Rama Pov
Aku sudah sampai dirumah Dea dan kebetulan orang tua nya sedang perjalanan bisnis, mas Gibran dia sudah pindah ke rumah baru nya bersama keluarga kecil nya.
"Maaf kak lama, abis tadi aku lupa kalau sekarang praktek renang." Ucap nya yang berlari dan sudah memakai baju renang berjenis surf suit lengan pendek dan ditutup sweater.
"Iya, Ayo pergi udah siang." Jawabku dan terlihat dia mencibir.
"Mobil kamu mana sih?" Tanyaku ketika sudah di perjalanan.
"Ada, kenapa?"
"Kalo ada kenapa, engga bawa? Ribet, sekarang aku ada urusan tapi terlambat karena harus menjemput kamu." Ucapku kesal, iya karena ada rencana akan pergi ke pesta pernikahan sahabatku, aku sengaja tidak mengajak Dea. Sekarang dia sedang sibuk ujian praktek lagi pula ini bukan hari libur.
"Kalau gitu yaudah turunin aja kalau aku bikin susah?" Tuhkan dia suka mancing-mancing emosi. Dan jangan salahkan aku jika aku mengabulkan permintaan nya. Tanpa banyak bicara aku langsung menepikan mobil setelah itu mobil berhenti.
"Turun." Ucapku datar, dia menganga kaget terlihat tidak percaya aku bisa melakukan hal seperti ini. Biarkan saja, biar dia tau rasa dan tidak asal bicara.
"Dasar manusia bunglon." Ucap nya yang langsung keluar dari mobil dan menutup pintu mobil secara keras.
Iya aku memang manusia bunglon, karena sikap dia itu yang membuat aku seperti ini dan aku juga bingung kenapa mood ku bisa berubah-ubah ketika bersama dia.
Deandra Pov…
Demi apa coba si manusia bunglon itu nurunin aku di jalan? Walah mamah, putri mu ini bernasib tragis. 😭
Aku berjalan, ya beda nya ini pagi jadi banyak orang dan kendaraan engga kaya 2 hari yang lalu.
Haduh, aku engga tau deh pake angkot yang mana, naik taksi? Oke aku naik taksi.
Langsung ambil ponsel di tas dan mencari nomor telepon taksi.
"Hallo"
[…]
"Apa? Berhenti beroperasi? Kenapa?"
[…]
Langsung aku tutup aja, hadeuh kok malah demo. Ini mah kudu naik angkot, tapi aku engga biasa naik angkot. Terakhir aku naik angkot itu hmmmmm, 10 tahun yang lalu dan kalian tau? Aku nangis selama di angkot karena banyak penumpang sampai duduk berhimpitan, sejak itu kalo aku ngerengek pengen ikut bi Tini ke pasar harus naik taksi.
Tapi kalau aku engga naik angkot? Gimana bisa aku ikut praktek renang?
Huaaaaaa gimana ini. Bapak bunglon kejam berhati es 😡
Oke aku bukan anak kecil, udah 18 tahun coy, bisa lah naik angkot tinggal duduk aja.
"Pak, kalau ke ARKIN Hight School naik angkot yang mana yah??" Tanyaku saat ada tukang tambal ban di pinggir jalan. Bukan menjawab bapak itu malah liat aku dari atas sampai bawah.
"Anak orang kaya neng?" Waduh itu bukan jawaban, itu pertanyaan.
"Maaf pak, angkot yang mana?" Tanya aku lagi sedikit menekan kan kalimat angkot yang mana.
"Tuh udah lewat." Ucap nya yang masih memegang ban yang akan di tambal.
"Makasih pak." Ucapku yang langsung berdiri di tepi jalan untuk menyetop angkot.
Saat angkot berhenti, aku langsung masuk dan taraaa, kosong Alhamdulillah. Lalu angkot berjalan, hmm engga buruk juga aku naik angkot. Bapak bunglon awas kalo ketemu aku jitak.
Author: "emang berani ama si bunglon?"
Deandra:" hahahaha, pasti lah gue engga berani 😞"
Author:" cemen."
Deandra:" pergi sana, elo mah bikin idup gue kacau."
(Intermezo)
Author…
Dea merasa senang karena angkot yang dia tumpangi kosong, dia duduk di jok paling belakang tanpa disadari ada seorang lelaki yang duduk di depan nya yang sejak tadi memperhatikan Dea saat di tukang tambal ban.
Angkot pun berjalan, ketika di suatu tempat tiba-tiba banyak penumpang yang masuk sampai duduk juga berdempetan, Dea yang engga suka sempit dia harus menahan rasa pengap karena duduk paling belakang.
