Protect

5.7K 287 4
                                        

Kepalanya berdenyut nyeri. Ringisan lirih keluar dari bibir mungilnya yang terlihat pucat. Kelopaknya terbuka perlahan menampilkan pearl lavender yang indah. Putih. Kesan pertama saat melihat langit-langit yang terlihat begitu menyilaukan matanya.

Ini jelas bukan kamarnya. Dimana ia sekarang? Ia tak ingat apa-apa sama sekali. Kepalanya belum bisa mengingat jelas. Yang terakhir ia ingat adalah- ia dibekap dan di bawa ke gang kosong, bajunya dirobek paksa menggunakan pisau, kemudian- preman itu hampir memperkosanya. Lalu tiba-tiba preman itu tersungkur ke samping. Terakhir yang ia lihat sekelebat helaian kuning yang-

"Hinata-chan! Syukurlah kau sudah sadar." Refleks kepalanya menoleh ke bawah. Ah ia baru sadar tangan kanannya tergenggam hangat posesif oleh-

"Naruto-senpai." Gumamnya lirih.

Kemudian Naruto melepaskan genggamannya dan beralih menekan-nekan tombol pemanggil dokter. Perawat dan dokter itu datang tergesa segera memeriksakan keadaannya yang berbaring lemah.

"Hinata-san baik-baik saja Tuan. Ia hanya kelelahan dan syok. Besok sudah bisa pulang" jelas sang dokter.

"Sou ka? Ah arigatou dok" ucap Naruto.

"Kalau begitu kami permisi dulu." Dokter berkacamata dan seorang perawat itu meninggalkan ruang rawat setelah mendapati respon anggukan kecil dari Naruto.

-

Naruto kembali menggenggam erat tangan kanan gadis bermata pearl lavender. Untuk beberapa menit mereka hanya bertatapan tanpa suara sedikit pun. Hanya nafas teratur dari keduanya yang mengisi kesunyian tenang yang mereka ciptakan.

Sorot blue sapphirenya sangat kentara akan kekhawatiran mendalam. Sedangkan pearl lavender milik Hinata hanya memandang bingung. Ia bingung harus bicara apa. Hingga Naruto sendiri yang memecahkan keheningan itu.

"Hinata-chan, maaf.-" penyesalan sangat dalam telah keluar dari bibirnya. "Maafkan aku yang lalai menjagamu."

"Aku memang bodoh! Tak seharusnya aku membiarkanmu pulang sendiri saat itu. Maafkan aku Hinata-chan." Hinata terhenyak akan kata-kata Naruto. Ia menjadi ikut bersedih padahal memang ini bukan kesalahan senpai nya. Ini kesalahannya sendiri yang terlalu lemah tak bisa menjaga diri.

"Senpai- jangan begitu ini juga kesalahanku yang tak bisa jaga diri" senyum tulus tersungging di bibirnya.

Kata-kata hibur dari Hinata tak dihiraukan. Ia ingat baju Hinata hampir rusak karena sobekan paksa preman sialan itu. Apakah Hinata telah tersentuh oleh preman-preman kurang ajar tadi. Pandangannya kembali serius menatap Hinata.

"Dimana mereka menyentuhmu Hinata-chan?" Tanyanya serius.

"E-eh? Et-etto di-" sontak Hinata tergagap karena gugupnya akan pandangan Naruto.

Bahkan wajahnya mulai mendekat dengan jarak berbahaya. Naruto berbisik lirih tepat di hadapannya "katakan saja Hinata-chan, aku akan menghapus semua sentuhan preman sialan itu kepadamu".

?

Apa maksudnya perkataan Naruto itu? Ia tak mengerti apa ia akan membersihkannya dengan air? Degup jantungnya semakin berisik. Reflek tangannya menyentuh pipi chubby nya sendiri yang saat itu terjilat oleh salah satu preman.
Naruto menatap intens kedua pipi Hinata.

Cup!

Cup!

BLUSH

Kedua pipinya dikecup berkali-kali oleh Naruto . Pipinya merona pekat dengan iris nya yang membulat sempurna. Jadi ini kah yang dimaksud menghapus sentuhan preman tadi?.

Sedetik kemudian ia merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyapu bibirnya. Dan ia baru sadar bahwa Naruto menciumnya. Reflek saja Hinata membuka mulut dan matanya lebar-lebar yang justru makin mengundang lidah Naruto memasuki rongga mulut Hinata.

My Lavender OORerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang