba-tiba Mama pulang, Sarel harus jelasinnya dari mana?"

Nada suaranya patah, bukan marah—lebih seperti capek yang sudah menumpuk. Matanya menatap Sabina penuh kebingungan, berharap ada jawaban yang bisa menenangkan pikirannya. Ia tidak ingin adiknya terluka.

Sabina menghela napas, lalu bergeser duduk di samping Sarel. Tangannya pelan menyentuh pundak keponakannya.

"Tante tahu, Rel. Tante paham."

"Tapi kalau mamamu yang meminta, tante juga gak bisa lakuin apa-apa."

Sarel mengangkat kepalanya, menatap Sabina dengan mata yang mulai memerah tapi tetap tegas.
"Kita harus lindungi adek Sarel, gimana pun caranya."

Sabina mengangguk, tapi ada ragu di wajahnya. "Tapi, Rel..."

Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata lirih, "Sepertinya ada sesuatu yang Risku sembunyikan dari kita."

Alis Sarel berkerut. "Maksud tante?"

Sabina menatap kosong ke arah meja beberapa saat, lalu kembali memandang Sarel. "Tante ga tau pasti, tapi rasanya, dia tahu lebih banyak dari yang kita kira.”

Sarel terdiam, pikirannya berputar cepat mencoba memahami maksud perkataan tantenya. "Jadi Risku tau sesuatu, tapi selama ini dia diem aja?"

Sabina menatapnya lekat, lalu mengangguk pelan. "Rel, kamu harus ingat. Risku itu terlalu dalam untuk kita selami. Kita nggak akan pernah benar-benar bisa mengerti dia."

Hening sejenak. Sarel menatap kosong ke depan, pikirannya semakin berantakan. Hingga tiba-tiba, suara getar ponsel memecah keheningan.

Ia mengeluarkan ponselnya, melihat siapa yang menghubungi. Begitu membaca nama yang tertera di layar, ekspresinya berubah.

"Nanti kita lanjut, Tante. Sarel ada operasi," katanya singkat, lalu bangkit dan pergi dengan cepat.

Sabina hanya menatap punggung keponakannya menghilang di balik pintu. Kekhawatiran yang tadi menggantung… masih ada di sana. Tidak berkurang sedikit pun.

my freaky brotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang