Akhirnya, hari yang telah lama aku nantikan tiba juga. Hari ini, kejuaraan karate tingkat nasional di kotaku akan berlangsung. Aku sudah mempersiapkan diriku dari jauh-jauh hari. Aku akan terus membuktikanku bahwa aku juga punya prestasi sama seperti kak Cathrine dan kak Virgo!
Namun sayang, semua orang yang kusayangi tak ada yang mau hadir di sini. Mereka meremehkanku dan berkata bahwa aku lemah tidak akan mungkin bisa menang. Semuanya memilih hadir di perlombaan kak Cathrine, olimpiade sains.
Walau sedikit kecewa, akan kubuktikan bahwa aku adalah Caithline yang hebat. Tidak akan aku kecewakan keluargaku dan sabuk hitamku. Aku akan berjuang sekuat tenagaku untuk mengalahkan lawan-lawanku ini.
Keinginanku akhirnya terwujud! Aku memenangi kejuaraan karate tingkat nasional tahun ini! Bukan main rasanya kebahagiaanku.
"Kita panggil juara nasional karate tahun ini. Caithline Zivanna dari Jakarta." Panggil pembawa acara. Aku menangis terharu meskipun keluargaku tidak melihat semua ini.
Dengan diiringi tepuk tangan meriah, aku menaiki podium kebesaranku, menerima piala serta hadiah. Kurasakan aku sangat dihargai disini.
At home
Setibanya di rumah, aku meletakkan piala dan piagamku di altar yang ada di ruang tamu. Namun di saat kedatangan kak Cathrine dan yang lainnya, kulihat kemurungan di sana. Dan setelah melihat piala karateku, kak Cathrine malah menangis dan berlari menuju kamarnya.
"KAMU SENGAJA MELEDEK CATHRINE!?" Seru Daddy marah kepadaku. Mommy dan kak Virgo juga ikut geram kepadaku.
"Gak, Dad! Maksud Daddy apa sih?" Tanyaku tak mengerti.
"Cathrine kalah sedangkan kamu menyombongkan diri dengan memajang pialamu di ruangan ini! Kamu tahu kan bahwa di ruangan ini hanya piala Cathrine dan Virgo yang boleh menempatinya!!" Jawaban daddy sungguh membuatku amat sangat kecewa.
"Ambil pialamu!" Ucap Mommy ketus padaku.
Kuambil pialaku yang sangat aku harapkan menjadi penghubung agar keluargaku menyanjungku juga. Sebuah harapan yang sejak dulu selalu aku inginkan. Karena aku selalu iri di setiap kak Cathrine dipuji dan disanjung oleh Mommy dan Daddy serta semua tamu yang pernah berkunjung kerumahku.
Sekarang pertanyaan terbesarku adalah..
"Why Should Me, Mom and Dad?"
Pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh lisan, namun terjawab oleh perbuatan mereka padaku. Memang aku yang selalu tersingkirkan oleh ketidakadilan ini.
***
Hari demi hari terus berganti, dan semenjak kejadian itu pula kak Cathrine menjadi seseorang yang pemurung.
Aku bisa merasakan perasaannya yang tertekan karena ia kalah dalam olimpiade. Yang kutahu, saudara kembarku ini terlihat lemah dari yang biasanya.
"Udahlah kak, gak ada gunanya di tangisin terus." Ucapku menyemangati kak Cathrine.
"Stop Caith! Kamu pasti senang kan ngeliat aku kaya gini? Kamu senang kan ngeliat aku kalah?" Jawabnya dengan menangis histeris.
"Gak kak, gak! Aku gak pernah ada niatan kaya gitu." Sahutku sabar.
"Udahlah, pergi kamu dari kamarku, pergi sa──" Ucapan kak Cathrine terpotong karena akhirnya ia terjatuh tepat di depanku.
Aku seketika panik dan berteriak histeris.
"Mom, Dad! Tolong kak Cathrine! Kak Cathrine pingsan, Dad!" Teriakku dari kamar kak Cathrine.
Terdengar suara orang berlari menuju kamar kakak kembarku ini. Mommy dan Daddy terkejut melihat kak Cathrine tidak sadarkan diri.
"APA YANG KAMU LAKUKAN PADA CATHRINE!!?"
"A-aku aku gak ngapa-ngapain dia, Dad! Sungguh!" Sahutku panik. Di saat seperti ini mereka masih menyalahkanku.
"Pasti penyakitnya kambuh lagi, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit." Ucap Mommy pada Daddy.
Aku hanya mematung. Daddy segera saja membopong kak Cathrine keluar dari kamarnya.
Next~

KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Me?
RomanceDulu mereka menyayangiku dengan kasih sayang yang tulus.. Tapi sekarang mereka seakan tak pernah menganggap diriku ada. Bahkan untuk meminta perhatiannya saja seakan mereka tak pernah mendengar apa yang aku rasa. Kalian selalu memperlakukanku berbed...