II. Tears

307 23 2
                                        


Ishqi baru saja selesai melaksanakan shalat subuh dua rakaatnya yang ia jalankan dengan khidmat dan khusyuk. Banyak doa yang ia sampaikan pada Dia yang maha agung dan maha tahu. Bagi Ishqi, tidak ada yang lebih mulia selain doa dan usaha untuk mencapai hal yang ia inginkan dalam doa tersebut.

Setelah shalat subuh, Ishqi menyiapkan pakaian yang harus Farhan kenakan untuk ke kantor selama pria itu masih berada di dalam kamar mandi sejak beberapa menit yang lalu selama Ishqi tengah berdoa setelah shalat.

Dulu, ketika Umi Ishqi pergi ke rumah Kakaknya, Ishqi lah yang menyiapkan keperluan Abinya untuk pergi ke kantor selama pria yang Ishqi sayangi itu masih bekerja di perusahaan yang Abinya secara pribadi miliki yang kini sudah dipegang alih oleh Abang Ishqi, yakni Athaya Nurul Imani. CEO muda yang dingin dan seolah memiliki kepribadian ganda. Tetapi tenang saja, lelaki itu tetap selalu melindungi Ishqi dari para laki-laki genit yang selalu ingin menempati tempat teristimewa di dalam hati Adiknya yang berparas cantik nan lembut itu. Sayangnya, Ishqi tidak minat berdalih dengan dunia perkantoran. Ia lebih suka berkutat dengan Ibu hamil, persalinan, bayi, dan segala macam yang berhubungan dengan profesi bidan yang selama ini ia banggakan. Meski aroma klomoform dan antiseptik kerap kali membuat kepalanya sakit dan perutnya bagai dikocok dengan ganas, hingga tenggorokannya terasa begitu sesak dikuasai rasa mual.

"Bajunya sudah aku siapkan," Tegur Ishqi ketika melihat Farhan sudah keluar dari kamar mandi dengan kaus putih polos dan celana selutut. Tetapi lelaki itu diam saja sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk hitam bercampur polkadot merah di tangannya.
Farhan berjalan menuju lemari bajunya, mengambil setelan pakaian yang ia mau untuk ke kantor.
"Aku tidak suka warna biru langit," Gumam Farhan sambil mengenakan kemeja berwarna abu-abu, melekat pada tubuhnya yang atletis. Warna abu-abu yang sekali lagi menonjolkan sifat misterius Farhan yang kentara.
Sementara Ishqi hanya diam sambil menghampiri Farhan dan membantu pria itu mengenakan jas Armaninya, yang segera ditepis tangannya oleh Farhan. Membuat Ishqi yang berdiri tak jauh dari Farhan tergeragap karena terkejut dengan pergerakan tiba-tiba pria itu.
"Jangan bertingkah seolah kamu adalah istriku, Ishqi." Ucap Farhan, sengaja menekankan pada kata 'istriku'. "Aku berangkat." Gumam Farhan.
Ishqi menganggukan kepalanya, diraihnya tangan besar Farhan, kemudian ia cium dengan takzim. Dan sekali lagi, Farhan menepis tangan Ishqi yang terlihat mungil jika dibandingkan dengan tangannya yang kekar.
Kilat marah sudah berdesing di iris mata perempuan itu, namun aura kemarahan itu lenyap secepat ketika kilat itu muncul.
"Hati-hati." Ucap Ishqi dengan ketus sambil memandang punggung lebar Farhan yang perlahan menjauh kemudian hilang di pintu keluar kamar.

Ishqi menghempaskan tubuhnya di sofa kulit yang berada dalam kamarnya dan Farhan, menghela napas lelah sambil memjiat dahinya dengan telunjuk dan ibu jari. Pagi-pagi seperti ini dia sudah mengajak debat dan aksi tarik urat, aku sangat tidak suka! Terlebih lagi, apa sih salahku? Dan apa tadi? Dia bilang jangan bertingkah seolah aku adalah istrinya? What the... yang terpenting dan terfakta, aku kan memang istri Farhan! Istri sah secara agama dan negara. Allah... Ishqi membatin kemudiam melenguh dalam hati sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian, otaknya kembali pada rencananya untuk resign dari rumah sakit karena tentu saja Sidqi lah yang menjadi alasan utamanya. Ishqi tidak mungkin selalu menitipkan Sidqi di Uminya ketika perempuan itu bekerja, menyelamatkan nyawa-nyawa bayi kecil di rumah sakit. Tetapi demi apapun, Ishqi belum siap untuk melepas profesinya itu. Tetapi...
"Ya Allah, ya Rabb." Ishqi bagai ditarik oleh dua malaikat kecil yang sedang berada dalam ambang bahaya, memaksanya, menyuruhnya untuk menyelamatkan salah satu dari mereka. Dan tentu saja... Ishqi tidak bisa, kalaupun ia bisa, dua malaikat itu akan dia selamatkan. Tidak usah tanggung-tanggung! Namun kembali lagi pada kemampuannya, Ishqi hanyalah manusia biasa yang bisa hidup karena salah satunya disebabkan karena sebuah pilihan.

Ishqi LatifahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang