~20~

290 23 1
                                        

HAPPY READING
.
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.

Risku menatap map berlogo rumah sakit itu lama. Hasil tes DNA dirinya dan sang papa menunjukan 99,9% kecocokan, yang berarti dia memang anak dari papa dan mamanya.

Jadi iya…
dia memang anak mereka.
Semua normal. Semua sesuai. Seharusnya begitu.

Tapi kenapa?
Kenapa sampai melakukan tes DNA? Apa mama pernah meragukan sesuatu tentang dirinya? Atau tentang keluarga mereka sendiri?

Ia meletakkan map itu pelan, lalu mengambil flashdisk hitam kecil di sampingnya. Flashdisk itu dingin di tangannya, dingin seperti perasaan yang selalu muncul tiap kali benda ini ia sentuh.

Rekaman kecelakaan tiga tahun lalu. Rekaman yang dia temukan sendiri. Rekaman yang dia simpan sendiri.

Dan di rekaman itu—
plat mobil yang menabraknya terlihat jelas. Plat mobil dengan nama dia. Plat mobil mamanya.

Risku memejamkan mata.
Sesak.

Apa benar mama pelakunya? Tapi...kenapa?

Fragmen-fragmen itu, potongan-potongan kecil yang dia punya, semuanya cuma bikin kepala Risku makin penuh. Semua kepingan puzzle yang nggak pernah pas satu sama lain.

Semua ini dia simpan sendirian.
Bukan karena dia mau… tapi karena dia nggak tau harus percaya siapa.

Karena Risku tahu—ada sesuatu yang besar. Sesuatu yang udah lama disembunyiin orang-orang yang seharusnya dia percayai.

Risku menutup brankas itu pelan. Bunyi klik-nya terdengar kecil. Dia berdiri, menarik napas dalam—yang malah bikin dadanya makin sesak. Entah karena jantungnya… atau juga karena kehilangan-kehilangan yang numpuk dan nggak pernah dikasih kesempatan buat sembuh.

Ia bersandar ke rak sepatu, menatap lantai dingin di bawahnya.

Hidupnya dulu sederhana—hangat malah. Rumah penuh suara tawa, pelukan yang nggak pernah ia ragukan.

Tapi dalam hitungan beberapa tahun, semuanya runtuh, dunianya yang dulu hangat dan penuh cinta tiba-tiba berubah jadi asing dan dingin kayak gini.

Mama dan papanya pergi.
Rumah jadi sepi.
Dan dia… nggak pernah dikasih kesempatan buat ngerti apa yang sebenarnya terjadi

Dari kecil dia diajarin soal cinta lewat keluarganya, tapi begitu dia mulai ngerti hidup, semua itu direnggut satu-satu.

Risku menelan ludah, pahit.
Kadang-kadang dia mikir, apa hidupnya mulai rusak dari kecelakaan itu?
Atau jauh sebelum itu?
Dia sendiri nggak tahu.

Yang jelas sekarang, hanya ada dia, ruangan dingin itu, dan rahasia yang terus ia simpan.

Dan Risku masih berusaha nyari, potongan demi potongan, buat ngerti: apa yang sebenernya terjadi sama keluarganya?

🖇🖇🖇🖇🖇

Langit sudah gelap sepenuhnya saat Risku memutuskan untuk keluar rumah. Rutinitas kecil yang selalu ia lakukan.

Setidaknya seminggu sekali, ia akan berjalan menuju taman komplek rumahnya, tempat yang rasanya masih menyisakan sedikit bagian dari dirinya yang dulu.

Udara malam menusuk kulit, tapi Risku sudah terbiasa. Sweater lembut dan jaket tebal menutup tubuhnya, sementara kedua tangannya tenggelam di saku.

Halaman rumah sepi. Sarel jelas belum pulang. Kalau Sarel ada, Risku pasti udah dicegat dari tadi—ditanya mau kemana, jam berapa pulang, bawa obat apa nggak. Sekarang? Ya lumayan bebas.

my freaky brotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang