enam

61 3 0
                                    

"Yasudah. Sana masuk jangan merepotkan ku lagi." Usir Rafael padaku.
"Baiklah. Tuan pemarah." Jawabku seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Terdengar suara tangis ibu dalam rumah dan "bruk..!!" Daur pintu dipaksa terbuka oleh ayah.
"Yaampuuun darimana saja kau ini pelangi ? Orang serumah khawatir kau tak ada di kamar ibu mu menangis kebingungan takut kehilangan dirimu." Ucap ayah panjang lebar setelah melihatku ada di depan pintu. Dan aku yakin Rafael masih terjaga disana mengamatiku.
"Aku dari bukit belakang rumah pah, aku bosan dikamar ingin minta izin tapi kalian sudah tidur." Jawabku meyakinkan ayah.
"Yaudah yuk masuk nak diluar dingin." Ajak ibu.
"Ayo mah. Oh iya aku diantar teman baruku. Dia juga rumahnya dekat sini." Ucapku.

"Yasudah, ayah akan berterimakasih padanya kau masuk saja dulu."

Rafael tersenyum ramah pada ayah.
"Selamat malam pak." Sapa Rafael pada ayah.
"Eh malam, terimakasih ya sudah antar anak bapak pulang dengan selamat sampai rumah, em siapa nama mu tadi ?" Ucap ayah.
"Nama saya Rafael pak, iya sama sama pak. Sudah seharusnya saya sebagai lelaki mengantar seorang wanita pulang, ga baik malam-malam begini pulang sendiri." Jawab Rafa.
"Yaaa terimakasih nak, Pelangi adalah harta paling berharga yang kami punya. Meskipun dia penyandang tunanetra, dia adalah anak paling sabar dan kuat di dunia. Kami sangat sayang pada pelangi, apapun yg membuat pelangi bahagia akan kami lakukan, kami akan menjaga harta paling berharga yang kami punya." Jelas ayah panjang lebar.
"Saya mengerti bagaimana perasaan bapa, meskipun Pelangi mempunyai kekurangan tapi otu semua tertutupi dengan kecantikan hati nya yang sangat luar biasa." Jawab Rafael.

"Aku adalah ayah paling bahagia mempunyai anak seperti pelangi." Bangga ayah.

"Saya mengerti pak, maaf pak sudah malam saya harus pamit." Ujar Rafael pada ayah.
"Oh iya benar, sudah malam sebaiknya kamu pulang nak. Dimana rumah mu tadi perlu bapa antarkan ?" Tawar ayah.
"Eh tidak usah pak, rumah ku cukup dekat dari sini. Rumah putih sebelah kebun teh." Jawab Rafael.
"Oh ini nak Rafa yang dulu masih suka maen bola ? Saya teman bapak mu, bapak mu Hanjar Winata kan ?" Ternya ayah sudah kenal dengab keluarganya Rafael.
"Lah bapak tau ? Hehe iyaa benar pak."
"Yasudah salah untuk bapak mu, sudah malam sebaiknya kamu segera pulang nak."
"Baik pak, saya pamit dulu. Assalamualaikum."

Malam itu adalah awal dari perkenalanku sekaligus pertemanan ku dengan Rafael.
Sejak malam itu. Setiap hari kami selalu bersama, di ajak jalan-jalan oleh nya, dia selalu menjadi mataku. Dia selalu menceritakan rupa dari semua yang ada disekeliling kami.


Bersambung..
NO COPAS!!

pelangi terakhir kuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang