🖇

190 13 7
                                        

🖇Full flashback

Happy Reading...

–––—————–––—————

Sore itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun—usia yang seharusnya diisi dengan suara riuh dan langkah kaki ke sana kemari.

Sarel duduk di salah satu kursi meja makan. Mobil-mobilannya tersusun rapi di sebelah buku pelajaran kelas satu SD. Di tangannya, sebuah robot-robotan ia otak-atik tanpa minat. Sudah hampir setengah jam ia bermain sendirian.

Sembari menyiapkan makan malam, Mama sesekali melirik ke arahnya.

Tak lama kemudian, pintu utama terdengar dibuka pelan. Papa akhirnya pulang. Kemejanya masih rapi, meski dasinya sudah sedikit longgar. Ia berjalan mendekat ke arah Sarel, mengecup kening putranya singkat, lalu mengelus rambutnya sebentar.

"Gimana sekolah hari ini? Seru?" tanyanya sambil duduk di kursi sebelah Sarel.

"Biasa aja," jawab Sarel datar.

Papa hanya tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan jawaban irit dari anaknya.

Mama datang dari arah dapur, membawa segelas air untuk Papa. Ia menghela napas pelan saat mendengar jawaban Sarel.

"Kok jawabnya gitu sih, sayang?"

Sarel menoleh, menatap Mama sekilas. "Emang biasa aja, Ma. Nggak ada yang istimewa. Nggak ada yang menarik."

Mama dan Papa saling pandang singkat. Tak ada yang menanggapi lebih jauh.
Mama kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya. Papa berdiri, menuju kamar untuk membersihkan diri.

Malam turun cepat.

Keluarga kecil itu duduk mengelilingi meja makan. Mama di samping Papa, sementara Sarel duduk tepat di hadapan mereka.

Tak banyak suara, hanya bunyi sendok beradu pelan dengan piring.

"Ma, Pa."

Sarel mengangkat kepala. Tatapannya serius, terlalu serius untuk anak seusianya.

Papa berhenti makan. "Kenapa, Rel?"

Sarel diam sebentar, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu, tanpa perubahan ekspresi, ia berkata,
"Aku pengen punya adek."

Sendok di tangan Mama hampir terlepas. Papa langsung tersedak, batuk kecil sambil menepuk dadanya.

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Adek?" Mama menatap putranya, suaranya lembut. "Kenapa tiba-tiba?"

Sarel mengangkat bahu. "Biar rame aja. Di rumah sepi kalau Papa kerja, aku cuma berdua terus sama mama. Pengen ada yang bisa aku ajarin main bola."

Papa yang sejak tadi diam akhirnya menoleh ke arah Mama, tatapannya bertemu dengan mata istrinya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang sudah lama mereka simpan berdua.

"Mama…" suara papa pelan. Peringatan, sekaligus permintaan.

Mama mengangguk kecil. Lalu menatap Sarel lagi. "Mama nggak bisa punya adek buat kamu, sayang."

Sarel mengerutkan kening. "Kenapa?"

Jawaban itu terlalu besar untuk anak sekecil itu.

Papa mengambil alih. "Karena mama pernah sakit. Tapi sekarang mama udah sembuh," katanya cepat. Terlalu cepat.

Sarel mengangguk pelan, meski jelas belum sepenuhnya mengerti. Dalam pikirannya yang sederhana, jika punya adik berarti membuat Mama sakit, maka keinginan itu tak lagi penting.

my freaky brotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang