Teruntuk kamu yang pernah datang, pernah hilang, pernah kembali, lalu lenyap lagi.
Kamu yang datang sebentar. Membahagiakanku. Mengutuhkan harapanku. Membuatku tertawa. Memperlakukanku seolah aku amat berharga. Seolah aku memiliki arti lebih dalam hidupmu.Untuk kemudian pergi begitu saja, bahkan tanpa pamit.
Aku tahu kamu mengetuk pintuku hanya ketika kamu sedang lelah. Ketika kamu butuh persinggahan. Kamu memerlukan tempat untuk
beristirahat beberapa waktu.
Aku terlalu bahagia saat itu. Hingga lupa, bahwa kedatanganmu hanya menyuguhkan luka.
Ketika kamu menyukai apa yang aku sukai, itu hanya kebetulan semata. Ketika kamu membuatku tertawa,
aku tidak berpikir kamu sedang berusaha membuatku bahagia. Kamu hanya sedang menghibur diri, agar tak lantas larut dalam sepi.
Agar sejenak kamu lupa dengan seseorang yang baru saja menyakitimu. Kamu melakukan banyak hal bersamaku, bukan
karna kamu ingin terus disampingku, kamu hanya tidak mampu melakukannya sendirian.
Kamu tidak tahu rasanya menjadi sebuah persinggahan. Yang hanya membasuh peluhmu tatkala kamu kelelahan, lalu kemudian kamu tinggalkan.
Kamu menghilang tiba-tiba. Kukira, kamu sedang bercanda tawa dengan seorang pujaan yang lama kamu idamkan. Kukira, kamu lupa. Dengan siapa kamu membagi lukamu.
Sedang tokoh yang menjadi ‘Aku’, bisa apa? Aku hanya tersenyum pedih mendapati merebahnya sebuah kepala diatas bahumu. Mau memanggilmu? Siapa aku?
Teruntuk kamu yang kini entah ada dimana. Biar kutebak, kamu sedang membelai lembut punggung tangan kekasihmu itu, bukan? Aku tidak memiliki cukup kekuatan, lantaran pada akhirnya air mataku menunjukan diri dipermukaan pipi.
Kamu hilang bukan dalam waktu
sebentar. Kamu pergi sangat lama. Hingga pernah ada masanya, aku berharap kamu kesepian agar kamu datang lagi.
Sebut saja aku, bodoh. Karna walau ditinggalkan juga diabaikan. Aku tetap berdoa agar kamu kembali.
Menyakitkan menjadi seseorang yang tidak pernah kamu toleh sedikitpun, meski sekedar untuk kamu tahu bagaimana keadaannya. Menyakitkan menjadi seseorang yang diinginkan hanya ketika kamu sedang ingin bersembunyi dari perih.
Padahal yang aku tahu. Cinta akan selalu kamu sambangi dalam sakitmu, atau bahagiamu. Dan yang aku tahu. Aku bukan cintamu. Kuharap kamu paham. Tidak ada yang kekal dalam hidup ini.
Bagaimana jika Tuhan menukar posisi kita? Kamu jadi aku dan aku sejahat kamu? Siapkah kamu dikecewakan? Kamu baru akan mengerti nanti. Saat kamu diperlakukan layaknya persinggahan. Layaknya kamu adalah tuan rumah yang harus menyediakan jamuan, demi memuaskan dahaga sang tamu.
Teruntuk kamu yang masih hilang. Aku pernah mencintaimu dengan tulus. Aku pernah merasa dibahagiakan olehmu walau sebenarnya bukan itu maksud kedatanganmu. Aku pernah ingin
diinginkan olehmu. Saat ini, aku berhenti.
Aku sudah selesai. Tak lagi kuberusaha mencari tahu tentangmu, tentang hari-harimu, menelusuri segala macam celah untuk tahu sedang apa dirimu. Siapa kita nanti sepenuhnya kuserahkan pada Tuhan.
Semoga kau selalu bahagia dijagaNya
-Dari Yang Sudah Tak Ingin Lagi.
Barangkali kau harus tau sesuatu hal; Pernah dicintaimu, aku jadi sulit merasakan lagi cinta dari orang lain.
Cintamu masih saja, menjadi benteng kokoh yang tidak mudah dirobohkan untuk dilupakan. Mengurung diriku didalamnya, kemudian tenggelam bersama tangisan-tangisan.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengukir Kenangan
PoetryKertas, Pena, & juga Rindu. Mana yang harus kutumpahkan lebih dulu? Tinta atau air mata.
