Gold Digger

4.5K 312 21
                                        

Ve mengangguk untuk kesekian kalinya demi meyakinkan orang-orang yang ada didepannya.

"Masa sih kak? Kak Kinal segitunya ya kalau minta ditraktir?" Seru Gaby kaget.

"Gue tau sih ntu anak kere gak ketulungan, tapi kirain gak sampe malak elo terus-terusan." Celetuk Jeje sambil melayangkan pandangan iba kearah Ve.

Ve hanya mengangkat bahunya, "Ya dia kan sering ngajak makan bareng, kirain aku bayar masing-masing lah ya minimal. Tapi ujung-ujungnya dia gak bawa cash lah, atau kartu debitnya ketinggalan lah. Jadi aku yang bayarin dulu."

"Di bayarin dulu? Dibalikin emang sama Kinal?" Tanya Sendy sambil tetap fokus pada layar ponselnya.

Ve menopang dagu dengan tangannya, ia mengedarkan pandangan ke penjuru restoran yang sedang mereka kunjungi itu. "Kadang sih."

"Seringnya mah gak pernah ya?" Tukas Dhike sambil mendecak.

"Emang bener ya bidadari banget, ikhlas aja digituin, kalau Kinal malakin gue terus udah gue depak kayanya." Ujar Jeje.

Seolah setuju, Dhike langsung mengangguk cepat. "Iya, bakal langsung gue putusin ikatan pertemanan ini."

"Dia gak separah itu kok." Ucap Ve pelan. Jari-jemarinya sibuk memainkan sedotan yang ada di gelas miliknya.

"Parah kak, paraaah kalau udah nyangkut uang tuh." Gerutu Gaby.

Ve tidak merespon, lagi-lagi ia hanya mengedikkan bahunya.

"Ngomong-ngomong semenjak Kinal pindah team, kita jadi sering ngegosipin dia deh." Ujar Sendy yang akhirnya meletakkan ponselnya, dan meraih gelasnya lebih dekat.

Dhike mendengus pelan, "Kak Sendy mah semua orang juga digosipin."

"Enak aja lo." Sendy mencubit pinggang Dhike yang kebetulan memang ada disebelahnya, "Ini tuh dampak buruk dari bergaul bareng Jeje, tau gak."

Yang diledek langsung tersedak, "Kok gue sih. Heh, kalau iman lo pada kuat, diajakin tubir segimana juga gak akan mau. Ini sih kaliannya juga yang tukang gosip."

"Kita gak ngegosip kok, kita kan cuma cerita-cerita aja." Kata Ve yang menawarkan jalan tengah.

Jeje dan Sendy langsung mengangguk setuju.

"Bener banget! Kita kan cuma cerita-cerita lucuk."

Obrolan mereka terhenti sebentar ketika pelayan datang membawa pesanan mereka, gosip-gosip lucunya pun ikut terhenti sebentar karena mereka langsung menyantap hidangannya dengan lahap. Tapi yang tak mereka sadari, diam-diam Veranda menyembunyikan senyum puasnya.

.
.
.

"Je! Makan yok, gue laper." Ajak Kinal langsung setelah mereka selesai menghadiri sebuah event.

Yang diajak masih sibuk membenahi rambutnya didepan cermin, ia hanya melirik sebentar kearah Kinal. "Ogah."

"Dih. Jutek banget lo." Keluh Kinal, "Gak laper apa? Hayu ih makan."

"Gue laper, cuman gamau makan berdua bareng elo." Terang Jeje dengan jujur.

Kinal menghela napas dengan kaget, tangannya diletakan di dada untuk efek dramatis. "Jahat banget Jeje! Salah gue apa hah?"

"Menurut info yang gue dapet dari orang yang terpercaya, makan berdua bareng lo itu gak aman."

"Gak aman? Gue gak mainan sianida kaya yang di tipi-tipi kok."

"Bukan itu! Ngomong-ngomong sianida awas aja lo sampe ngebunuh gue, ntar gue gentayangan di rumah lo, di theater, di kampus lo."

"Serem amat Jeje mainannya." Kinal menyilangkan lengannya didepan dada, "Kalau bukan soal racun-racunan, terus apa bahayanya makan bareng sama gue?"

Venal Sounds Good!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang