Aku menemukan kedua orang tuaku di ruang tamu bersama kak Cathrine dan kak Virgo. Semua orang yang sedang berbahagia melihat hasil belajar kak Cathrine dan kak Virgo menjadi terdiam di saat kedatangan aku dan Bibi Ras.
"Gimana hasilnya Caith? Pasti jelek." Kata kak Virgo sambil tersenyum meremehkanku.
"Tidak kok! Aku juara 1." Jawabku dengan sumringah.
Daddy menyahut. "Ah, juara 1 di sekolahmu pasti juara terakhir di kelas Cathrine."
Oh Tuhan! Seketika hatiku terasa ditusuk oleh ribuan jarum halus.
Aku kecewa, benar-benar kecewa! Karena prestasi yang susah payah aku raih tak penah dihargai sama sekali.
Dengan memendam rasa kecewa aku berlari menuju kamarku, kuratapi kembali semua ketidakadilan ini.
Bahkan aku tidak keluar kamar selama dua hari pun tak ada yang peduli. Semua orang dirumah hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kecuali Bibi Ras yang hampir setiap jam membujukku untuk keluar.
Maagku kambuh, rasanya teramat perih dari yang biasanya.
"Oh Tuhan, kuatkan aku!" Pintaku dalam hati.
Di hari ketiga aksi diamku di kamar, tiba-tiba rumahku terdengar sebuah suara yang sangat kukenal.
Ternyata hari ini, keluarga Om Frans sudah tiba di Jakarta untuk berlibur bersama keluarga kami.
"Om Frans? Tante Viona? Dimas? Ah Aku merindukan kalian." Gumamku senang di dalam kamar.
Aku segera keluar dari kamar untuk menemui mereka terutama Dimas. Namun ternyata ia sudah berubah dan tak peduli lagi padaku. Semuanya benar-benar berubah, Dimas tidak lagi seperti dulu dan janjinya dulu untuk menemuiku, ia ingkari.
Penantianku sia-sia sekarang. Mereka yang menyayangi dulu sekarang malah berbalik membenciku dan menjauhiku.
Aku sendirian dirumah. Bibi Ras pulang ke kampung karena anaknya sakit. Sedangkan yang lain sedang makan malam di restorant italia. Menyedihkan sekali, kan? Aku tidak diajak! Harusnya aku ikut pergi ke kampung saja bersama Bibi Ras tadi!
"Apa kesalahanku pada mereka!!? Kenapa selalu aku yang di asingkan seperti ini!? Aku tak di anggap lagi oleh keluargaku!!!!" Jeritku histeris.
Aku terus saja menangis histeris karena aku sendirian di rumah. Mereka semua tidak ada di sini, sehingga aku bisa bebas mengeluarkan beban kesendirianku.
Tidak lama setelah aku kelelahan menangis. Keluargaku dan keluarga Dimas pulang. Cepat-cepat aku mencuci wajahku untuk menghapus jejak aliran air mataku.
***
Aku hanya makan dan terus saja memasukkan roti berselai srikaya ke mulutku. Sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang di meja makan dengan topik kak Cathrine, kak Virgo dan Dimas.
Yang aku tahu, orang tuaku terus membanggakan kedua anak mereka tersebut tanpa sedikitpun menyinggungku yang juga anak mereka.
Om Frans dan Tante Viona juga turut berubah padaku, mereka sama sekali tidak menyapaku di meja makan ini. Aku seperti kerikil. Terlihat namun di abaikan.
Sesudah sarapan pagiku habis. Aku segera pamit menuju taman belakang yang ternyata di sana sudah ada kak Cathrine dan seseorang yang sangat aku sayangi, Dimas.
Aku melihat Dimas memberikan setangkai mawar pada kak Cathrine.
Ternyata mereka sudah jadian dan aku tahu bahwa Dimas telah melupakan janjinya dulu termasuk melupakan aku.
Ya Tuhan.. kuatkanlah hatiku.
Next~

KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Me?
RomanceDulu mereka menyayangiku dengan kasih sayang yang tulus.. Tapi sekarang mereka seakan tak pernah menganggap diriku ada. Bahkan untuk meminta perhatiannya saja seakan mereka tak pernah mendengar apa yang aku rasa. Kalian selalu memperlakukanku berbed...