"Yaelah, kok penuh sih. Aduh aku susah nafas mana bau ayam." Gerutu Dea karena di sebelah nya duduk seorang bapak-bapak yang membawa ayam.
"Pak maaf, kepala ayam nya bisa di ganti posisi engga? Itu paruh nya matukin lengan saya." Pinta Dea dengan berusaha ramah padahal jujur dia kesel.
"Oh bisa neng." Ucap bapak itu lalu bapak itu membalikan posisi kepalanya saat membalikan bulu dari ekor ayam jago itu mengenai hidung Dea seketika dia langsung bersin-bersin.
"Hacih…Hacih…" Dea menggosok-gosok hidung nya gatal. Laki-laki yang duduk di depan nya tersenyum geli melihat tingkah lucu Dea yang keliatan baru naik angkot.
"Mba engga biasa naik angkot yah? Dari tadi ribet keliatan nya." Ucap ibu-ibu yang duduk di samping laki-laki didepan Dea.
"I-iya bu." Ucap Dea dengan senyum terpaksa.
"Kiri." Ucap laki-laki yang duduk di depan Dea. Dea melihat keluar dan gerbang sekolahnya terlihat.
"Akhir nya sampai juga." Ucap Dea seperti mendapatkan udara segar, Dea turun mendahului laki-laki itu dan memberikan selembar uang 50ribu.
"Aduh neng maaf, saya baru jalan belum ada kembalian." Ucap supir angkot itu.
"Yah bang engga ada uang kecil lagi." Ucap Dea dengan bingung.
"Neng orang kaya? Kenapa naik angkot?" Pertanyaan supir itu berhasil membuat Dea mencak-mencak.
"Emang nya orang kaya engga boleh naik angkot?" Ucap laki-laki yang ada di belakang Dea sambil memberikan uang pada supir.
"Berdua sama dia." Lanjut nya sambil menunjuk Dea.
"Oh maaf mas." Ucap supir itu dan langsung melajukan angkot nya. Angkot pun berangkat, Dea membalikan badan nya dan saat sudah membalikan badan nya wajah Dea membentur dada dari laki-laki itu, tercium wangi parfum maskulin dari badan nya. Dea mendongkrak dan dia melihat garis wajah lelaki itu, bentuk wajah tirus dagu yang sedikit runcing mata yang sipit.
"Kenapa, elo terpesona sama gue?" Tanya nya saat menyadari Dea yang diam memperhatikan nya.
"Hmmm, ma-makasih." Dea sedikit mendorong tubuh lelaki itu karena gugup.
"Iya sama-sama Deandra." Ucap nya dengan senyum, sehingga mata sipit nya sedikit menutup.
"Elo tau nama gue?" Tanya Dea heran, dan dia menunjuk nama yang ada di sweater Dea.
"Oh iya. Hehehe." Dea merasa malu karena sudah ge-er duluan sambil menggaruk tengguk nya.
"Ayo masuk bukan nya elo mau praktek renang?" Ajak dia sambil menarik tangan Dea dan masuk ke gerbang.
"Maaf bisa lepasin tangan gue?" Dea tau kalau dia itu sudah tunangan jadi dia engga bisa seenak nya saja berpegangan tangan dengan laki-laki lain.
"Kenapa? Oke deh gue lepas. Ekh belum kenalan, nama gue Bima." Ucap nya sambil mengulurkan tangan nya.
"Gue Deandra, panggil aja Dea. Oh ya nanti uang ongkos nya gue ganti. Thanks, gue duluan." Tanpa menerima uluran tangan Bima, Dea langsung pergi meninggalkan Bima.
"Hmmm, Dea elo makin cantik aja." Gumam Bima dengan senyum mengembang.
TBC
PART ini gaje? Engga mood tapi maksa ngetik jadi begini kan hasil nya.
Ayo, Bima itu, sapose? Kok dia kaya yang udah kenal lama sama Dea tapi Dea engga kenal? Maklum Dea itu paling lemah dalam mengingat sesuatu. Hihihi 😁😁
REVISI: 07 MARET 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. BUNGLON IS MINE (COMPLETED)
Teen Fiction[PART SEBAGIAN DI HAPUS). Deandra Fashahah Syazwan, gadis berusia 18 tahun yang harus mengalami perjodohan sejak usia 6 tahun. Membuat dia tidak bisa merasakan indah nya masa pacaran sejak masa remaja karena terhambat oleh pertunangan itu. Dea juga...
