"Apa kata kamu tadi?"
"Aku pengen kita putus."
Rahang Kinal nyaris jatuh ke lantai, lalu ia tertawa keras, sebelah tangannya memegangi perut yang melilit karena saking kerasnya ia tertawa.
Tapi perlahan tawa itu mereda setelah melihat raut wajah gadis yang ada didepannya. Ve sama sekali tidak terlihat sedang bercanda, dengan tubuh semampai dan segala kesempurnaan yang dia miliki, Ve hanya berdiri tegak sambil melipat lengannya persis di depan dada, raut wajah yang biasanya lembut itu terlihat tak terbaca.
Dari situlah Kinal tau, kalau hari ini akan jadi hari yang buruk baginya.
"Apa sih, Ve? Ini udah akhir bulan loh, kalau mau main april mop udah gak jaman keles."
"Aku gak bercanda, Kinal." Tidak seperti biasanya, nada bicara Ve terdengar sangat tajam dan menusuk. "Aku udah capek."
Kinal pun memaksa otaknya untuk mencari tau kesalahan yang belakangan ini ia perbuat, kesalahan yang menyebabkan gadis yang paling disayanginya bersikap aneh seperti ini.
"Kenapa? Capek kenapa? Aku ada salah? Apa ini masih soal Naomi? Soal Sinka? Kan udah aku bilang gak usah di dengerin member yang pada tubir tuh."
Salah satu sudut bibir Ve terangkat keatas, membentuk seringai leceh yang baru pertama kali Kinal lihat.
"Pede banget. Aku udah gak peduli kok soal kamu mau sama siapapun, silahkan aja. Yang jelas, aku mau kita udahan."
Kata-kata itu langsung membuat Kinal tersengat, tubuhnya terasa membeku. Yang berada di depan Kinal ini Veranda, tapi rasanya Kinal sama sekali tidak mengenal sosok itu.
"Kenapa sih Ve?" Kepalan tangan Kinal makin mengeras, sampai buku jarinya nyaris memutih.
Masih dengan seringai di bibir, Ve mengedikkan bahunya seolah tak peduli. "Aku capek. Sama kamu. Masih kurang jelas?" Ucapnya lamat-lamat.
Kinal kehabisan kata-kata, bingung harus bersikap bagaimana. Kini matanya membulat sempurna, rongga dadanya pun terasa sesak, susah payah Kinal menahan agar air matanya tidak menetes.
"Capek?" Desis Kinal dengan suara bergetar, "Kamu pikir aku bakal percaya sama alesan gak jelas kaya gitu? Jawab yang bener, Jessica Veranda. Kenapa kamu tiba-tiba jadi kaya gini?" Kini suaranya naik beberapa oktaf.
Ve melangkah mengitari Kinal, di ruangan tempat para member bersiap dan berganti baju itu hanya ada mereka berdua. Tadi setelah spesial setlist Himawarigumi berakhir, Ve minta kepadanya agar membiarkan semua orang pulang lebih dulu, dengan alasan ada yang ingin dibicarakan.
Kinal pikir Ve hanya akan membahas hal-hal biasa, seperti malam ini akan pulang kemana, apa menu makan malam mereka berdua, dan menceritakan tentang hari yang sudah mereka jalani. Kalau saja Kinal tau Ve akan mengakhiri hubungan mereka begitu saja, sudah pasti Kinal akan menolak ajakan mengobrol ini.
Tatapan tajam dari Kinal terus mengikuti pergerakan Ve yang kini malah membenahi tasnya, bersiap untuk pulang.
"Udah paham kan? Aku pulang sekarang." Ve tidak repot-repot mendongkak apalagi berbalik untuk menghadap Kinal.
"Pulang?" Hati gadis itu makin mencelos, "Aku gak ngerti apa yang ada di pikiran kamu, dan kenapa tiba-tiba kamu ngelakuin semua ini, tapi seenggaknya liat muka aku kalau kamu mau nyakitin aku Ve. Jangan jadi pengecut."
Ve menegakkan badannya dengan perlahan, lalu berbalik menatap Kinal dengan wajah datar tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa Ve?" Tanya Kinal sungguh-sungguh, sesekali ia menghirup oksigen sebanyak mungkin, karena sekarang untuk bernapas saja rasanya sulit. "Aku gak ngerti, sumpah."
