Sebatas Teman

65 4 1
                                    

   Aku ingat masa-masa kecil dulu yang meyenangkan bahkan menyedihkan. Di kota Jakarta tempat ku lahir,namun yang mengurus ku bukanlah orang tua ku,melainkan nenek dan kakek ku. Aku tinggal di desa sedangkan orang tua ku sibuk dengan pekerjaanya di jakarta. Nama ku Ariana Putri. Aku masih berumur 8 tahun. Ketika masuk Sd ku memiliki beberapa teman.
Ketika aku sudah masuk smp umur ku masih 13 tahun.

     Jam 7 ku berada di dalam kelas,ada seseorang yang memanggilku ketika aku sedang duduk di kursi paling depan.
"Putri...."
Suara itu berhenti seakan-akan aku berfikir siapa dia.
Setelah ku menengok ke arah belakang seseorang melihatku dan tersenyum.

"Hai putri, aku yang panggil kamu tau .. Haahaa " Amel tertawa melihat putri kebingungan.
"Hai mel aku kira siapa yang panggil aku,oh ya ada apa kamu panggil aku?" aku bertanya karena penasaran .

"tidak aku gurau saja lagian kamu sedang apa sih di meja sendirian?" Amel bertanya heran.
"Tidak aku cuma main handphone saja ko" memang benar aku lagi main handphone .
"Oh begitu yasudah kamu duduk sebangku sama aku yah " Amel meminta ku untuk duduk bersamanya dan aku menerima permintaanya.

(Putri)

  Aku kelas 7a dimana masa remaja kami sedang tinggi.
Aku memiliki body yang tidak terlalu tinggi,dengan hidung mancung dan kulit sawo matang. Jadi tak jarang kalau banyak cowo-cowo yang naksir sama aku. Ketika bel istrihat berbunyi,semua murid smp bertebaran di kantin untuk makan siang. Namun aku tidak suka makan nasi di sekolah, hanya saja aku beli makanan ringan.

Aku berjalan menuju kelas bersama 4 teman ku yang setia bersama ku. Setelah di kelas aku berbincang-bincang bersama mereka. Tiba-tiba ada Hendri menghampiriku. Hendri adalah teman semasa aku masih sd.

" Eh put,sini deh gue mau ngomong sebentar!" Hendri dengan sikap songongnya menarik tangan aku.
"Ada apaan sih kamu?" aku dengan lemah lembut nya bertanya.

"Ada yang naksir sama lo,katanya lo mau gak jadi pacarnya?" Hendri bicara dengan berbisik-bisik di telingaku. "Siapa dia" aku bertanya penasaran.

Dia menunjuk salah satu teman cowo ku, dan "astaga itu Riyan, Dia adalah cowo yang paling gokil di kelas. Dengan tingkah dan ucapanya yang lucu dia bisa naksir aku". Batin aku

  Aku hanya tersenyum melihat Riyan. Namun jujur aku tidak menyukainya. Aku pun menjawab pertanyaan hendri

" Hen, kamu bilang sama Riyan kalau aku menganggap dia sebatas teman " aku memutuskan untuk berteman saja.

"Baiklah kalau gitu" lalu hendri pergi meninggalkan ku,dan menghampiri Riyan. Astaga kami baru smp tingkah laku kami sangat konyol ngomong cinta saja pake perantara ke orang lain.

(Riyan)

"Gimana dia mau jadi pacar gue?" tanyaku kepada hendri.

"Dia tidak mau jadi cewe lu breder hahahah." hendri tertawa melihat riyan begitu melihat mukanya pucat.

"Dia nolak gue,kenapa alasanya?"
Tanyaku heran.

"Mungkin dia gak suka sama lo brader jadi tenang aja ga usah galau begitu." celoteh hendri sembari memegang pundak riyan.

(Putri)

Ketika aku dirumah aku masih kepikiran riyan. Aku sering senyum- senyum sendiri ketika membayangkan tingkah dan ucapan riyan yang lucu.

"Kenapa aku malah mikirin riyan,aku kan ga suka sama dia."
Aku pun menepak-nepak kepala ku agar berhenti memikirkanya.
Ketika di sekolah ku melihat riyan mencuri perhatian ku. Dia menghampiri ku ketika aku hendak menuju kelas.

" hai put,sorry ya kemarin, hendri iseng padahal gue ga nyuruh dia buat lu jadi pacar gue" riyan terpaksa berbohong,karena dia malu kalau dirinya sudah ditolak. Hendri yang bersama Riyan menepak tangan nya riyan.

"Ko lu malah bohong gitu sih yan" Hendri sedikit berbisik kepada riyan.

"Udah ini akting gue lu diem aja " Hendri pun mengangguk mengerti.
"Eh iya put kemarin gue becanda maaf yah"  Hendri hanya bisa cengengesan saja.

"Owh gitu,lupakan saja masalah kemarin, maaf aku duluan yah" aku pun memberi senyuman kepada kedua temanya itu.

(Riyan)

Gue senang melihat senyuman dia, aduh bibir dia yang seksi itu sampe gue ga bisa berpaling sedikitpun.

"Heh Riyan malah bengong, kenapa bengong kemasukan lu hahahah"  Hendri tertawa berisik sekali hingga gue kaget Ketika baru sadar kalau dari tadi gue memperhatikan Putri.

"Ah berisik lu.. Jangan ketawa suara lu berisik nanti bocah pada kabur" gue hanya bisa kesal kepadanya.

Kebetulan gue anak futsal, setiap harinya sibuk dengan latihan futsal,namun gue kenapa bisa suka sama putri.

Jam 13.00 Gue melamun di samping lapangan. Salah satu temen gua Andi menepuk pundak gue.

"Riyan,lu kenapa sih melamun, mikirin cewe yah cie cie cie " Andi ngeledek gue terus terusan.
"Apaan sih lo ganggu gue aja sana lu pergi, ganggu gue aja " . gue mendorong andi untuk pergi dari gue.

"Biasa aja dong bro.. Ciee cie" tak hentinya Andi ngeledek riyan.

"Ah sana lu.. Ada lu gue jadi kaga bisa mikir lagi nih.. Wah jangan-jangan gara-gara lu gue amnesia lagi hhaa"
Gua hanya bisa tertawa .
"Alhamdulilah kalau lu amnesia " celoteh andi.
" eh pea dasar lu malah alhmamdulilah lagi, udah gue mau pulang." gue pun membawa tas dan berjalan menuju parkiran.

Maklum baru belajar nulis cerita . maaf kalau sedikit ga nyambung dan ga jelas.

My experience as a teenagerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang