Part 11. Permintaan Mas Rama 1

6.5K 374 30
                                        

Helloooo apa kabar? Hahaha maaf baru update. Hp rusak, ini nebeng hp suami hihihi TwT

Entah kapan bisa beli hp lagi, kata suami sihh habis cuti. Hahhh semoga, bentar lagi cuti soalnya xoxoxo

Yang di Samarinda sekitarnya angkat tangan! sapa tau mau kopdar sama aku. Aku mau pulkam nihh pertengahan april hehehe

Typo abaikan saja, males ngedit. Yowesss selamat membaca.

***

"Mar, aku antar sampai sini aja ya." Aku menghentikan aktivitas membuka sabuk pengaman, kemudian menoleh ke Arlan.

"Nggak mampir dulu?"

"Nggak, aku ada kerjaan mendadak, nanti malam aja ke sini lagi."

"Oh, oke. Terima kasih ya Mas." Aku menatapnya penuh terima kasih, telah setia serta membantuku dalam menyelesaikan masalah ini.

"Untuk apa?" Alis Arlan mengerut, menatapku heran.

"Untuk semuanya." Dia tersenyum lebar menanggapi ucapanku. Aku kembali membuka sabuk pengaman, mencium pipinya sebelum turun dari mobil.

Aku masuk ke dalam toko setelah mobil Arlan sudah tidak tampak lagi.

"Li, Dara mana?" Aku bertanya kepada Lili yang sedang menjaga toko. Lili menoleh, wajah terlihat pucat saat melihatku. Apa dia sakit?

"Li," panggilku saat dia malah seperti orang kebingungan.

"Anu Mbak, Dara ... Dara di taman," jelas Lili tergagap.

"Ohh sama Lala? Dia nyariin Mbak nggak?"

"Mmh bukan Mbak ... anu...."

Bukan?

"Terus sama siapa Dara, Li? Aduh Li, Kok kamu biarin Dara sendiri main ke taman? Nanti Dara kenapa-kenapa gimana?" tanyaku beruntun karena panik. Dara memang selama ini tidak pernah kibarkan main sendiri. Aku selalu menyuruh Lala atau Lili yang menjaganya selagi aku pergi.

"Sama ... Papanya, Mbak," ucap Lili lirih.

Rasa cemas mengelayuti saat tahu Dara pergi bersama Mas Rama. Mau apa dia? Kenapa tiba-tiba dia berubah seperti itu?

"Ayo Li, ikut Mbak."

Aku bergegas berbalik, setengah berlari keluar toko menuju taman yang tidak jauh dari sini.

Semoga Dara tidak diperlakukan macam-macam olehnya. Mengingat apa yang dulu pernah dilakukannya terhadapku, cukup membekas hingga sekarang. Aku tidak mau Dara mengalami apa yang pernah aku rasakan.

Semakin dekat menuju taman, aku memperhatikan Dara yang bermain ayunan, dan Mas Rama berdiri di belakangnya, mendorong ayunan agar bergoyang. Aku tidak dapat melihat ekspresi wajah mereka. Apa yang dibicarakan mereka? Mas Rama tampak serius mendengarkan Dara bercerita.

Perlahan aku mendekat, berhenti dua meter di belakang mereka, celotehan Dara semakin terdengar jelas. Tidak lama Lili berhenti tepat di sampingku. Aku dan Lili sama-sama diam memperhatikan interaksi Dara kepada Mas Rama.

" ... Dala sayang banget sama Papa Allan, Om, Papa Allan juga sayang Dala, sama Mama juga sayang. Kalo Om kenal sama Papa Allan, Om pasti suka. Eh ... eh Om kok diam aja, ngomong dong Om," celoteh Dara.

Mas Rama berdehem sebelum membalas ucapan Dara. Aku sedikit penasaran, apa yang akan diucapkan Mas Rama?

"Om ... Om sayang juga sama Dara. Dara sayang nggak sama Om?" tanya Mas Rama terdengar lirih. Eh? Aku tidak salah mendengarkan?

Ayunan yang Dara duduki memelan, Dara turun lalu menghadap Mas Rama. Mereka masih tidak menyadari kehadiranku dan Lili.

"Gimana ya Om. Emh ... Dala balu kenal Om, tapi Om baik, Dala suka."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 21, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Second WEDDINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang