7. M y s t e r i o u s

2.8K 411 21
                                        

| m y s t e r i o u s |

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


| m y s t e r i o u s |

"You try to reach out, to find it and drag it back, but it just wasn't there."

[]

Segera ku buang kertas bertuliskan kata-kata konyol barusan. Aku bergegas menuju toilet sekolah untuk membasuh wajahku yang tampak ketakutan sekali. Apalagi dijam-jam pulang sekolah. Semua penjuru kelas tampak sepi. Segera ku basuh wajahku dengan air dan menatap kaca yang agak kotor karena berdebu.

Nadin, tetep tenang. Kamu nggak bakal kenapa-kenapa oke? Mungkin kertas tadi cuma lelucon dari anak kelas lain yang nggak suka sama aku aja. Jadi tetap tenang, oke? gumanku dalam hati.

Setelah selesai aku berjalan dengan merapatkan cardiganku melewati lorong-lorong ruangan biologi yang tampak sepi dan menyeramkan. Apalagi mitos kalau beberapa kerangka tubuh manusia di sana sering pindah tempat kalau malam hari. Juga bunyi gelas-gelas pipet kecil yang pecah berdentuman dengan ubin lab tersebut. Semuanya sangat menyeramkan jika di bayangkan. Apalagi kasus kematian beberapa guru biologiku yang gagal melakukan praktik dan akhirnya terbakar di lab itu. Anehnya, kerangka tubuh manusia di sana tidak ikut terbakar dan tetap saja masih terawat. Aneh sekali, kan?

Untungnya masih ada teman-temanku yang menunggu di depan gerbang sekolah. Aku segera mengambil sepedaku dan mengayuhnya dengan semangat agar tidak tertinggal rombongan. Karena biasanya aku berada diurutan paling terakhir saat bersepeda.

"Temen-temen, aku duluan ya!" ujar Dito dengan semangat sambil melambaikan tangannya.

"Hati-hati ya Dit!" jawabku dan langsung kembali mengayuh sepeda. Sampai akhirnya kami semua benar-benar berpisah di perempatan dekat warung bakso Mas Parjo.

Tumben banget warung Mas Parjo tutup? Biasanya warung Mas Parjo lagi ramai-ramainya kalau siang hari. Karena kan pasti seger banget kalau makan bakso dan es teh di siang hari seperti ini. Biasanya juga banyak para warga terutama ibu-ibu yang berkumpul di sini. Sekedar berbincang atau nggak beli sayuran karena Mas Parjo juga menjual beberapa sayuran.

Aku segera mengayuh sepedaku lagi. Mencoba memperbaiki mood-ku dengan melihat persawahan dan bunyi kicau burung. Tapi, entahlah, aku selalu merinding kalau harus lewat jalanan yang kanan-kirinya dipersempit dengan bujur kaku pohon bambu besar. Aku selalu fokus ke depan dan tidak ingin melihat ke arah bambu-bambu itu lagi.

Semilir angin yang biasanya sangat aku sukai kini berubah menjadi nyanyian menyeramkan yang bisa kurasakan. Semilir angin seperti ini terlalu menyayat hatiku, dinginnya terlalu kentara padahal hari masih siang. Beberapa dedaunan kering juga jatuh dari pohonnya lalu mengenai rambutku. Ku sempatkan menengadah ke atas untuk melihat dedaunan yang lagi-lagi menyapa halus rambutku.

"Braaak!" aku terjatuh dari sepeda. Ada batu besar yang dilemparkan dari arah rumah kecil tak berpenghuni ke arah roda sepedaku.

Untung saja aku tidak terluka, untung juga di sini sepi sekali jadi aku tidak perlu menahan malu.

Batu itu dilapisi kertas yang, sebentar aku akan buka apa isi bacaannya. Oke, aku harap ini bukan bacaan konyol seperti tadi. Karena aku sudah muak dapat surat seperti ini. Lebih baik main surat-suratan cinta dengan Mas Alan, kan? Kalau suratnya teror meneror gini sih. Aku nggak bakal diem juga, karena Nadin itu pemberani.

Oke, aku buka kertasnya dan ternyata tulisannya juga berwarna merah, seperti bau darah segar yang baru saja keluar.

"Nadin! Stop jangan sok berani kamu! Kalau kamu terus mencari siapa 'aku' sebenarnya. Karena waktu hidupmu tinggal beberapa jam lagi."

Lalu ku balik ke arah belakang dan masih ada tulisan yang lebih (menyeramkan).

"CEPAT ATAU LAMBAT, SEBENTAR LAGI KAMU YANG AKAN MATI."

Tapi kali ini, aku beneran takut. Segera kudekap mulutku menggunakan tanganku dan kutinggalkan kertas bodoh itu.

Segera ku kayuh sepedaku menuju rumah. Keringat dingin di dahiku mulai keluar dan iya, baru saja menuju gang di desaku. Sudah banyak bendera kuning yang di pasang. Aku semakin gemetar. Siapa lagi yang menjadi korban dari seseorang bejat itu? Karena rasa penasaranku yang terlalu tinggi, kuhentikan sepedaku dan bertanya pada beberapa warga di desa.

"Maaf Pakde, mau nanya. Ini yang meninggal siapa ya? Kok banyak bendera kuning." tanyaku pelan.

Pakde Trimono menghela napas panjang, terlihat sekali kesedihan yang ia simpan dalam hatinya. "Mas Parjo, Nduk. Mas Parjo meninggal di warungnya barusan."

Seketika tubuhku gemetar. Aku baru saja melawati warung Mas Parjo. Pantas saja sepi, sangat sepi. Tidak ada warga yang kutemui di sana. Tidak ada lagi acara makan bakso bersama temanku, tidak ada lagi bakso terenak dan termurah, juga es teh manisnya. Tidak ada lagi sosok bersahaja seperti Mas Parjo, aku sangat sedih.

Dan, kertas bodoh tadi. Dia bilang kalau hidupku tinggal beberapa jam lagi, dan aku akan mati katanya?! Aku lemas, sangat lemas, kemudian pingsan dan tak terasa tubuhku di bawa seseorang. []

***

hai! Balik lagi di cerita ini yeay! Coba yang udah baca jangan lupa buat vote, comment dan share ketemen kalian yaa! Akhirnya bisa lanjut cerita ini lagi hehe. Makasih yang udah mau baca.

30 votes for new chapter?

- adaptasi -

The Truth About AlanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang