Chapter: II

43 7 0
                                    






Mata itu terus mengawasi Lusie. Gelap, hanya itu yang terlihat dari matanya.
"Kau tak perlu mengawasinya seperti itu, William", seseorang menyapanya.
"Clare, kau mengagetkanku", balas William.
"She will be alright, Will. Ingat aku terus berada disampingnya sejak dia dilahirkan", lanjut Clare.
"Aku tahu itu. Hanya saja ini sudah hampir waktunya Clare. Dia pasti akan sangat bingung jika saatnya tiba. Bagaimana jika ia tidak mau kembali setelah mengetahui semuanya?", jawab William, khawatir.
"Kau berlebihan William. Semuanya akan berjalan sesuai rencana", sahut Clare, walau sebenarnya ia ragu dengan ucapannya.
"Aku akan pergi. Ingat, jangan sampai terlihat, Flannery terbodoh", lanjut Clare seraya pergi.
"Aku bingung mengapa kau terlahir sebagai kaum Edlyn, Clare!", ucap William setengah berteriak karena kesal.

***

Lily dan Durell baru saja bertemu dengan Avigdor, Sang Penjaga Tertinggi. Sang Penjaga sudah dua kali mengingatkan Lily dan Durell bahwa harinya akan tiba. Lusie Alvery Gwrtheyrn akan segera kembali dan tugas mereka menjadi orangtua Lusie akan segera berakhir. Lily dan Durell harus mulai menjaga jarak dari Lusie Alvery, agar Lusie tidak khawatir saat mereka menghilang.
Perintah adalah mutlak bagi kaum Custodio. Walau mereka tidak tahu bagaimana cara menjauh dari Lusie yang mereka jaga 15 tahun terakhir ini.

***

"Good morning class. Saya Mr. Warner dan akan mengantikan Ms. Anne hari ini karena beberapa alasan yang tidak perlu kalian tahu dan, ya, langsung saja kita mulai pelajaran ini", seorang pria yang masih cukup muda dan cukup menyebalkan, masuk ke kelas bahasa Perancis menggantikan Ms. Anne yang absen mengajar hari itu. Para siswa di kelas bahasa Perancis yang awalnya bersemangat tidak ada pelajaran pagi itu langsung berubah drastis karena guru menyebalkan itu masuk.
Namun, Lusie tidak. Ia tetap bersemangat.

10 menit berlalu dan sudah 3 anak yang dimarahi oleh Mr. Warner karena hampir tertidur. Lusie yang awalnya fokus, tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan gurunya itu. Telinganya terlihat panjang. Mengerikan.
"Nope Lusie. Kau berhalusinasi", batin Lusie.
Semakin Lusie berusaha untuk fokus semakin nyata apa yang dilihatnya. Mata Mr. Warner berubah warna.
"Astaga, bukankah matanya cokelat? Mengapa berubah menjadi hitam?", batin Lusie lagi.
"Tidak Lusie bodoh. Kau bodoh sekali. Dia tidak berubah sama sekali. Lusie yang bodoh", Lusie memaki-maki dirinya sendiri. Selama pelajaran bahasa Perancis, Lusie hanya memperhatikan telinga dan mata Mr. Warner. Menerka-nerka apakah yang dilihatnya nyata atau tidak.






•••••

Immortal SoulDove le storie prendono vita. Scoprilo ora