BAB 2: Apa Yang Akan Terjadi. 2

1.9K 116 2
                                        

Mohon vote dan komenya.

--

Kegelisahan terus hinggap di hatiku. Nya-ALLAH bisakah engkau, kembalikan kebahagiaanku. Bahkan aku belum merasakan bahagia.

Aku nangis dipadang illang sendiri, memeluk lututku dengan erat. Ayahh dan ibuu telah pergi kembali.

"huhuhu. Kalian jahat! "

Aku memukul-mukul tanah, sampai tangan kebas. Dan aku disini benar-benar sendiri. Sekarang aku harus bagaimana, gak adalagi yang akan membangunkanku, tak adalagi yang akan memperhatikanku, gak akan adalagi yang mengomeliku, tak adalagi yang akan memelukku erak, tak ada lagi yang akamencium keningku nanti. Gag akan ada lagi----. Aku tak mampu melanjutkan kata-kata itu.

Sekarang aku taktauharus bersikap bagaimana. Kembali seperti dulu? Tidak-tidak-tidak, itu akan semakin membuat jiwa iblis didalam hatiku tertawa.
Nya-ALLAH

"anakk manizz? Kau kenapa?! " Laki-laki ber'Alis tebal itu menanyaku.

Dia berjongkok dihadapanku. Menopang tanganya dilutut. "Aku ditinggalkan oleh orang tua ku. Huhuhu" tangis jadiku semakin menjadi.

"Jangan menangis cantik. Emango orang tua mu kemana?!"
Ia mengelus kepalaku menuntun ku untuk berdiri.

"Merekaaa hu hu hu, sudah pergi kesurga omm! "

Pria dewasa itu tetap tersenyum dan menganguk. Tidak tau harus bertopang pada siapa lagi. Aku tidak punya adik, aku juga tidal tau bagaimana bentuk wajah kakek nenek ku, selama aku besar aku aku hanya dirawat oleh kedua orang tuaku, di kasihi kasih sayang yang sangat kuar biasa berlimpah.

Memikirkan hidupku selanjutnya aku tidak tau, roda kehidupan telah membuatku berbalik. Dan sekrang aku menyadari, bahwa sekarang aku sedang dalam masa karma.

Sekarang aku meneguhkan hatiku untuk kuat. Kuat untuk ayah dan ibuku yang sudah berada di surga, kuat untuk diriku sendiri, dankuat untuk masa depanku nanti. Aku tidak mau hidup dalam kegelapan di alam sunyi. Aku ingin seperti senja, yang selalu memberikan ketenangan dijiwa, selalu membuat setiap orang bahagia. Mulai detik ini aku bertekad akan menguatkan diri, menjalani hidup dan mensyukurinya, mengambil jaon yang fatal akan membuat semuanya menjadi runyam. Itu bukan solusi yang baik.

Nanti waktunya aku akan bersama ayah dan ibu.

Pria itu berdhem, menggeser bahunya sedikit. "Sudah jangan menagis, sayang? Mukanya keliatan mupeng! Siniian, Saya tidak jahat"

Tangisku sedikit mereda. Mungkin dia melihat keraguan dalam diriku. Membatasi diri kepada orang asing itu sebenernya tidak sapah. Tapi apa mungkin dalam kondisi seperti ini aku harus kukarela mengulurkan tangan.

Dia memandangiku, disana? Tatapanya tajam seperti elang, tidak ada tatapan yang patut dicurigai. Dia tersenyum, aku memalingkan wajah karna malu. Sekarang tak ada jarak lagi diantara kami. Karna hatiku mengatakan dia orang yang sangat baik.

Tangisanku sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Kenapa aku masih di tempat ini, apa benar aku sudah mati,?

"Tidakk. Kamu hanya di berikesempatan! "

Seolah tau apa yang ada dalam pikiranku pria dewasa itu menjawab.

Aku nemandangya bingung. Maksudya apa dengan diberi kesempatan.

Aku berdehem, membuang pikiran negatif yang sempat hinggap. "Boleh aku tau maksudnya? "

Dia menoleh dan tersenyum lembut "Baiklah akan ku ceritakan! " Dia menjeda. Aku memandanya penuh harap.

"Bisakah kau memandangku dengan biasa?! "

"Ehhh"
Nadanya menjadi dingin. Aku salah. Salah menganggap dia orang baik. Ternyata setiap seseorang takberhak memutuskan kepribadian dalam satu sisi. Rasa kesal mendominasi hatiku.

Just YourselfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang