1. S o l i t u d e

8.4K 623 24
                                        

| s o l i t u d e |

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

| s o l i t u d e |

[]

Aku berjalan memasuki ruang keluarga, menarik kursi di depan meja makan. Kemudian, menyantap nasi goreng yang di buatkan oleh Ibuku. Setiap pagi sarapan yang dibuat Ibu selalu berbeda - beda. Itu yang membuatku semangat setiap pagi.

Tapi ada hal lain yang membuatku lebih semangat. Sebentar lagi muncul, mengayuh sepeda dengan santai dan tenang. Nah itu. Mas Alan berangkat sekolah dengan bersepeda raut wajahnya selalu menyenangkan, dan menenangkan.

Aku meneguk segelas susu, kemudian berpamitan.

Aku juga membawa sepeda, karena bersepeda itu menyenangkan. Aku juga tinggal di desa sehingga bersepeda juga dapat menghindari pencemaran udara yang ditimbulkan oleh asap kendaraan.

Aku mengambil sepedaku dari garasi, kemudian melambaikan tangan kepada Ibuku. Ayah masih sarapan di dalam.

"Hati - hati Nadin." Kata Ibu kepadaku. Aku mengangguk tersenyum.

Lalu mengayuh sepedaku santai. Angin pagi yang berhembus begitu sejuk berlawanan dengan tubuhku. Membuat satu, dua helai rambutku bergerak. Aku melihat punggung Mas Alan jauh di depanku. Aku menyipitkan mataku untuk memandangnya.

Satu hal yang aku sukai yaitu. Mas Alan itu pendiam, keliatan bagus tata kramanya, dia juga gak begajulan seperti anak - anak lain. Selain tampan dia juga manis. Aku menuntun sepedaku saat melewati jembatan kayu.

Mas Alan berbelok ke kanan. Aku tetap lurus kedepan. Sejenak menghentikkan sepedaku untuk memandangnya. Yah sudah cukup, kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju sekolah yang sebentar lagi sampai.

---

"Nadin, kamu tadi ngeliat Kak Alan?" Tanya Ajeng teman sebangkuku.

"Iya aku liat. Tadi dia juga naik sepeda." Jawabku sambil membuka tasku dan meletakan buku pelajaran jam pertama.

"Kenapa?" Tambahku.

"Enggak. Enak ya bisa bareng Mas Ganteng." Katanya sambil tersenyum membuatku geli.

Aku hanya mengernyitkan dahi. Melihat tingkah laku teman sebangkuku yang setiap aku datang hanya bertanya perihal Mas Alan. Bukannya bertegur sapa. Seperti hei Nadin, apa kabar? Nadin novel yang kamu baca bagus gak? Nadin bawa bekal apa hari ini? Gumamku dalam hati.

--

Aku pulang bersama Ajeng, Dito, Awan, dan Linda. Mereka semua teman sekelasku. Juga teman bermainku dirumah dan masih satu desa. Kecuali Ajeng. Rumahnya di desa seberang. Kami bersepeda dengan santai menyusuri jalanan yang kanan kirinya di persempit dengan bujur kaku pepohonan yang menjorok ke arah jalan. Beberapa dedaunan mengucapkan selamat datang. Dengan menggugurkan satu persatu dari mereka. Kemudian berhenti di warung bakso Mas Parjo.

Kami memesan 5 porsi bakso dan es teh manis. Cocok sekali dengan cuaca terik hari ini. Beberapa petani juga baru pulang dari sawahnya. Anak - anak lain melanjutkan perjalanan pulang. Anehnya warung Mas Parjo sedari tadi sudah ramai. Bukan ramai pengunjung tapi ramai di penuhi warga sekitar yang sedang. Ah entah. Aku tidak mendengarnya dengan jelas.

"Eh itu pada ngomongin apaan sih?" Kataku kepada teman - temanku yang masih sibuk dengan ponsel mereka.

"Kamu gak tau Din?" Kata Dito bertanya balik kepadaku.

Aku mengedikkan bahu, raut muka Dito menjadi serius. "Tadi malem katanya ada.... pembunuhan." Katanya lirih. Aku tersentak kaget. Wajahku juga memerah.

"Lo belum tau Din?" Tanya Linda kepadaku lagi. Aku menggeleng pelan.

Pesanan pun datang. Mas Parjo tergopoh - gopoh membawa 5 mangkuk berisi bakso sapi aku memesan bakso telur. Dan 5 es teh manis di telakkan di atas meja. "Maaf yo le, mas Parjo agak lama nyiapinnya." Katanya sambil menyeka keringat di dahinya.

"Yo gak papa Mas. Matur nuwun nggih." Kata Ajeng diikutin senyuman oleh aku dan teman - temanku.

Kami menyantap bakso itu secara cepat, mungkin karena efek lapar dan haus. Setelah selesai makan bakso aku berniat langsung pulang tidak mampir kemana - mana. Dengan satu alasan aku takut.

Jam menunjukkan pukul 7 malam dan Ibu sudah menutup rapat pintu serta menguncinya. Horden juga di ikatkan rapat - rapat. Menutupi jendela kaca yang terlihat besar dari dalam. Aku masih sibuk dengan pr-ku.

Aku duduk di tepian sofa. Membuka horden dan menyeka-nya dengan jari - jari tanganku. Tidak ada suara apapun yang terdengar. Motor juga jarang melintas.

Aku juga melihat hal yang sama. Warung - warung juga di tutup rapat. Suasana desaku semakin sepi. Tidak seperti biasanya. Yang ramai oleh anak - anak yang bermain, aku yang terbiasa belajar di depan teras. Juga sekumpulan Ibu - Ibu yang mengobrol di depan teras masing - masing. Aku menutup horden ku kembali.

"Tok - tok." Suara ketukan itu sangat kencang memekikkan telinga. Aku menutup rapat - rapat telingaku. Ibu sedang sholat. "Tok - tok - tok." Suara itu muncul kembali. Keringat dingin tiba - tiba melintas di dahiku. Semilir angin malam terasa merasuk leherku. "Tok - tok - tok" suara ketukan itu lebih kencang dari yang pertama.

Yang aku sadari adalah pintu belakang rumahku tidak terkuci dan memang tidak memiliki kunci. Hanya selopan kayu saja. Aku takut.

[]

A/N: Jadi deg - degan sendiri. Anyway jangan lupa vote & komen apa aja yah. Nanti aku respon hehe. Makasih yang udah baca ^^

The Truth About AlanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang