Aku duduk bersama senja. Dihadapan meja kayu yang masih sama. Ditemani kopi yang rasanya semakin pahit saja. Kali ini aku menanyakan perihal cinta. Senja bilang ia bisa bertahan jika semesta menghendakinya. Lantas apa
gunanya Tuhan ciptakan rasa? Jnggal saja, bukankah cinta itu perihal hati dua orang manusia? mengapa semesta harus berada diantaranya? Sungguh.
Ini menyebalkan.
Kau tahu aku benar-benar tak ingin mengingatmu. Tapi sepertinya sebagian diriku melawan. Mereka menginginkannya. Ingatan itu memburuku, seakan ingin menikamku tepat disini, tempat yang erat-erat aku lindungi untuk kau sakiti sekali lagi, hatiku.
Aku tak bisa melawan apa yang diinginkan diriku. Walaupun aku ingin melawannya. Kenyataannya ingatanlah yang memilihku. Dan tentang bagaimana aku akan mengingatnya. Aku hanya akan tahu ketika aku mengingatnya. Begitulah cara kerja ingatan. Kau takkan pernah tahu sampai kau akan mengingatnya.
Aku tak pernah bisa memilih ingatan mana yang aku suka untuk
aku simpan. Dan dengan cara yang demikianlah mereka mengingatkanku akan hujan. Hujan yang selalu merdeka, yang selalu tepat waktu, laiknya aku dan kamu dalam masa lalu kita, hujan dan ingatan ini adalah sejoli yang tak mungkin terpisah. Aku akan mengingat hujan tiap kali aku melihatmu, begitu juga sebaliknya, setiap kali aku mengingatmu, hujan turun.
Setiap kali hujan turun aku selalu merasa semesta berpesta pora diatas ingatan ini, mencoba menikamku, sekali lagi, ingatan ini. Ingatanku akan hujan selalu sama. Selalu menyenangkan saat hujan datang. Pun saat sore itu.
Hujan sore itu sangat deras dan kita berteduh dibawah halte bus tua. Tempat duduknya basah. Tapi kita sudah tak peduli lagi.Itu masih mending daripada harus hujan-hujanan lagi. Aku tahu kamu baru saja sembuh dari flu berat, dan itupun karena aku. Aku yang memaksamu pergi menemaniku, padahal kau sedang tak enak badan. Hujan nampaknya tak datang tepat waktu seperti yang dikatakan temanku. Ataukah ia terlalu tepat waktu sehingga tak biarkan aku dan kekasihku yang malang ini sampai dirumah sebelum ia turun?
Sepertinya aku mulai menyalahkan hujan, sampai ternyata aku menyadari hujan punya maksud lain sore itu. Sementara aku berpikir tentang hujan dan mengapa hujan turun sore itu, Hujannya tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Awan diatas kitapun masih hitam pekat.
Sepertinya ini pertanda kita akan lama disini. Aku sudah mulai tak sabar, Aku ingin tahu seberapa deraskah hujannya. Lalu aku mengulurkan tanganku ke depan, mengukurnya dengan telapak tanganku. Kau memandang ke arahku dengan tatapan tajammu, seperti biasa.
Kemudian menarik lenganku. Sudah cukup, katamu. Aku menarik tanganmu seperti katamu. Sekarang aku sudah tahu seberapa derasnya hujan ini. Tapi aku tak pernah
tahu kalau itu hujan terakhirku bersamamu. Dalam ingatanku, bersamamu saat hujan selalu menyenangkan.
Dan aku akan tetap mengingatnya seperti itu. Dan dengan cara yang sama mereka mengingatkanku
pada hujan, mereka mengingatkanku pada kopi. Kopi hitam yang aku pesan sedari tadi belum aku minum
setegukpun. Kau tahu aku akan membiarkannya dingin sebelum aku minum. Dan kau akan selalu bertanya
mengapa aku tak pesan saja kopi dingin.
Aku tersenyum.Tak apa jawabku, biar hangatnya untuk tanganku. Seandainya kau tak ada disini untuk menghangatkanku. Kau balas tersenyum. Tapi aku tak pernah menduga kalau kau benar-benar tak ada disini lagi saat aku minum kopi itu. Dan tahukah kau, aku meminumnya sampai habis kali ini.
Sore itu. Di sebuah halte bus tua tempat kita pernah bersama. Hanya ada aku, kopi yg segera dingin, dan hujan yg sepertinya tak akan berhenti. Tapi tahukah kau, hujan yang sepertinya tak akan pernah berhenti pun nantinya akan berhenti juga? Dan kopi yang hangat akan segera dingin dan aku harus meminumnya sampai
habis? Kau tahu benar kebiasaanku.
Aku sengaja tak pernah mengaduk kopiku agar gulanya tetap dibawah.Biar pahitnya habis sampai manisnya datang, kataku. Kopi hitam yang ini, aku masih menunggu sampai manisnya datang.
Dan dengan cara yang sama, pada akhirnya, aku mengingatmu lagi walaupun aku tak mau.
***
bersama hujan dan kopi sore ini, aku seperti mendengarmu bertanya, separuh mengejek, apa kau lagi mengingatku? Aku menjawabnya pelan ditegukan terakhir
kopiku, Aku tak mau tahu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengukir Kenangan
PoetryKertas, Pena, & juga Rindu. Mana yang harus kutumpahkan lebih dulu? Tinta atau air mata.
