Tepat.
Itulah timing yang terjadi saat buliran kristal itu terjatuh membasahi pakaian seseorang yang memeluknya sepihak.
Iris lavendernya semakin berkaca-kaca. Ketika pemuda yang dicintainya menatapnya terluka dalam dan berbalik pergi.
Dirinya merasa menjadi gadis paling bodoh paling dungu yang pernah ada di muka bumi ini. Bayangan pengorbanan kepergian pemuda itu dengan wajah sendu yang menunduk dalam sangat terekam jelas di otaknya.
Merasakan lembab dan basah pada pundak belakangnya Gaara lekas melepaskan pelukannya. Tangan kekarnya menyentuh bahu Hinata. menatap ekspresi gadis di hadapannya kentara dengan wajah khawatir. Selama hidupnya Gaara menikmati tanpa beban. Everything's its ok. Dan untuk pertama kalinya wajah sedatar papan tulis kelas itu berubah. Drastis.
Jadenya melembut menatap lavender di depannya bergantian kanan-kiri. Berharap apa yang ia lihat salah. Namun realita menamparnya keras bahwa. Hinata benar-benar menangis.
Ia bukan type lelaki yang pandai merayu gadis seperti yang Naruto lakukan. Hidupnya tak pernah ada yang namanya makhluk hawa kecuali ibunya dan kakaknya. Wajar jika ia bingung melihat airmata Hinata yang terus berlomba terjun tak berhenti.
Gaara tidak suka perasaan ini. Begitu sakit. Di dalam dadanya oksigen tak bisa bekerja sama. Sesak. Gaara tak tahu harus berbuat apa. Tersenyum miris melihat Hinata dengan iris lavendernya yang terasa kosong dan redup tak lagi berbinar berseri menatap dunia. Semuanya terenggut paksa secepat pemuda kuning itu pergi dari hadapan mereka.
Oke.
Siapa antagonis dalam dorama picisan ini?
Naruto? Lelaki itu pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan sepatah kata pun dari gadis pujaannya dengan memasang wajah kecewa. Membuat Gaara dan Hinata di rundung rasa bersalah yang mencekam.
Gaara? Hinata tahu. Pemuda itu berniat baik hanya untuk memeluknya terakhir kali sebagai salam perpisahan dan keikhlasannya atas hubungan seumur jagung antara Naruto dan Hinata. Jelas bukan hak Hinata jika melarang Gaara menyukainya. Lantas. Gaara memeluknya menimbulkan perasaan kecewa Naruto dan perasaan bimbang Hinata melingkupi.
Hinata? Gadis itu yang merelakan dirinya dipeluk sepihak oleh orang lain dan membuat Naruto kecewa terhadap perlakuannya. Apa yang ia lakukan? Hinata janjian bertemu dengan Naruto tapi kenapa malah berduaan, berpelukan bersama Gaara. Rival beratnya saat mendekati Hinata.
Entah siapa yang jahat di sini.
"Hinata- kau.."
"Aku tidak apa-apa Gaara-san. Jangan minta maaf di sini aku yang salah" rasanya seperti duri saat mengatakan 'baik-baik saja' dengan senyum semanis mungkin untuk meyakinkan orang lain.
"Hinata. Sebenarnya-"
'Jangan coba-coba kau sialan!'
"Arrghh! Brengsek kau!"
Gaara menjerit tiba-tiba membuat mata Hinata menatapnya khawatir.
"Ma-maaf aku. Hanya menyalahkan yang terjadi hari ini. Aku menyesal." Gaara bilang, takut Hinata salah paham.
"Mari ku antar kau pulang" lanjut Gaara. Poni dan beberapa helai indigonya bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak kepala Hinata yang menggeleng.
"Gaara-san duluan saja aku- masih ingin di sini." Senyumnya masih bertengger.
Gaara mengangguk mengerti dan berpamitan sekali lagi pada Hinata untuk meninggalkannya namun tak benar-benar pergi hanya mengamati Hinata dari jauh berjaga jika ia akan melakukan tindakan konyol karena cinta. Sama seperti yang ia lakukan saat ini. Konyol.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lavender OORer
FanfictionBEBERAPA PART TERPRIVATE, KEPO? SILAHKAN FOLLOW DAHULU SUMMARY : Niatnya sih menjahili Hinata sebagai awal perkenalan ospek. Eeehhh Naruto malah kepincut oleh pesona perbedaan nyentriknya Hinata dengan gadis lain. Gimana caranya Naruto naklukin hati...
