Pagi ini aku diantar oleh kak Willy ke sekolah. Karena arah kampus kak Willy searah dengan sekolah ku. Saat sudah sampai disekolah, aku langsung berpamitan dan langsung bergegas masuk ke kelas.
Seperti biasa, kelas masih sangat sepi. Aku memutuskan untuk tidur karena sekarang aku sangat kelelahan sehabis jalan jalan dengan kak Bian kemarin.
"Al," Naya membangunkanku, karena bell tanda masuk akan segera berbunyi.
"Hemm," Aku hanya bergumam.
Naya terlihat kaget saat melihat wajahku, "Al kau sakit?" Tanya Naya memastikan.
"Hah? Enggak kok."
"Pucet banget Al, ke UKS aja yuk," ajak Naya. Tapi aku menolaknya. Naya tidak bisa memaksa ku lagi, karena guru tata boga -bu Ara- sudah masuk ke kelas.
Setelah pelajaran bu Ara berakhir, bu Ara memberikan tugas untuk membuat sebuah masakan khas sebuah negara yang akan dilakukan perkelompok. Aku berkelompok dengan Florent, Cakra dan Nail. Kami memutuskan akan kerja kelompok di rumah Florent hari ini, setelah pulang sekolah.
Setelah pelajaran tata boga ada pelajaran fisika, tapi hari ini gurunya tidak masuk karena ada urusan. Teman teman berteriak dengan heboh saat mengetahui pak Arya tidak masuk.
Kau tahu, teman teman ku tidak menyukai pelajaran fisika, karena fisika membutuhkan logika. Padahal pelajaran fisika merupakan pelajaran peminatan untuk jurusan IPA. Aneh memang.
Karena pak Arya tidak ada, teman teman sekelas sibuk dengan kelompoknya masing masing untuk membicarakan masakan apa yang akan dibuat.
"Bagaimana kalau masakan Perancis? Menurut ku itu lumayan gampang," Nail memberikan saran.
"Apa yang kau tahu dari masakan Perancis?" Tanya Cakra.
"Bisa kita cari di internet. Apa susahnya."
"Udah udah. Kalian kok malah ribut," Florent mencoba melerai.
"Bagaimana kalau makanan dari daerah Italia? Itu jauh lebih gampang dari masakan Perancis," Ucap ku. Aku tidak memperdulikan Nail dan Cakra yang ribut.
"Boleh," ucap Nail dan Cakra barengan.
"Kompak tuh," aku dan Florent tertawa. Sedangkan Nail dan Cakra memasang tambang, entah lah, seperti tampang tidak suka.
Setelah cukup lama memikirkan appetizers, main course dan desserts dari negara Italia, bell istirahat berbunyi.
"Duluan ya," cakra dan Nail pergi, karena mereka ingin cepat cepat ke kantin.
"Mau ke kantin Al?" Tanya Florent.
Aku menggelengkan kepala. Entah mengapa kepala ku hari ini sakit sekali.
"Apa kau ingin menitip sesuatu?" Tanya Naya.
"Tidak terima kasih. Sudah sana, nanti kantin keburu penuh," jawab ku.
Kelas sangat sepi, seperti yang kalian tahu, semuanya sedang pegi ke kantin. Aku memutuskan untuk tidur, karena kepala ku rasanya berat sekali. Tapi aku tidak bisa tidur, akhirnya aku memilih untuk membaca novel yang belum selesai dibaca. Beberapa menit kemudian, bell tanda masuk berbunyi.
-W-
Setelah pulang sekolah, aku Cakra dan Nail langsung berangkat ke rumah Florent. Seperti yang kalian tahu, kami akan mengerjakan tugas memasak.
"Mari masuk," ajak Florent saat kami sampai dirumahnya.
Kami memasuki rumah Florent yang terbilang luas. Aku melihat banyak sekali figura Florent dengan Nata.
Couple.
Tiba tiba mata ku tertuju pada sebuah gambar seorang gadis yang memakai flower crown.
Apa Nata yang membuatnya juga?
Florent mengarah kan kami kesebuah ruangan yang terdapat disudut rumah. Saat kami masuk keruangan tersebut, ternyata ruangan itu adalah tempat belajar. Diruang belajarnya, tetap terpasang foto Florent dengan Nata. Tapi foto disini jauh lebih romantis. Nata memeluk Florent dari belakang dengan muka Florent yang memerah.
"Duduk dulu aja," ucap Florent membuyarkan lamunan ku.
"Non Flo, ini minuman sama cemilannya," seseorang memanggil Florent.
Florent langsung membuka pintu dan membawa semua minuman serta makananya sendiri, sebelumnya Florent mengucapkan terima kasih. Flirent membawa minuman serta cemilannya menggunakan troli.
"Ayo diminum," Florent menawari kami.
"Nanti aja, kita pikirin tugas dulu," Cakra menjawabnya.
Florent menganggukan kepalanya.
Kami berdiskusi mengenai makanan apa saja dari negara Italia yang akan kami buat.
Kami memutuskan untuk membuat bruschetta, spaghetti, dan panna cotta.
"Pulang ya Flo," ucap Nail pada Florent setelah kami selesai kerja kelompok.
"Oke hati hati ya. Jangan lupa nanti kita kerja kelompok lagi," Nail dan Cakra megacungkan jari jempolnya.
"Aku disini dulu ya, nunggu dijemput," Ucap ku saat Nail dan Cakra sudah pulang.
"Oke gapapa,"
Aku dan Florent duduk diruang tamu sambil menunggu kak Willy menjemputku.
"Nata? Apa kabar?" Aku mendenger suara orang yang sedang berbicara di luar rumah Florent.
"Baik."
Tunggu. Suaranya mirip kak Willy dengan Nata.
Cekrekk.
Florent membuka pintu,"Kirain siapa," ucap Florent saat berada diluar rumah. "Masuk dulu aja."
"Enggak usah. Aku juga mau pulang. Makasih ya Flo," aku pamit pulang pada Florent karena ada Nata. Aku takut mengganggu mereka.
Tidak. Sebenarnya aku hanya takut, bahwa aku belum siap melepaskan Nata.
-W-
Gak nyambung sama judulnya ya? :'

KAMU SEDANG MEMBACA
Waiting
Teen FictionMenunggu. Aku akan menunggu mu. Menunggu sampai kamu benar benar seperti dulu. Sampai kamu mau melihat ku. Aku memang bodoh. Aku bodoh karena menunggu yang tidak pasti. Tapi bukankah cinta harus diperjuangkan? Tapi mengapa harus aku yang berjuang? s...