Kinal mendelik kearah Lidya untuk yang kesekian kalinya. Briefing Team K3 baru saja selesai, beberapa member ada yang langsung bergegas pulang, ada juga yang masih berkumpul untuk sekedar gosip-gosip lucu dengan satu sama lain. Tapi Kinal dan Lidya ini beranjak dari gosip lucu ke berantem sangar.
Kinal masih gak terima karena Lidya ngungkit-ngungkit kalau dia lebih pendek dari Ve. Kinal bersikeras kalau dia masih punya waktu buat tumbuh terus bisa nyusul tinggi Ve. Lidya hanya mendengus remeh.
"Elo kan lebih macho Nal, masa sih kalah tinggi sama kak Ve. Harusnya elo yang ngerangkul dia tapi apa daya tangan tak sampai HAHAHA." celoteh gadis yang memang makin lama semakin tumbuh tinggi.
"Berisik! Elo juga gak tinggi-tinggi amat!" Dengus Kinal sambil agak berjinjit.
Lidya masih tersenyum licik, "Seenggaknya gue lebih tinggi dari kak Melody!"
"Itu sih gegara si ibu GM emang jenis kurcaci! Jelas aja elo yang sering nempel sama dia jadi keliatan tinggi."
"Eh melodut gak boleh dibecandain!" Balas Lidya.
"Gue laporin ke dia nih kalo elo ngatain dia ndut!"
"Laporin aja," Lidya nyengir bahagia. "Itu kan panggilan sayang gue buat dia, gak bakalan marah lah~"
Kinal bergidik ngeri, dia masih gak abis pikir kenapa orang berdarah biru macam Melody mau-maunya ngeladenin bencong yang satu ini. "Diem lo sapu lidi! Lagian ini masih teritorial Team K3 ya, yang ada lo harusnya nurut sama gue bukan ke kak Melody."
"Ngapain gue nurut ke orang yang kalah tinggi dari pac-hmmmph--" belum selesai Lidya berkoar, mulutnya sudah dibekap oleh tangan Kinal.
"BERISIK LU BENCONG!"
"LEPAARFGHHSHIN!!!" Lidya berontak sekuat tenaga, tapi bukan Kinal namanya kalo kalah adu otot sama sebatang lidi.
Kedua orang itu masih sibuk gulat dan mulai jadi tontonan member lainnya tapi nggak ada satupun yang mau repot-repot melerai.
Biarin aja. Nyaris semua orang yang ada di ruangan itu membatin. Kalau udah ada yang mati pasti berhenti.
Tanpa Kinal dan Lidya sadari, hadir sosok semampai yang mendekati mereka dengan kening berkerut.
"Kalian ngapain?"
Deg.
Kinal membeku. Tangan kanannya masih membekap mulut Lidya, sedangkan tangan kirinya sibuk menangkis serangan-serangan yang dilayangkan oleh si sapu lidi yang sedari tadi menarik kerah bajunya. Pokoknya posisi mereka lagi gak banget. Semacam anak SMP lagi tawuran.
Perlahan kapten Team K3 itu menoleh ke sumber suara sambil melepas Lidya dengan kasar. Benar saja, disana berdirilah Veranda yang menghentakan kakinya dengan tidak sabar, sambil menyilangkan lengan didepan dadanya.
"Ve!!" Sorak Kinal dengan gugup, dia mengibaskan kedua tangannya dengan panik. "Gak ngapa-ngapain kok, cuman ini si Maulida biasaaa, lagi tubir."
Lidya yang tadi terlempar kesamping hanya meringis kesakitan, setelah menghela napas panjang, dia langsung memasang topeng anak-anjing-super-imut-dan-terlucu-di-dunia sambil manyun kearah Ve.
"Kak Veeeeeee~" rengek Lidya dengan nada yang menurut Kinal sangat menyebalkan. "Aku disiksa mulu nih sama Kak Kinaaaal~" ujarnya manja sambil mendekat kearah Ve yang spontan merangkulnya.
Kinal menghela napas keras-keras, "Bohong! Lagian sejak kapan lo manggil gue kakak, hah?!"
Ve mulai mengelus kepala Lidya sambil melempar pandangan tajam pada Kinal yang kembali megap-megap, "Kamu kebiasaan deh usil ke orang mulu, minta maaf sama Lidya cepet."
