Jantung ini berhenti berdetak saat aku menatapnya
Mata ini tak bisa melepaskan pandangannya
Semua tubuhku seakan beku karenanya
Apakah hanya aku yang merasakannya?
Setiap caramu melihatku,
Setiap kali kamu bercengkrama denganku,
Setiap tatapan kita dipertahankan,
Bukankah kamu juga merasakannya?
Atau mungkin hanya khayalanku belaka,
Berpikir seolah-olah kamu sama sepertiku
Oh, betapa bodohnya aku!
Terlalu terbuai dengan semua ini
Segala tatapan,
Segala senyuman,
Segala perhatian,
Semua kau limpahkan padaku.
Hingga pada akhirnya aku tersadar,
Perlakuan manis ini bukan hanya untukku.
-Ntlz
Raka terpaku di depan mading. Puisi ini jelas-jelas menyindirnya secara halus, ia tahu betul singkatan dari 'Ntlz' itu Natliza yang tidak lain nama belakang Raiska. Namun, sejak kapan Raiska tertarik pada sastra? Bukannya dia sangat membenci sastra?
Lagi-lagi perasaan bersalah menelusup ruang hatinya. Rasa bersalah itu sebenarnya telah muncul dari dua hari yang lalu. Ya, sudah dua hari berlalu sejak Raiska mengungkapkan perasaannya pada Raka. Raka bingung harus berbuat apa, di satu sisi ia sangat senang Raiska memiliki rasa yang sama terhadapnya, namun di sisi yang lain ia mulai membuka hatinya untuk Vanka.
Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Tidak tahu kemana ia akan melangkah sekarang.
"Ka! Raka!" Terlihat Vanka melambaikan tangan sumringah sambil berlari kecil ke arahnya.
"Kok gak ke kantin? Tadi gue udah celingak-celinguk nyariin lo tau. Malu." Ia memanyunkan bibirnya membuat Raka tertawa kecil, "Ngapain, heh? Kangen, yaa."
"Dih, pede banget jadi orang. Udah bagus dicariin."
"Ah, bilang 'gue kangen elo, Raka' gitu aja susah," Raka tersenyum jahil. Ia menoel-noel dagu Vanka.
"Males banget bilang kaya gitu. Hih."
"Cuma empat kata, kok! 'Gue kangen elo, Raka'. Gampang, kan? Kalo kangen tuh bilang ke orangnya langsung. Jangan dipendam, sakit loh."
"Tahu, ah. Gue ke perpustakaan dulu. Bye," ia berlagak kesal kemudian pergi meninggalkan Raka sendiri.
"Yeh, gitu doang marah. Tungguin gue, dong!" Ujar Raka seraya mengejar Vanka.
Tanpa mereka sadari, Raiska melihat semua itu. Ia bersangga pada pilar di sebelahnya. Tubuh mungil itu sudah limbung sejak tadi.
Dadanya terasa sesak melihat Raka seolah-olah melupakan kejadian dua hari yang lalu. Kembali tetesan air mengalir dari matanya untuk kesekian kalinya.
"Gue kangen elo, Raka," Bisiknya parau.
***
HAI! Cie update lagi. HEHEHE
Setelah berbulan-bulan berkutik dengan buku pelajaran dan tidak adanya ide akhirnya part lima pun muncul! Yeay!Maaf banget cuma dikit. I'm so so so sorry
Makasih banget-nget-nget yang udah vote, comment, bahkan masukin reading list! Love you, guys! xx
Read, vote and comment terus, ya! HE.
Love,
Kirana Proxy

KAMU SEDANG MEMBACA
Best-Friend [zone]
Teen FictionGue, Raka Adiperwira. Gue cuma salah satu dari most wanted boys di sekolah tercinta gue, SMA Trianisda. Dibalik semua itu, gue punya masalah yang sangat penting. OWSHIT I'M FRIENDZONED. And this is my story.