Worthy

5.7K 310 21
                                        


Nggak biasanya nih langit sorenya indah kaya gini, semenjak musim hujan jarang banget bisa ngeliat matahari terbenam yang bikin warna langitnya jadi oranye unyu. Anginnya pun kerasa enak banget, gak jahat kaya biasanya. Intinya sih gak ada yang bisa merusak moodnya Devi Kinal Putri yang walaupun sekarang masih kecapean gegara baru beres kerja rodi, alias latihan bareng krucil-krucilnya, anggota team K3.

Walaupun capek, sebelum latihan tadi Kinal udah makan siang, bareng Ve pula. Kinal yang kenyang itu adalah Kinal yang bahagia. Ditambah ditemenin Ve.. Ah, udahlah. Bahagia banget pokoknya. Terus di latihan kali ini akhirnya Kinal mecahin rekor lagi, rekor gak kena marah sensei. Biasanya sih ada aja yang bikin dia ditegur, tapi kali ini mulus banget latihannya!

Sekarang team K3 lagi rehat sebentar. Semua member langsung selonjoran di lantai, ada yang langsung ke toilet, ataupun cuma ngemil-ngemil lucu sambil gosip. Tapi Kinal yang lagi sangat prima ini masih berdiri tegak layaknya ultraman sambil membusungkan dada, dia tersenyum tipis tanpa alasan terus langsung berlari kecil menuju tasnya yang ada di pojok ruangan, berniat ngambil handphone buat ngabarin Ve.

Pas masih ngobrak-ngabrik tasnya, tanpa sengaja Kinal melirik kearah kiri lalu melihat Lidya yang terlihat kusut dan super bete, gadis jangkung itu sedang menatap ponselnya dengan kening berkerut. Heran dengan penampakan si sapu lidi yang tidak seperti biasanya, Kinal berjalan dengan posisi yang masih berjongkok lalu menghampiri Lidya.

"Heh."

"......"

"Woy."

"......"

"Woy Lids woy!"

"......"

"HEH LIDYA!"

Yang diteriaki akhirnya tersentak dan menjatuhkan ponselnya karena kaget. Walaupun begitu, gadis yang bernama lengkap Lidya Maulidha Djuhandar itu hanya melempar tatapan malas kearah Kinal, kedua tangannya Yang dari tadi menggenggam handphone masih menggantung di udara, lalu ia kembali menatap ponselnya yang tergeletak dengan pandangan yang masih suram.

Dapat reaksi yang sangat tidak biasa dari Lidya langsung membuat Kinal agak parno. Biasanya kalau diganggu begitu Lidya bakal langsung bales teriak, dan percayalah, teriakan Kinal versus Lidya biasanya bisa ngalahin suara antar geng motor yang lagi tawuran.

"Ya ampun lo kenapa Lids?! Kenapa gak balik neriakin gue? Lo sakit?!" Tanya Kinal panik.

"Apa sih lo." Dengus Lidya sambil memeluk lututnya, "Gapapa gue."

"Terus itu kenapa ngeliatin hapenya pake tatapan kek lo di vonis cuma punya sisa umur tiga bulan?" Si kapten mencoba memancing partner tawurannya dengan ejekan. Tapi saat melihat Lidya hanya termenung dengan tatapan kosong, Kinal kembali panik.

"YA AMPUN, LO BENERAN BAKAL MATI BENTAR LAGI LIDDDS?!"

Teriakan Kinal langsung membuat beberapa kepala menoleh pada mereka, Lidya langsung tersadar dari lamunannya lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Ya ampun omongan lo! Ucapan adalah doa woy. Gue gak jawab bukan berarti gue kena vonis ya. Tadi ngelamun bentaran doang juga."

Kinal hanya menganga mendengar jawaban judes dari mahluk di depannya. Dia yang dari tadi masih dalam posisi berjongkok akhirnya duduk dan bersila tepat di depan Lidya.

"Lo kenapa deh? Ada masalah? Biasanya gak kaya gini Lids."

Mendengar nada suara Kinal yang berubah, Lidya hanya menghela napas. "Gapapa. Kayanya kecapean aja, terus lagi banyak pikiran gitu."

"Soal jeketi? Apa kuliah? Atau soal--"

"Soal banyak deh pokoknya." Sela Lidya cepat. Dia tahu Kinal pasti akan menyebut nama orang itu.

Venal Sounds Good!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang