PART 9

2.9K 223 41
                                    

'BRUKK!'

Pintu ruangan itu terbuka, sontak mereka semua mendongak ke arah pintu yang rusak akibat ditendang seseorang. Jungkook, yang Sinb lihat. Pemuda yang tadinya memegang bahu Sinb, ia pun menurunkan tangannya. Amarah Jungkook sudah sampai ubun-ubun saat ini, ia pun menghampiri kedua pemuda itu. Lalu menghabisi kedua pemuda itu sendiri.

"Dasar tidak tahu diri! Beraninya kalian mengeroyok gadis yang lemah?!" bentak Jungkook pada kedua pemuda itu

Karena tidak kuat menghadapi Jungkook, kedua pemuda itu pun kabur. Dan langsung saja Sinb memeluk Jungkook dengan erat.

"Jungkook, aku takut hiks hiks. Aku ingin pulang." isak Sinb.

"Sudahlah Sinb, tenanglah. Aku ada di sini bersamamu." Jungkook mengelus rambut Sinb.

"Aku sangat benar-benar sangat takut, pemuda gila itu sampai merobek kemejaku hiks, hiks."

Lalu mereka melepaskan pelukkannya, Jungkook melihat baju Sinb yang robek. Jungkook pun melepas jasnya, dan memakaikan jasnya itu di tubuh Sinb untuk menutupi baju Sinb yang robek. Sinb hanya masih menangis, dan ketakutan.

"Sudahlah jangan menangis Sinb.." Jungkook kembali memeluk Sinb.

"Aku takut Jungkook, hiks. Kedua pemuda gila itu hampir saja ingin melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku, hiks. Aku benar-benar sangat takut." Sinb kembali menangis di pelukkan Jungkook.

"Aku ada bersamamu sekarang, jadi kau tidak perlu takut." Jungkook berusaha menenangkan Sinb.

Sinb semakin erat memeluk Jungkook, dan Jungkook terus berusaha menenangkan Sinb. Tanpa pikir panjang, Jungkook langsung membawa Sinb ke rumah Tuan Min.

***

Jungkook dan Sinb sudah sampai di kediaman Keluarga Min. Sinb sudah dibawa Nyonya Min ke kamar Sinb, sedangkan Jungkook menceritakan semuanya kepada Tuan Min.

"Apa kau sudah menelepon polisi?" tanya Tuan Min.

"Sudah paman, polisi sedang melacak mereka." jawab Jungkook.

"Syukurlah, untungnya saja kau langsung datang ke sana nak. Jika tidak, mungkin Sinb akan lebih frustasi lagi. Terima kasih banyak nak." ucap Tuan Min.

"Tidak perlu berterima kasih paman, aku tidak merasa direpot,'kan Sinb. Dan jika aku tidak segera datang, mungkin aku tidak bisa memaaf,'kan diriku sendiri." ucap Jungkook.

"Jungkook, bisakah kau membujuk Sinb untuk makan? Dia susah sekali dibujuk untuk makan. Mungkin dia masih ketakutan." ucap Nyonya Min turun dari lantai dua sambil membawa nampan berisikan sebuah piring dan segelas air putih.

"Baiklah, aku akan membujuknya. Beri,'kan nampan itu kepadaku bibi." ucap Jungkook beringsut.

Nyonya Min pun memberikan nampan itu kepada Jungkook, Jungkook pun langsung naik ke lantai dua.

"Kau yakin Jungkook bisa membujuknya?" tanya Tuan Min.

"Ya, aku yakin dia bisa membujuknya." jawab Nyonya Min.

Jungkook sudah berada di ambang pintu kamar Sinb. Ia dapat melihat Sinb yang sedang menangis karena ketakutan. Perbuatan kedua pemuda itu membayangi benak Sinb.

Jungkook menaruh nampan itu di meja belajar Sinb, lalu menghampiri Sinb dan duduk di sebelah Sinb yang masih menangis.

"Inikah Sinb yang dulu? Yang jarang menangis dan sedih?" tanya Jungkook.

Mendengar itu, Sinb menatap Jungkook.

"Kau tidak perlu takut Sinb, kau sudah bersama dengan keluargamu sekarang. Jadi apa yang perlu kau takut,'kan?"tanya Jungkook lagi.

Sinb hanya diam menunduk dan kembali menangis. Jungkook pun menatap Sinb yang menunduk, tangannya menuntun kepala Sinb untuk menatapnya. Lalu ia menghapus air mata Sinb dengan kedua ibu jari tangannya.

"Jangan menangis, karena setiap tetesan air matamu itu sangat berharga bagiku." ucap Jungkook.

Sinb pun berhenti menangis, ia pun menatap Jungkook yang mengambil piring dan gelas, lalu duduk di sebelahnya kembali.

"Ayo, buka mulutmu." ucap Jungkook menyodorkan sendok yang berisikan nasi yang sudah ditumpahi kuah sup ayam.

Sinb pun membuka mulutnya, dan Jungkook menyuapi Sinb makan sampai habis. Setelah itu Jungkook menuntun Sinb untuk menaruh kepalanya di bahunya.

"Entah kenapa, aku merasa,'kan sesuatu yang aneh di dalam hatiku Sinb." Ucap Jungkook.

"Aneh?" tanya Sinb.

"Ya, aneh. Tapi, lupa,'kan saja. Sekarang kau tidur saja, aku yakin kau sudah lelah." Jungkook mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Sinb.

Sinb hanya mengangguk kecil, lalu Sinb pun berbaring. Jungkook menyelemuti Sinb sampai dagu Sinb.

"Beristirahatlah, besok kita akan pergi ke toko gaun pernikahan." Ucap Jungkook.

"Baiklah."

"Aku akan pulang, pasti ayahku akan mencariku jika aku tidak pulang secepatnya."

"Um, iya hati-hati di jalan."

Benarkah dia berbicara seperti itu? Batin Jungkook.

Saat Jungkook berjalan untuk keluar dari kamar Sinb, Sinb pun berdiri untuk memanggil Jungkook.

"Tunggu!" ucap Sinb.

Jungkook yang baru di ambang pintu kamar Sinb pun terhenti langkahnya.

"Apa?" tanya Jungkook langsung.

"Um, soal yang tadi. Terima kasih." Ucap Sinb gugup.

"Sudah tugasku untuk melindungimu Sinb." Ucap Jungkook.

"Tapi aku tetap berterima kasih Jungkook."

"Baiklah, sama-sama."

.

.

.

Cie Jungkook sama Sinb mulai deket /?

Jangan lupa vommentnya ya.

Aim bakal update hari minggu atau nggak hari senin. Jadi ditunggu ya~

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 21, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bad Boy & Bad GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang