HAPPY READING
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
(Tw//mentionofsuicide)
"Enggak, jangan. Risku mohon, turun, Raka... jangan seperti ini."
Langit malam di atas sana gelap, hanya sesekali diterangi kilatan petir yang menyayat angkasa. Gedung tinggi tempat mereka berdiri tampak seolah tak berujung, menjulang menusuk awan kelam.
Di tengah derasnya hujan, Risku terus berlari, mencoba mendekat. Namun, sekuat apapun dia berusaha, jaraknya dengan Raka tak terkikis sedikitpun.
Raka berdiri di sana, di ujung pagar pembatas, hanya setengah tubuhnya yang masih di atas lantai. Senyum tipis menghiasi wajahnya, namun tatapan mata itu kosong. Hampa.
Keputusasaan mulai merayapi hati Risku. Tubuhnya ambruk ke lantai yang dingin. Ia bersimpuh, air matanya mengalir deras, mengguyur wajah yang sudah sembab. Napasnya sesak, seperti ada yang mencekik dari dalam.
Tangannya terulur, penuh harap, berusaha menggenggam seseorang di depan sana.
"Risku mohon... jangan. Maafin Risku, Risku egois..." suaranya terdengar lirih, menggigil bersama hujan, penuh permohonan agar Raka mengurungkan niatnya.
Risku benci melihat Raka yang hanya tersenyum. Sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya, tangan yang biasa menenangkannya itu melambai lembut seolah mengucapkan selamat tinggal. Lalu sepersekian detik, Raka benar-benar lenyap dari pandangannya, tubuhnya telah hilang, terjun ke bawah.
"Enggak, Raka, JANGAN!!!!"
"RAKA!!!"
Risku terbangun dengan napas memburu, tubuhnya bersimbah keringat meski ruangan terasa dingin. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang suram.
Hujan deras di luar benar-benar nyata. Tetes-tetes air menabrak jendela kaca kamarnya dengan irama yang kacau, persis seperti mimpi buruknya tadi.
"Hahh..."
Risku duduk terdiam, membiarkan napasnya yang putus-putus kembali normal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menoleh ke arah meja belajar.
Di sana, foto dirinya dan Raka terpajang, menyambutnya dengan keheningan yang menusuk. Matanya memanas disusul lelehan air mata yang berjatuhan.
"Maaf" gumamnya lirih penuh sesal.
Seperti bicara pada masa lalu yang tak pernah memudar.
Kepergian Raka merupakan suatu mimpi buruk yang terus menghantui hidup Risku. Ia hidup dalam bayang-bayang penyesalan, terjebak di hari itu.
"Maaf... maaf... maafin Risku..." Tangannya bergetar saat ia menyeka air mata yang terus mengalir.
Risku memeluk lututnya erat, menenggelamkan wajah di sana.
Dadanya seperti dihantam batu besar, menekan hingga ia sulit bernapas.
Bayangan hari itu seketika terlintas di kepala, hari dimana Raka memilih mengakhiri segalanya, meninggalkan dunia, dan dirinya, untuk selama-lamanya.
Tanpa seorang pun tau, Risku selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Raka. Ia hukum dirinya dengan rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Malam-malamnya tak pernah tenang, mimpi yang setiap hari hampir sama selalu menghampiri. Tidurnya selalu terpotong dan baru bisa terlelap kembali setelah shalat shubuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
my freaky brother
Fiksi Remaja"Kenapa ngerokok? katanya sakit."-Dinda "Biar cepet mati."-Risku Risku Aditya Bima, lelaki tampan dengan segala luka, kesedihan dan keabsurdannya. Tak ada yang paham isi otaknya, tak ada yang mengerti dengan isi hatinya, kecuali dia yang mengutarak...
