Bab 7: Pendekatan Pertama

781 51 10
                                        


Bab 7

Pendekatan Pertama

*

Kau,seperti yang berkali-kali kukatakan,tak memerlukan panggung untuk mendapat seluruh perhatianku.-Adimasnuel-

*

Rio mengawali pagi harinya dengan membuka jendela dan menghirup udara sebebas-bebasnya. Dia tersenyum sama lebarnya seperti jendela kamarnya yang terbuka.Siapa yang tahu bahwa pagi ini Rio begitu semangat menjalani harinya? Maka pemuda itu sudah siap bahkan saat ini masih jam 6 pagi dan udara Jakarta masih lumayan sejuk.

Rio menyambar kunci audi silver miliknya dan mulai melaju membelah Jakarta yang masih tampak lenggang. Sesekali dia melihat kearah GPS milik Shilla dan tertawa kecil mengetahui bahwa gadis itu masih dirumah dan belum berangkat.

Ia memutar setirnya memasuki perumahan bergaya victoria dan muai mencari rumah Shilla dari nomor-nomor rumah yang terpampang besar-besar. Lalu akhirnya ia berhenti di depan gerbang hitam pekat. Seorang satpam mengetuk jendela mobil Rio hingga mau tak mau pemuda itu membukanya.

"Saya mau jemput Shilla." Kata Rio langsung tanpa perlu ditanya. Lalu pak satpam itu mengangguk dan membuka gerbang untuk mobil Rio.

Rio melangkah turun dan berjalan menuju pintu jati lalu mengetuknya. Tak perlu menunggu lama, senyum Rio akhirnya mengembang melihat Shilla masih mengenakan piyama kostum unicorn pink miliknya. Gadis itu tampak kaget lalu samar-samar Rio melihat rona merah di pipi gadis itu.

"Abis dari negeri dongeng ya?" Ledek Rio. Shilla melotot.

"Berisik. Ngapain sih pagi-pagi dateng?! Siapa juga yang ngasih tau lo alamat gue?!" Shilla mendelik kesal dan itu malah membuat Rio makin gemas.Rio mengulum senyum lalu mengangkat handphone miliknya.

"Teknologi. Selalu tahu apapun." Katanya kalem. "Ayo siap-siap. Ini udah setengah tujuh, dan lo rela terlambat?" Tanya Rio.

Shilla kemudian berbalik tanpa berkata apa-apa sedangkan Rio tanpa disuruh sudah masuk dan duduk dengan santai di sofa empuk ruang tamu rumah Shilla. Rio tidak melihat ada manusia lain disini selain Shilla. Sepi. Seperti rumahnya.

Rio tersenyum kecut. Toh, setidaknya, gadis itu tidak pernah merasa kesepian sepertinya.Lagipula, Shilla punya banyak teman karena gadis itu mudah bergaul dan mudah terseyum -kecuali kepada Rio tentu saja-.

Shilla keluar dari kamar dengan terburu-buru dan menemukan Rio tengah duduk sambil menaruh kedua kakinya diatas meja. Tamu tidak sopan yang datang pagi-pagi hanya untuk merepotkannya. Shilla menghembuskan nafas kesal dan menatap Rio yang kini tersenyum dan berjalan kearahnya.

"Gak sarapan?" tanya Rio sambil tersenyum semanis mungkin. Shilla melengos kesal.

"Udah telat. Nanti aja." Sahutnya singkat. Rio mengangkat bahu lalu berjalan disamping Shilla menuju mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Shilla.

Didalam mobil, Rio terdiam dan bingung untuk membuka percakapan. Pasalnya, tiba-tiba saja Shilla mendiamkannya. Memang salahnya juga mendiamkan Shilla sejak kejadian curhat colongan waktu itu. Mungkin, pikir Rio, Shilla hanya membalas apa yang sudah ia lakukan waktu itu. Berdiam diri yang membuat orang lain berpikir apa ada yang salah.

Kalau memang benar begitu, Rio tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf. Rio sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf sejak kejadian beberapa tahun lalu. Menurutnya, maaf adalah kata klise yang diucapkan untuk memunafikkan diri pada kesalahan yang terkadang sengaja dilakukan.

Oh, My Rio...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang