"Mom Dad...."Mom dan Dad langsung melihat Lusie, tersenyum seakan tidak ada apa-apa. Lusie ingin menanyakan perbincangan tersebut namun Mom dan Dad tersenyum seolah-olah tidak ada orang lain sebelumnya disini. Lusie memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Aku lapar"
***
Lusie menghabiskan malamnya bersama orangtuanya bercanda dan tertawa.
"Mom Dad aku akan mengikuti audisi orkestra! Wish me luck, 'kay?", seru Lusie mengebu-gebu. Mom dan Dad tersenyum melihat tingkah Lusie yang begitu kekanak-kanakkan.
"Good luck", ucap mereka bersamaan.
Lusie memiliki hidup yang sempurna.
Mereka terus mengobrol hingga larut.
"Lusie, it's time to sleep honey", ujar Durell. Lusie tersenyum melihat Dad.
"Alright then! Goodnight", katanya sambil berjalan ke kamarnya.Lily dan Durell sudah berada dikamarnya, begitupun Lusie.
"Aku merasa bersalah", ucap Lily memecah keheningan.
"Why?", tanya Durell seraya duduk disamping Lily.
"Kita membuat hidupnya sempurna. Dia tidak mengenal sedih atau kecewa. Dia bahkan tidak pernah jatuh cinta", Lily terlihat murung. Durell memang merasakan hal yang sama. Lusie adalah daughter of King Gwrtheyrn dan mereka penjaganya. Mereka hanya ingin Lusie aman. Namun mereka malah mengukir kisah sempurna untuk Lusie di dunia ini, dan menyulitkan diri mereka sendiri.
"Biarkan Velitel dan Lady Clare yang mengurusnya, Lily. Tugas kita hampir selesai", jawab Durell, pasrah.***
Esok pagi Lusie bangun dengan ceria. Tentu saja audisi orkestra sudah terbayang-bayang di otaknya. Lusie memang berniat latihan di sekolah. Ia sudah menyiapkan partitur lagunya di dalam tas. Dia sangat ingin masuk dalam orkestra itu.
Setelah semuanya siap, Lusie turun dan menemukan orangtuanya tidak ada dibawah.
"Mom"
"Dad?"
Lusie mencari orangtuanya namun mereka benar-benar tidak ada. Ditengah kebingungannya, Lusie menemukan kertas di pintu kulkas.
"Kami berangkat lebih dulu karena beberapa urusan penting. Love you. Mom", gumam Lusie membaca kertas itu. Lusie terdiam, tidak biasanya orangtuanya seperti ini. Apapun yang terjadi, salah satu dari mereka pasti ada dirumah untuk mengucapkan selamat pagi. Dan hari ini, setelah bertahun-tahun, mereka melewatkannya. Lusie terdiam cukup lama sampai ia tersadar.
"ASTAGA AKU HARUS NAIK BUS SEKOLAH!", Lusie pun hanya mengambil susu dari kulkas untuk sarapannya dan kemudian berlari keluar rumah.***
Tepat saat Lusie sampai dihalte, bus sekolah sudah berada cukup jauh meninggalkan halte. Lusie hanya bisa pasrah dan menunggu bus umum datang. Pertama kali dalam hidupnya ia terlambat ke sekolah.
Selama di perjalanan Lusie berharap agar tidak terlambat, tapi kenyataan memang menyedihkan. Di depan gerbang sekolah yang sangat besar itu, seorang guru menakutkan berdiri dan siap menghukum siswa yang terlambat. Hari itu benar-benar tidak menguntungkan Lusie, hanya ia yang terlambat.
Setelah menyiapkan mental, Lusie mulai berjalan. Namun, seseorang menariknya menjauh dari gerbang utama."Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Lusie benar-benar kesal. Ia tidak pernah merasa sekesal ini dalam hidupnya. Jika dilihat dari seragamnya, orang ini juga siswa St. Petrus Louis. Jika dilihat dari postur tubuh, genggaman tangan dan rambutnya, orang ini adalah seorang pria. Lusie merasa mereka sudah berlari cukup jauh dan Lusie merasa sudah seribu kali ia bertanya mau kemana. Sampai akhirnya mereka memasuki gerbang kawat. Lusie menyadari gerbang kawat ini pembatas jalan dengan taman kota, yang lebih pantas di sebut hutan kota. Lusie pun menjerit lebih keras.
"JIKA KAU BERNIAT ANEH-ANEH AKU AKAN BERTERIAK" Lusie mulai panik, berusaha melepaskan genggaman pria itu, meski mustahil. Pria itu begitu kuat.Tak berapa lama, pria itu akhirnya melepaskan genggamannya. Ia berbalik melihat Lusie. Lusie yang takut langsung bersiap berlari meninggalkan tempat ini. Tapi dengan cepat pria itu menarik tangan Lusie dan mendorong Lusie ke tembok.
"Tembok?! Bagaimana ada tembok di hutan seperti ini?!" pikir Lusie yang panik. Setelah melihat kanan kiri, Lusie menyadari sepertinya tembok ini adalah batas lain dari hutan kota. Dengan sangat cepat, pria itu pun meletakkan tangannya ke tembok, mengapit Lusie di tengah. Lusie kaget dan melihat wajah pria itu persis di depan wajahnya.
"Kau berteriak dari tadi tapi tidak ada yang datang kan?"
•••

STAI LEGGENDO
Immortal Soul
FantasySemuanya terasa, berbeda. Mimpi-mimpiku seakan pernah nyata, ada bayangan-bayangan di ujung mataku, suara aneh (yang kadang mengerikan) di pikiranku, awan-awan membentuk tulisan aneh yang kumengerti, bahkan aku merasa asing dengan orangtuaku. Ada ya...